Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memiliki kebijakan untuk menyesuaikan produksi mineral khususnya nikel tahun 2026 ini. Hal ini upaya menjaga umur cadangan nikel di dalam negeri.
Sekretaris Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Sesditjen Minerba) Siti Sumilah Rita Susilawati membeberkan alasan di balik kebijakan penyesuaian produksi batu bara dan nikel melalui persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026.
Salah satu alasannya adalah untuk memperpanjang usia cadangan nikel dalam negeri. Menurut perhitungannya, jika nikel diproduksi mencapai sekitar 300 juta ton per tahun, ketahanannya diperkirakan hanya sekitar 19-20 tahun.
"Untuk nikel, lebih sedikit lagi. Nikel itu, umur cadangannya itu hanya 19 tahun 20 tahunan lah dengan tingkat produksi tahun lalu 300 (juta ton) gitu. Nah, ini kita ingin melihat nih pemerintah oleh karena itu dilakukan penyesuaian (produksi)," kata Rita dalam Mining Forum CNBC Indonesia, "Apa Kabar Industri Tambang RI?", dikutip Senin (9/3/2026).
Selain nikel, batu bara juga dipangkas produksinya untuk tahun 2026 ini. Adapun, saat ini cadangan batu bara Indonesia diperkirakan masih bertahan sekitar 39 tahun dengan produksi saat ini yang mencapai sekitar 800 juta ton per tahun.
Alasan lainnya, kata Rita, terdapat ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan global untuk komoditas batu bara maupun nikel pada tahun lalu.
Hal itu lantas membuat suplai berlebih sehingga berdampak pada penurunan harga. Kedua adalah untuk menjaga keseimbangan pasar. Menurut dia, sekalipun Indonesia menyuplai sekitar 60% kebutuhan batu bara global, namun Indonesia tetap tidak bisa mengontrol harga.
"Yang jelas ketika menyeimbangkan produksi dan permintaan itu sebagai pensuplai global signifikan kita bisa mempengaruhi harga," ujarnya.
"Kebijakan ini diambil dengan segala macam risiko. Pemerintah memastikan kepastian usaha. Bukan tidak didengar, ini disimpan dulu. Ini masih penyesuaian nanti evaluasi dan akan bisa diajukan revisi RKAB di Juni-Juli," tandasnya.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno menjelaskan bahwa pengendalian produksi nikel dan batu bara Tanah Air sangat krusial. Menurut catatannya, total cadangan nikel Indonesia saat ini tersisa sekitar 5 miliar ton.
Ia memperingatkan bahwa jika eksploitasi dilakukan secara masif, ketahanan cadangan nikel Indonesia diprediksi akan habis dalam waktu kurang dari dua dekade.
"Kalau terus-terusan, terus habis itu kita ibaratnya dikuras terus-terusan, kita nggak sampai 20 tahun habis. Selesai. Nah ini sambil mencari cadangan baru, kita juga ngerem," ujar Tri saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, dikutip Rabu (4/3/2026).
Menurutnya, Indonesia saat ini memegang peran vital sebagai produsen 65% nikel dunia. Namun, besarnya produksi tersebut sempat menyebabkan kelebihan pasokan hingga 250 ribu ton nikel, yang mengakibatkan harga komoditas ini tertekan di level rendah sekitar US$ 14.000-15.000 per ton dalam beberapa tahun terakhir.
"Ini kita yang punya barang tapi kita nggak bisa ngapa-ngapain gimana? Oh ternyata oversupply kemarin sekitar 250 ribu ton Ni. Jadi kita berusaha untuk ke sana (mengontrol harga)," tambahnya.
Strategi pengendalian suplai melalui pemangkasan produksi dinilai mulai menunjukkan dampak positif terhadap pergerakan harga pasar.
Tri menyebutkan bahwa pasca sinyal pembatasan produksi disampaikan oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, harga nikel mulai merangkak naik ke level US$ 17.000 per ton hingga sempat menyentuh US$ 18.000 per ton.
"Bukan ketahanan cadangan saja. Sekarang ginilah, Cina itu dia nggak nambang nikelnya. Nah terus sementara nanti kita nambang terus-terusan, terus habis itu pada saat harga tinggi, udah nggak ada kita terus gimana? Sumber daya alam apa yang kita kira-kira bisa mensubstitusi untuk penerimaan kita atau untuk tenaga kerja kita," jelas Tri.
(pgr/pgr)
Addsource on Google
















































