Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik geopolitik global tidak hanya berdampak pada harga energi, tetapi juga mulai mengganggu operasional teknis dan permintaan pasar di industri penerbangan. Asosiasi maskapai nasional, INACA, mengungkapkan tekanan yang kini dirasakan semakin kompleks.
Di tengah situasi tersebut, industri penerbangan Indonesia sebenarnya sempat mendapat angin segar melalui kebijakan pemerintah saat musim mudik Lebaran 2026.
"INACA sebagai Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional berterima kasih dan memberikan penghargaan kepada Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan," demikian disampaikan INACA dalam pernyataan resminya, Rabu (25/3/2026).
Kerja sama lintas pemangku kepentingan disebut menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran transportasi udara selama periode puncak arus mudik Idulfitri 2026.
"Yang telah bekerja sama dengan stakeholder penerbangan nasional dalam menjalankan program mudik Lebaran 2026 serta pemberian diskon harga tiket pesawat," lanjut INACA.
Namun, kondisi global yang memburuk kini mulai memberikan tekanan lanjutan, tidak hanya dari sisi biaya tetapi juga permintaan pasar.
"Mempertimbangkan kondisi industri penerbangan saat ini yaitu pengaruh dari konflik geopolitik antara US-Israel vs Iran yang membuat kondisi ekonomi internasional menjadi tidak kondusif," jelas INACA.
Salah satu dampak nyata terlihat pada rute internasional, terutama ke kawasan Timur Tengah dan Eropa. Maskapai harus menghindari wilayah konflik sehingga rute penerbangan menjadi lebih panjang.
"Terdapat penambahan biaya operasional maskapai yang melakukan penerbangan ke luar negeri karena harus melakukan rute memutar," ungkap INACA.
Di sisi permintaan, jumlah penumpang juga mengalami penurunan, khususnya pada rute umrah yang selama ini menjadi salah satu kontributor utama trafik internasional.
"Jumlah penumpang ke Timur Tengah terutama penerbangan umrah menjadi berkurang," kata mereka.
Tidak hanya itu, potensi wisatawan mancanegara ke Indonesia juga terancam menurun akibat kondisi global yang tidak menentu.
"Turisme ke Indonesia juga akan terdampak, baik dari Eropa maupun Timur Tengah," lanjut INACA.
Gangguan juga terjadi pada aspek teknis, khususnya dalam perawatan pesawat. Rantai pasok suku cadang mengalami keterlambatan yang cukup signifikan.
"Pengadaan spareparts untuk pesawat yang sedang dalam perawatan terganggu, di mana pengiriman yang sebelumnya 2-3 hari menjadi 7-10 hari," jelas INACA.
Selain waktu pengiriman yang lebih lama, biaya logistik juga meningkat akibat perubahan jalur distribusi yang lebih panjang dan kompleks.
"Dengan tambahan naiknya biaya pengiriman karena untuk menjamin keselamatan dan keamanan serta rute yang memutar lebih jauh," tambah mereka.
Melihat kondisi tersebut, INACA tidak hanya mengajukan penyesuaian tarif, tetapi juga meminta dukungan kebijakan dari pemerintah untuk menjaga keberlangsungan industri.
"Selain penyesuaian fuel surcharge dan TBA, kami mohonkan kebijakan stimulus temporer seperti penundaan PPn avtur dan tiket domestik, keringanan biaya bandara, serta rescheduling pembayaran biaya bandara dan navigasi," tutup INACA.
(wia)
Addsource on Google
















































