Peneliti Temukan Pengganti Freon, AC-Kulkas Siap-Siap Berubah

6 hours ago 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Para ilmuwan telah menemukan inovasi teknologi pendingin ruangan baru guna menggantikan penggunaan zat kimia berbahaya seperti hydrofluorocarbons (HFC) atau freon. Berdasarkan laporan IFL Science, mekanisme pendinginan tradisional umumnya mengandalkan perpindahan suhu panas dari dalam ruangan melalui bantuan cairan penyerap panas khusus.

Zat cair tersebut akan berubah fase menjadi gas untuk kemudian dialirkan dalam sebuah sistem tertutup, lalu dikondensasikan kembali menjadi bentuk cair agar proses pendinginan dapat terus berulang secara terus-menerus.

Peneliti asal Lawrence Berkeley National Laboratory dari University of California, Berkeley mengembangkan cara baru untuk menyerap dan memindahkan energi panas.

Model yang mereka gunakan memanfaatkan cara energi tersimpan dan dilepas saat material berubah bentuk, contohnya seperti saat es berubah menjadi air.

Jika suhu ruangan naik, es akan mencair. Pada saat yang sama, es yang mencair menyerap panas dari sekitarnya sehingga membuat ruangan menjadi dingin.

Untuk mencari alternatif proses pendinginan, peneliti fokus menemukan cara "mencairkan es" tanpa meningkatkan suhu. Metode yang ditemukan adalah dengan menambahkan partikel yang berisi energi yang dikenal sebagai ion.

Proses pencairan menggunakan partikel ion ini contohnya adalah saat garam digunakan untuk mencegah terbentuknya es di jalan raya ketika musim dingin di negara-negara empat musim. Siklus perubahan bentuk ini diberi nama siklus ionokalori (ionocaloric cycle).

"Belum ada solusi alternatif yang sukses menciptakan dingin, yang bekerja dengan efisien, memenuhi aspek keselamatan, dan tidak berdampak buruk untuk lingkungan. Kami pikir siklus ionocalori punya potensi," kata Drew Lilley dari Lawrence Berkeley National Laboratory.

Tim peneliti telah menguji coba garam yang dibuat menggunakan yodium dan natrium untuk mencairkan etilena karbonat. Cairan yang diproduksi memanfaatkan karbon dioksida ini juga digunakan dalam baterai lithium-ion. Artinya, proses pembuatannya tidak hanya nol emisi, tetapi emisi negatif.

Dalam uji coba itu, temperatur berubah hingga 25 derajat Celcius dengan hanya "charge" sebesar 1 volt.

Kini, peneliti tengah menciptakan sistem praktis yang bisa terapkan secara komersial. Salah satu pengembangannya adalah mencari "garam" yang paling efektif untuk menarik panas dari ruang. Pada 2025, peneliti menemukan bahwa garam yang paling efisien adalah garam yang berbasis nitrat.

(pgr/pgr)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |