Perutmu Sumber Penyakitmu: Ini Batas Makan yang Diajarkan Rasulullah

4 hours ago 4

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia

23 March 2026 06:30

Jakarta, CNBC Indonesia - Islam mengatur aktivitas makan umatnya dengan prinsip keseimbangan. Salah satu ajaran penting adalah bagaimana mengontrol perut agar tidak berlebihan.

Konsep ini bahkan sudah diajarkan sejak 1.400 tahun lalu oleh Nabi Muhammad SAW, dan kini semakin relevan di tengah gaya hidup modern yang cenderung konsumtif.

Prinsip Utama: Jangan Penuhi Perut

Rasulullah SAW memberikan peringatan tegas terkait kebiasaan makan berlebihan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Miqdām bin Ma'dī Karib disebutkan:

ما ملأ آدميٌّ وعاءً شرًّا من بطن، بحسب ابن آدم أكلات يُقمن صلبَه، فإن كان لا محالة، فثُلثٌ لطعامه، وثلثٌ لشرابه، وثلثٌ لنفَسِه

[Sahih] - [HR. Ahmad, Tirmizi, Nasai dan Ibnu Majah] - [Al-Arba'ūn An-Nawawiyyah - 47]

Ma mala'a adamiyyun wi'an syarran min bathn, bihasbi ibni Adam ukulat yuqimna shulbah, fa in kana la mahala, fa tsulutsun lita'amih, wa tsulutsun lisyarabih, wa tsulutsun linafasih.

"Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk yaitu perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas"

Hadis tersebut menekankan bahwa perut yang terlalu penuh justru bisa menjadi sumber masalah, baik secara fisik maupun spiritual. Bahkan, Islam tidak menganjurkan makan sampai kenyang. Cukup beberapa suap saja yang penting bisa menopang tubuh untuk beraktivitas.

Salah satu konsep paling terkenal dalam Islam adalah pembagian isi perut menjadi sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara atau ruang bernapas.

Secara sederhana, ajaran ini menekankan agar tidak makan berlebihan dan selalu menyisakan ruang dalam perut supaya tubuh tetap nyaman dan sehat. Menariknya, prinsip ini juga selaras dengan ilmu kesehatan modern yang menekankan pentingnya pengaturan porsi makan agar sistem pencernaan tidak bekerja secara berlebihan.

Perut Penuh Adalah Sumber Penyakit

Dalam literatur keislaman, perut yang terlalu penuh bahkan disebut sebagai sumber penyakit. Hal ini karena makan berlebihan dapat memicu berbagai masalah, mulai dari gangguan pencernaan, rasa malas dan lemas, hingga penurunan produktivitas.

Secara spiritual, kondisi tersebut juga membuat seseorang lebih sulit fokus dalam beribadah. Karena itu, Islam menekankan pentingnya makan secukupnya, bukan sebanyak-banyaknya.

Prinsip lain yang ditekankan adalah makan hanya saat benar-benar lapar dan berhenti sebelum kenyang. Pola ini kini dikenal dalam dunia kesehatan modern sebagai mindful eating, yakni kesadaran penuh terhadap asupan makanan untuk menjaga keseimbangan tubuh dan menghindari konsumsi berlebihan.

Tak hanya soal porsi, Islam juga mengatur adab makan. Beberapa di antaranya adalah membaca doa sebelum dan sesudah makan, menggunakan tangan kanan, tidak makan sambil berdiri, serta menghindari sikap berlebihan. Makan bersama juga dianjurkan karena diyakini membawa keberkahan.

Dari sisi pola konsumsi, Nabi Muhammad SAW mencontohkan gaya hidup sederhana. Makanan yang dikonsumsi sehari-hari umumnya terdiri dari kurma, air, roti gandum, dan susu. Pola ini mencerminkan kesederhanaan sekaligus keseimbangan nutrisi, tanpa berlebihan atau bermewah-mewahan.

Secara keseluruhan, ajaran makan dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan asupan fisik, tetapi juga pengendalian diri. Prinsip utamanya adalah tidak rakus, tidak berlebihan, menjaga keseimbangan, serta mengutamakan kesehatan dan kualitas ibadah.

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |