Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah resmi meluncurkan Buku Saku 0%: Manfaat dan Penerima Dukungan Kesejahteraan Tahun 2026. Buku itu berisi data penerima manfaat program Presiden Prabowo Subianto di bidang kesejahteraan masyarakat.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Angga Raka Prabowo menjelaskan, Buku Saku 0% sejalan dengan upaya dari pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Buku tersebut berisikan informasi yang tepat atas dampak program yang dijalankan.
"Sesuai dengan tugas dan fungsi Badan Komunikasi, kami harus memastikan bahwa setiap informasi, setiap kebijakan, setiap langkah pemerintah yang diambil khususnya untuk kesejahteraan ini sampai kepada penerima manfaat," kata Angga Raka dalam konferensi pers di Situation Room, Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (8/6/2026).
Dalam kesempatan itu, dia juga bercerita beberapa program yang telah berhasil memberikan manfaat kepada masyarakat. Seperti Sekolah Rakyat yang kini bisa menampung anak-anak yang keluarganya tidak mampu memberikan pendidikan formal.
"Dan Alhamdulillah dengan program Sekolah Rakyat, anak-anak itu bisa merasakan sekolah," ujar Angga Raka.
Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari mengatakan, Buku Saku 0% merupakan upaya pemerintah untuk memperkuat transparansi, dalam hal penyampaian informasi kebijakan secara ringkas.
"Buku ini dihadirkan untuk memudahkan masyarakat mengetahui dan mengakses berbagai dukungan pemerintah. Banyak sekali tadi teman-taman lihat ya, untuk 0% kemiskinan saja ada 17 program, belum lagi yang universal dan lain sebagainya," kata Qodari.
Qodari juga mengatakan, buku ini memberikan penjelasan atas arah besar program Presiden Prabowo untuk dukungan kesejahteraan yang berkelanjutan.
"Negara tidak hanya hadir saat rakyat menghadapi kesulitan tapi juga memastikan rakyat tumbuh sehat, memperoleh pendidikan, bekerja secara mandiri, hingga hidup sejahtera," katanya.
Buku Saku 0%, menurut Qodari, memuat integrasi program dukungan kesejahteraan rakyat yang diintegrasikan melalui Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Selain itu juga memuat kondisi kesejahteraan sosial Indonesia saat ini.
Tertulis bahwa sebagian besar masyarakat berada kelompok menuju kelas menengah atau mencapai 141,95 juta orang. Meskipun masih ada 67,9 juta orang dalam kondisi rentan miskin, dan 23,85 juta orang berada dalam kategori miskin.
"Meskipun jumlahnya sudah relatif kecil, secara presentase sangat kecil nol koma sekian persen. Tapi masih terhadap 2,38 juta orang yang berada dalam kondisi miskin ekstrem. Ini tantangan kita saat ini bukan hanya menurunkan angka kemiskinan ekstrem, tapi juga menjaga agar kelompok rentan tidak kembali jatuh ke bawah," ujarnya.

















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452570/original/017450600_1766406793-IMG_2730_1_.jpeg)