Kepada Pengusaha Sawit Indonesia, Silahkan Berpesta!

3 hours ago 2

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia

07 March 2026 13:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) terbang pekan ini. Kenaikan ini menjadi kabar Bahagia bagi Indonesia dan pengusaha sawit Tanah Air mengingat Indonesia adalah produsen terbesar sawit di dunia.

Kenaikan harga ini terjadi di tengah lonjakan harga energi dunia serta pelemahan nilai tukar ringgit Malaysia yang membuat harga CPO lebih kompetitif bagi pembeli internasional.

Merujuk Refinitiv, harga kontrak CPO acuan untuk pengiriman Mei di Bursa Malaysia Derivatives Exchange pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (6/3/2026) ditutup di posisi MYR 4.367 per ton, harganya melesat 3,8%. Harga ini adalah yang tertinggi sejak 24 Oktober 2025 atau lebih dari empat bulan.

Dalam sepekan, harga CPO melonjak 8,04%. Kenaikan sepekan ini adalah yang tertinggi sejak November 2024 atau setahun lebih.

CPO Jadi Minyak Nabati Termurah

Selain faktor eksternal, harga CPO juga mendapat dukungan dari meningkatnya daya saing dibanding minyak nabati lain. Saat ini, minyak sawit diperdagangkan dengan harga yang relatif lebih murah dibandingkan minyak kedelai, minyak rapeseed, maupun minyak bunga matahari.

Harga minyak sawit bahkan kini bergerak hampir selevel dengan harga gas oil, yang berpotensi meningkatkan permintaan baru terutama untuk sektor energi dan biofuel.

Namun, pasar juga tetap mencermati potensi gangguan distribusi minyak nabati global akibat konflik di Timur Tengah yang dapat mempengaruhi arus pengiriman komoditas.

Penguatan Pasar China dan Pelemahan Ringgit

Sentimen positif juga datang dari pergerakan pasar minyak nabati di China. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Dalian tercatat naik sekitar 1,13%, sementara kontrak minyak sawit di bursa yang sama melonjak 2,33%.

Sebaliknya, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade justru turun sekitar 0,65%. Meski demikian, secara umum pergerakan harga minyak nabati masih memberikan dukungan bagi CPO karena komoditas tersebut saling bersaing dalam pasar minyak nabati global.

Di sisi lain, pelemahan ringgit Malaysia sekitar 1,37% terhadap dolar AS pekan ini. Kondisi ini turut membantu menopang permintaan. Ringgit yang melemah membuat harga CPO menjadi relatif lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.

Kenaikan harga CPO juga ditopang oleh lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak brent melesat 28% sepekan sementara WTI terbang 35% sepekan ini. Kenaikan ini menjadi yang terbesar sejak 1983. Komoditas energi ini saling mensubstitusi sehingga harganya saling memengaruhi.

Secara teknikal, analis Reuters, Wang Tao memperkirakan harga CPO berpotensi menguji level resistensi di 4.260 ringgit per ton. Jika mampu menembus level tersebut, harga berpeluang melanjutkan kenaikan menuju kisaran 4.337 ringgit per ton.

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |