Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia telah resmi menutup tahun 2025 dan memasuki tahun 2026. Lalu bagaimana outlook-nya?
Berikut rangkuman CNBC Indonesia dari beragam sumber, Jumat (2/1/2025).
1.Satu Planet Tapi Dunia Terbelah Dunia?
Bumi tetap satu planet. Namun di 2026, dunia tetap akan terbagi dua, merujuk kelompok miskin dan kaya.
Mengutip data Bank Dunia, bagi 700 juta orang yang bangun setiap hari dalam kemiskinan ekstrem, bertahan hidup dengan kurang dari US$2,15, adalah nyata. Bagi 3,5 miliar orang yang hidup dengan kurang dari US$6,85 per hari, kemakmuran bersama terdengar hampa.
Sementara itu, di dunia yang sama sekali berbeda, kekayaan miliarder tumbuh sekitar US$2,2 triliun hanya dalam setahun terakhir. Merujuk Oxfam, ini mendorong total kepemilikan menjadi sekitar US$15,6 triliun.
Untuk melepaskan 3,8 miliar orang keluar dari kemiskinan akan membutuhkan sekitar US$1,65 triliun setiap tahun. Anak yang lahir dalam kemiskinan saat ini menghadapi harapan hidup yang lebih pendek, kesempatan pendidikan yang lebih sedikit, dan kerentanan yang lebih besar terhadap setiap krisis yang mengikutinya, mulai dari penyakit hingga pengungsian hingga bencana iklim.
Utang pemerintah yang terus meningkat pun memperparah tekanan. Utang pemerintah AS menurut Komite Ekonomi Gabungan Kongres misalnya, mencapai US$38,4 triliun pada Desember 2025, naik lebih dari US$2 triliun dalam satu tahun.
Angka-angka tersebut mempersempit ruang bagi pemerintah untuk menanggapi kebutuhan rakyatnya. Bahkan ketika kebutuhan tersebut semakin mendesak.
2.Cuaca Menjadi Musuh?
Perubahan iklim bukan lagi peringatan yang jauh. Selama pertengahan 2025 saja, badai, banjir, tanah longsong, kekeringan, dan cuaca ekstrem lain, menurut data Munich Re, menyebabkan kerugian dunia hingga US$131 miliar.
Organisasi Meteorologi Dunia mengkonfirmasi tahun 2025 sebagai tahun terhangat kedua dalam 175 tahun catatan. Ada lebih dari 150 peristiwa cuaca ekstrem besar yang dilacak oleh para peneliti.
Bank Dunia pada Desember 2025 juga mengaitkan kekeringan dan banjir akibat perubahan iklim secara langsung dengan menurunnya ketersediaan pangan rumah tangga dan meningkatnya risiko kekurangan gizi. Selama dekade terakhir, penelitian yang didukung PBB telah mendokumentasikan sekitar 250 juta pengungsi internal yang disebabkan oleh bencana terkait cuaca, di mana rata-rata lebih dari 67.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka setiap hari.
Sementara itu, mengutip The Guardian, Kantor Meteorologi Inggris mengatakan suhu lebih dari 1,4°C, di atas tingkat pra-industri, akan terjadi di 2026. Karena polusi bahan bakar fosil terus memanaskan Bumi dan memicu cuaca ekstrem.
Kantor Meteorologi memperkirakan tahun 2026 akan lebih panas antara 1,34°C dan 1,58°C daripada rata-rata dari tahun 1850-1900. Peristiwa bencana karena alam juga akan lebih sering terjadi.
3.Trump yang Tak Begitu 'Bergigi'?
Kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diyakini tetap akan sama di 2026. CNN Internasional menulis bagaimana satu tahun ke depan, "gangguan" dari Trump mungkin akan datang.
"Tidak ada tanda-tanda normalitas akan kembali pada tahun 2026," tulis laman itu.
Namun, CNN meyakini mungkin tahun ini, Trump tidak akan mendapatkan semua keinginannya di tahun 2026. Ada tanda-tanda aksi "suka-suka" Trump mulai runtuh.
Salah satunya dilihat dari peringkat persetujuan Trump telah anjlok ke level terendah di masa jabatan keduanya. Saat ini, tingkat persetujuan hanya 38% dalam rata-rata jajak pendapat CNN.
Publik AS, disebut laporan itu, telah menyimpulkan bahwa Trump telah mengabaikan janji kampanyenya untuk menurunkan harga. Beberapa anggota Republik, juga menjadi "pembangkang" slogan Trump Make America Great Again (MAGA), seperti anggota DPR Georgia, Marjorie Taylor Greene.
"Mereka mengecam manuver kekuasaan global Trump yang luas sebagai pengkhianatan terhadap 'America First'," muat laman itu.
"Tahun depan mungkin akan menentukan apakah seorang presiden yang telah menentang setiap norma lain di kantornya dapat menutup kebocoran kekuasaan yang mengubah presiden masa jabatan kedua menjadi presiden yang lemah," muat laman itu lagi.
Kesehatan Trump juga disorot. Trump akan berusia 80 tahun pada bulan Juni.
Perlu diketahui, ia beberapa kali tampak tertidur dalam acara-acara Gedung Putih. Muncul memar di punggung tangannya dan kesulitannya menjelaskan mengapa ia menjalani MRI jadi penyebab lain.
"Dalam sebuah wawancara dengan Wall Street Journal ia telah menjalani CT scan dan bukan MRI seperti yang sebelumnya ia nyatakan. Dokter Trump mengatakan kepada Journal bahwa pemindaian tersebut dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan masalah kardiovaskular dan tidak menunjukkan kelainan apa pun. Trump dan para pembantunya mengatakan bahwa ia dalam kondisi fisik yang sangat baik," tulis laman itu lagi.
Kemenangan oposisi, Partai Demokrat, dalam pemilihan paruh waktu juga akan memberikan rezim investigasi yang menghancurkan bagi Trump di tahun-tahun terakhir masa jabatannya. Lonjakan inflasi atau percepatan kehilangan pekerjaan dapat memberikan tantangan yang mustahil bagi Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu.
4. Kecerdasan Buatan (AI) yang Membahayakan?
Tahun 2026 akan menjadikan kecerdasan buatan (AI) bukan sebagai fiksi ilmiah tetapi sebagai kekuatan yang telah membentuk kembali cara orang bekerja, apa yang mereka peroleh, dan apakah pekerjaan mereka akan ada di masa depan. IMF bahkan telah memperingatkan bahwa AI dapat memengaruhi hampir 40% pekerjaan di seluruh dunia, sebuah transformasi yang mengancam untuk memperdalam ketidaksetaraan jika masyarakat gagal melatih kembali pekerja dan memperkuat perlindungan sosial.
Namun, di sisi positifnya, regulasi banyak pemerintah negara mulai mengejar ketertinggalan. Undang-Undang AI Eropa akan sepenuhnya berlaku pada 2 Agustus 2026, menciptakan kerangka kerja kontinental komprehensif pertama di dunia yang mengatur kecerdasan buatan, termasuk persyaratan transparansi dan perlindungan untuk sistem berisiko tinggi.
Namun, bahaya baru muncul lebih cepat daripada yang dapat diatasi oleh peraturan. Badan keamanan siber Eropa, ENISA misalnya, telah memperingatkan bahwa hampir 70% kerentanan yang diketahui sekarang menyebabkan intrusi, membuat infrastruktur, pemilihan umum, dan lembaga publik rentan.
Disinformasi yang didorong oleh AI, lebih murah dan lebih meyakinkan dari sebelumnya. Ini akan mengancam untuk mengikis realitas bersama yang menjadi sandaran masyarakat demokratis.
5.Perang Tanpa Akhir?
Konflik yang terjadi di 2025, diyakini akan tetap berlanjut di 2026. Korban jiwa bahkan akan terus meningkat.
Di Gaza, Palestina misalnya, gencatan senjata tetap rapuh, akses kemanusiaan terbatas, dan korban sipil terus berlanjut. Di Ukraina, sinyal-sinyal awal menuju negosiasi telah muncul, tetapi sengketa teritorial dan jaminan keamanan jangka panjang tetap belum terselesaikan, membuat jutaan orang berada dalam ketidakpastian antara perang dan perdamaian yang tidak pasti.
Sudan telah menjadi krisis pengungsi terbesar di dunia, melampaui Suriah, sebuah tonggak suram yang menunjukkan bagaimana konflik dan tekanan iklim kini saling terkait, masing-masing memicu yang lain dalam siklus penderitaan. Belum lagi gesekan perbatasan tetangga, seperti India-Pakistan atau Kamboja-Thailand.
Semakin ekspansifnya China di Laut Laut China Timur (LCT) dan China Selatan (LCS) dan yang membuat ketegangan muncul dengan Filipina dan Taiwan, yang keduanya didukung AS. Pengembangan nuklir Korea Utara (Korut) juga masih akan menjadi ancaman di 2026.
6.Negara Masuk Jurang Resesi?
Sejumlah negara diyakini akan masuk ke jurang resesi, atau setidaknya mengalami perlambatan ekonomi di 2026. Hal ini dimuat laman Newsweek.
Pertama adalah AS. Amerika menjadi salah satu negara yang disorot memiliki risiko perlambatan ekonomi pada 2026.
Kebijakan tarif Presiden Donald Trump yang diumumkan pada April, dikenal sebagai "Liberation Day" menjadi salah satu penyebab. Meski risiko agak mereda pasca pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang kuat pada kuartal kedua dan ketiga, namun, para ekonom menilai risiko tidak berhenti pada dampak tarif semata, karena efek kebijakan tersebut masih akan terasa hingga 2026.
Sejumlah analis juga menyoroti masalah struktural yang berpotensi mendorong AS ke jurang resesi. Ekonom veteran Gary Shilling, yang sebelumnya termasuk pihak awal yang memperingatkan gelembung perumahan menjelang Krisis Keuangan Global 2007, menyebut konsumen AS saat ini "terjerat utang hingga ke leher".
Ia menggambarkan kondisi ekonomi AS sebagai "lingkungan yang sudah mendatar" dan rentan terguncang oleh kejutan apa pun, terutama jika gelembung kecerdasan buatan (AI) pecah. Khusus AI, ini juga dikatakan sejumlah analis lain seperti ekonom Harvard, Jason Furman serta Dean Baker, ekonom dan salah satu pendiri Center for Economic and Policy Research (CEPR).
Kedua, Eropa dan Inggris juga rentan mengalami pelemahan pertumbuhan, lebih lambat dibandingkan rata-rata global sebesar 3,1% yang diproyeksikan IMF. Hal ini meningkatkan kemungkinan terjadinya dua kuartal berturut-turut kontraksi PDB, kriteria teknis yang umum digunakan untuk mendefinisikan resesi.
Secara keseluruhan, prospek zona euro dinilai lesu karena kawasan tersebut bergulat dengan tingkat utang yang tinggi, ketidakpastian kebijakan perdagangan, serta dampak berkepanjangan dari perang Rusia di Ukraina.
Ketiga, China. Prospek negara ini juga dinilai lemah.
"Prospek China tetap rapuh," tulis IMF.
Laporan itu mencatat bahwa lebih dari empat tahun setelah pecahnya gelembung properti, sektor tersebut belum kembali stabil. Investasi real estat terus menyusut, sementara perekonomian berada di ambang siklus deflasi berbasis utang.
Selain masalah perumahan, muncul pula pertanyaan tentang seberapa lama China dapat terus mengandalkan ekspor manufaktur, terutama jika pengiriman barang ke AS terus menurun. Beijing selama ini memberikan subsidi besar pada sektor manufaktur, namun belum berhasil mendorong pertumbuhan permintaan domestik secara signifikan.
Hal sama juga akan terjadi ke Rusia. Rusia juga menghadapi tantangan berat.
Negara itu telah bertahun-tahun berada di bawah sanksi internasional sejak invasi ke Ukraina pada Februari 2022. Lonjakan belanja publik akibat perang, ditambah daya tarik ekspor energi, sempat mendorong pertumbuhan ekonomi signifikan pada 2023 dan 2024.
Namun, kondisi tersebut memunculkan pertanyaan apakah Moskow benar-benar mampu bertahan dari tekanan finansial Barat dalam jangka panjang. Tahun ini, pertumbuhan ekonomi Rusia melambat tajam.
Data badan statistik utama Rusia menunjukkan pertumbuhan hanya 0,6% secara tahunan pada kuartal ketiga, sejalan dengan proyeksi IMF dan bank sentral negara itu. Ke depan, IMF memperkirakan pertumbuhan Rusia pada 2026 tetap terbatas, sekitar 1%.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]




































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5341662/original/098956200_1757320693-downloadgram.org_542267009_18540863665047688_9096491130815971427_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5350528/original/058840100_1758002233-photo-grid__93_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5353128/original/096377000_1758167792-photo-grid__95_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5344964/original/048860200_1757498043-SnapInsta.to_542925017_18507421732067559_5151871554777586503_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5352375/original/018166900_1758096944-WhatsApp_Image_2025-09-17_at_15.07.23.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5347495/original/050755300_1757673613-IMG_7380.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5351851/original/048738800_1758086062-IMG_7555_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5352910/original/076610600_1758157369-IMG_7577.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5351417/original/068951900_1758045608-BFA_51324_7384772__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5350266/original/076491700_1757995157-SnapInsta.to_546540053_18524968894063594_7931903442728004517_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5349668/original/049756000_1757926989-IMG_7480.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5354481/original/000131800_1758254048-SnapInsta.to_550532843_18532039702063856_4593156665303489875_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5350396/original/089267200_1757998579-Screen_Shot_2025-09-16_at_11.34.09.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5351516/original/078179700_1758076746-SnapInsta.to_545099312_18521447413061924_5418179117334395922_n.jpg)