Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
21 January 2026 11:40
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar gula global memasuki 2025/2026 dengan arah pasokan yang membaik.
USDA Foreign Agricultural Service menunjukkan produksi gula dunia diproyeksikan mencapai 189,3 juta ton, naik 8,3 juta ton dibanding musim sebelumnya.
Kenaikan ini menandai pemulihan setelah periode ketat yang dipicu cuaca ekstrem dan gangguan produksi di sejumlah negara utama.
Namun, kenaikan produksi ini tidak serta-merta mengubah karakter pasar gula. Struktur pasokan tetap terkonsentrasi pada beberapa produsen besar, sementara konsumsi global bergerak stabil. Artinya, surplus bersih tidak benar-benar tercipta. Pasar memang lebih longgar dibanding tahun lalu, tetapi masih sensitif terhadap perubahan cuaca, energi, dan kebijakan perdagangan.
Pendorong utama kenaikan produksi global datang dari Brasil dan India. Produksi Brasil diperkirakan naik 700 ribu ton menjadi 44,4 juta ton, didukung cuaca yang lebih kondusif dan rendemen tebu yang membaik. Yang penting dicatat, bauran produksi Brasil kini condong ke gula, dengan porsi 51% dialokasikan ke gula dan 49% ke etanol. Pergeseran kecil ini cukup signifikan mengingat posisi Brasil sebagai eksportir gula terbesar dunia.
India mencatat pemulihan yang lebih tajam. Produksi gula diperkirakan melonjak 26% secara tahunan menjadi 35,3 juta ton. Kenaikan ini terjadi setelah El Niño menekan produksi pada musim sebelumnya.
Curah hujan yang kembali normal, perluasan area tanam, dan perbaikan hasil panen mendorong rebound suplai. Konsumsi domestik India ikut meningkat, terutama dari sektor jasa makanan, namun kenaikan produksi masih cukup untuk mendorong ekspor dan penambahan stok.
Di sisi lain, Uni Eropa bergerak berlawanan arah. Produksi gula UE diproyeksikan turun 5% menjadi 15,5 juta ton, seiring penyusutan area tanam bit gula sekitar 8% di negara produsen utama seperti Prancis dan Jerman. Penurunan ini membuat UE meningkatkan impor dan menekan volume ekspor. Dengan kontribusi UE yang melemah, pasar global semakin bergantung pada pasokan dari Brasil dan India.
Thailand kembali memperkuat posisinya sebagai eksportir regional. Produksi diperkirakan naik 2% menjadi 10,3 juta ton, ditopang peningkatan produksi tebu dan hasil per hektare.
Konsumsi domestik relatif datar, sehingga tambahan produksi langsung mengalir ke ekspor yang diperkirakan mencapai 7 juta ton. Stok Thailand justru menyusut, mencerminkan agresivitas ekspor di tengah harga global yang masih menarik.
Dari sisi stok global, USDA memperkirakan ending stocks dunia meningkat, terutama di India dan China.
China sendiri diproyeksikan menaikkan produksi menjadi 11,5 juta ton, dengan kenaikan stok hampir 50% menjadi 2,4 juta ton karena produksi tumbuh lebih cepat dibanding konsumsi. Kenaikan stok ini memberi bantalan tambahan bagi pasar, tetapi skalanya belum cukup besar untuk menciptakan tekanan harga jangka panjang.
Kondisi produksi yang lebih longgar tercermin langsung pada stok akhir global. Stok gula dunia naik dari 41,19 juta ton (estimasi Mei) menjadi 44,54 juta ton (estimasi November) untuk 2025/26. Kenaikan stok terutama terkonsentrasi di Thailand (9,99 juta ton) dan India (8,55 juta ton). Sebaliknya, Indonesia tetap stagnan di 1,6 juta ton, mencerminkan lemahnya bantalan pasokan domestik.
Perdagangan internasional semakin terkonsentrasi. Total ekspor gula dunia diperkirakan mencapai 66 juta ton, dengan Brasil menguasai lebih dari separuh ekspor global. Negeri Samba itu diproyeksikan mengekspor 35,7 juta ton, jauh meninggalkan Thailand (7 juta ton) dan India (4,5 juta ton). Kembalinya India sebagai eksportir menjadi sinyal penting, meski volumenya masih jauh di bawah level puncak beberapa tahun lalu.
Di sisi impor, permintaan tetap kuat di Asia dan Afrika. China menjadi importir terbesar dengan 5,3 juta ton, disusul Indonesia 5,15 juta ton.
Posisi Indonesia sebagai importir terbesar kedua dunia menegaskan defisit struktural gula nasional. Kenaikan produksi domestik belum mampu mengejar konsumsi yang besar, sementara stok dalam negeri tidak memberikan ruang manuver berarti.
Dari perspektif pasar, kenaikan stok global seharusnya memberikan bantalan terhadap lonjakan harga ekstrem.
Namun dominasi Brasil dalam ekspor membuat pasar tetap sensitif terhadap keputusan alokasi tebu antara gula dan etanol. Di sisi lain, struktur impor Indonesia yang besar dan relatif inelastis menjadikan harga domestik sangat rentan terhadap dinamika global.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)

































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364914/original/063859900_1759130580-VERSACE-SS26-VOGUE-Look-46.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5362059/original/092579700_1758811905-SnapInsta.to_553663603_18536090935026372_905938934458990618_n.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5359671/original/082284100_1758685809-photo-grid_-_2025-09-24T103429.395.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376259/original/088782800_1759997793-WhatsApp_Image_2025-10-09_at_13.39.14.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5373084/original/079052200_1759811895-Screen_Shot_2025-10-07_at_11.01.27.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5361448/original/038613700_1758785499-IMG_8010.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5369001/original/085236400_1759406467-SnapInsta.to_555481163_18532398187013272_6664089544305469244_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5370734/original/022662200_1759567872-photo-grid_-_2025-10-04T154007.080.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376485/original/009100400_1760005395-IMG_8656_1_.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5362593/original/012088200_1758870749-SnapInsta.to_554970664_18531253585044788_6884355646330134604_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5367327/original/045448600_1759303825-250930_-_JIMIN__2_.jpg)