Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) memperkuat kontribusinya dalam memudahkan akses keuangan berbasis syariah untuk masyarakat. Hal ini tercermin dari kinerja positif BSI sepanjang 2025, terutama dari sisi penyaluran pembiayaan.
BSI mencatat hingga Desember 2025, pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp 318,84 triliun, atau naik 14,49% year on year (YoY) dengan distribusi mayoritas ke segmen pro-rakyat yakni small medium enterprises (SME), mikro, konsumer, komersial di bidang pendidikan dan kesehatan, ASN dan BUMN dengan total outstanding Rp 285,70 triliun atau 90% dari total outstanding pembiayaan.
Direktur Risk Management BSI Grandhis H. Harumansyah menuturkan, hingga Desember 2025 kinerja pembiayaan BSI tumbuh hampir dua kali lipat dibandingkan rata-rata pertumbuhan industri pembiayaan nasional. Hasil ini turut mendorong peningkatan pangsa pasar (market share) pembiayaan BSI dibandingkan perbankan nasional dan syariah.
Saat ini market share pembiayaan BSI terhadap perbankan nasional berada di level 3,72% atau meningkat dari tahun-tahun sebelumnya.
"Sedangkan market share pembiayaan BSI dibandingkan dengan perbankan syariah, posisi November 2025 telah mencapai 46,1%. Jadi hampir separuh dari total pembiayaan yang disalurkan oleh perbankan syariah di 2025 separuhnya disalurkan oleh BSI," ungkap Grandhis, dikutip Jumat (13/3/2026).
Dia melanjutkan, pertumbuhan ini bisa dicapai berkat strategi mitigasi risiko yang baik. Hal ini membuat kualitas pembiayaan yang disalurkan BSI dapat terjaga dengan baik yang tercermin dari indikator Non Performing Financial (NPF) Gross di level 1,81% atau lebih baik dari tahun lalu serta NPF Nett di level 0,47%. Perbaikan kualitas pembiayaan tersebut tak lepas dari upaya pengelolaan manajemen risiko yang tepat oleh BSI, sesuai segmentasi bisnis dan nasabah serta disiplin memonitor perkembangan industri.
Lebih lanjut, melalui penyaluran pembiayaan, BSI turut mendukung program perekonomian pemerintah. Dalam konteks ini, BSI ikut terlibat dalam program penyaluran penempatan dana SAL dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sebesar Rp 10 triliun, yang mana kumlah ini telah tersalurkan 100% oleh perseroan pada 2025.
Di samping itu, dukungan juga diberikan BSI untuk program makan bergizi gratis (MBG). Saat ini, terdapat kurang lebih sekitar 1.350 virtual account BSI dari para mitra MBG yang digunakan untuk transaksi harian terkait program strategis tersebut.
BSI juga mendukung aspirasi pemerintah untuk membangun 80.000 Koperasi Desa Merah Putih, serta turut menyalurkan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk sekitar 90.000 nasabah dengan total nominal sekitar Rp 12,2 triliun.
Tak hanya itu, BSI mendukung program 3 juta rumah atau Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Sejak periode awal merger sampai dengan saat ini, BSI telah menyalurkan pembiayaan FLPP sebesar Rp 3,5 triliun dengan jumlah rumah yang dibiayai sebanyak 23.000 unit.
Sementara itu, Direktur Finance & Strategy BSI Ade Cahyo mengatakan, pihaknya bersyukur BSI mencetak laba yang positif yakni mencapai Rp 7,56 triliun atau tumbuh 8%, sehingga menjadikan BSI masuk jajaran 5 besar bank dengan pertumbuhan kinerja tertinggi. Hasil tersebut tidak lepas dari beberapa perkembangan terkini, khususnya dari peningkatan fee based income yang mencapai 25%.
"Peningkatan fee based income ini memang secara lebih detail dikontribusi oleh produk-produk baru kita terutama yang berkaitan dengan emas," ucapnya.
Sebagaimana diketahui, pada Februari 2025 BSI diberikan lisensi sebagai bullion bank. Hal ini berdampak terhadap positif terhadap peningkatan nasabah BSI yang menggunakan tabungan emas.
Tak ketinggalan, peningkatan profitabilitas ini juga didorong oleh penurunan cost of fund. Belum lagi, produk-produk seperti cicil emas serta pembiayaan untuk payroll ASN juga memberikan dampak yang positif karena memiliki yield dan kualitas yang sangat baik.
(dpu/dpu)
Addsource on Google

















































