Kasus Campak di RI Mulai Turun, Kemenkes Ungkap Penyebabnya

8 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan tren kasus campak di Indonesia mulai menunjukkan penurunan. Hingga minggu ke-9 pemantauan, jumlah kasus tercatat turun signifikan dibanding pekan sebelumnya.

Kementerian Kesehatan mencatat hingga minggu ke-9 tahun 2026 terdapat 10.826 suspek dan 8.716 kasus campak di Indonesia. Penyakit ini bahkan memicu 45 kejadian luar biasa (KLB) di 29 kabupaten/kota di 11 provinsi.

Meski demikian, tren kasus mingguan mulai menunjukkan penurunan dalam beberapa pekan terakhir. Plt Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes dr. Andi Saguni mendata penurunan kasus pada pekan terakhir menjadi 231.

"Pada minggu ke-9 sempat tercatat 511 kasus, tetapi pada pekan terakhir jumlahnya sudah menurun menjadi 231 kasus," kata Andi di Kemenkes, Jakarta, Jumat (13/6/2026).

Ia mencatat, penurunan ini terjadi setelah pemerintah memperkuat berbagai langkah pengendalian, terutama melalui respons imunisasi di daerah yang mengalami kejadian luar biasa (KLB). Program imunisasi tersebut dilakukan di seluruh kabupaten dan kota yang terdampak.

Selain itu, pemerintah juga menjalankan program kejar imunisasi (catch-up campaign) di daerah yang tidak mengalami KLB tetapi sempat mencatat kenaikan kasus campak.

Andi menjelaskan, campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular. Satu orang penderita bahkan dapat menularkan virus tersebut kepada banyak orang lain di sekitarnya.

"Campak memiliki daya tular sangat tinggi. Satu kasus bisa menularkan ke sekitar 12 hingga 18 orang lainnya," jelasnya.

Kelompok yang paling rentan terhadap penyakit ini adalah anak balita, meskipun kasus juga dapat terjadi pada anak yang lebih besar maupun orang dewasa.

Untuk meningkatkan perlindungan, kata ia, pemerintah terus mendorong cakupan imunisasi campak pada anak. Andi menjelaskan, imunisasi dasar campak diberikan dua kali, yaitu pada usia 9 bulan dan 18 bulan.

Ia mengatakan, satu kali imunisasi pada usia 9 bulan memberikan perlindungan sekitar 80%. Namun jika anak menerima imunisasi kedua pada usia 18 bulan, tingkat perlindungan dapat meningkat hingga sekitar 97%.

Kemenkes juga mengingatkan orang tua untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala yang mengarah pada campak, seperti demam, batuk, pilek, hingga mata merah.

"Orang tua harus aware dengan kondisi anak balitanya. Jika ada gejala seperti demam, batuk, pilek, atau konjungtivitis yang mengarah ke campak, segera periksakan ke fasilitas pelayanan kesehatan," ujar Andi.

Ia juga mengimbau agar anak yang sedang sakit tidak diajak bepergian, terutama ke tempat ramai, karena berisiko menularkan virus kepada orang lain.

Selain imunisasi, masyarakat juga diminta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti rutin mencuci tangan dengan sabun dan menggunakan masker saat berada di keramaian.

Kemenkes menilai langkah imunisasi, edukasi kesehatan, serta penerapan PHBS menjadi kunci penting untuk menekan penyebaran campak di masyarakat.

(wur)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |