Amalia Zahira, CNBC Indonesia
04 March 2026 15:18
Jakarta, CNBC Indonesia - China menjadi negara utama yang menyerap minyak Iran dalam beberapa tahun terakhir. Dominasi ini didukung dengan 90.8% ekspor minyak Iran yang mengalir ke China, dengan nilai ekspor sekitar US$ 32.5 miliar atau sekitar Rp 549,3 triliun (US$1= Rp 16.900).
Sementara itu, hanya sebagian kecil minyak Iran yang dikirim ke negara lain seperti Suriah, Uni Emirat Arab, dan Venezuela.
Merujuk data statistik Energy Institute, Iran diperkirakan memproduksi 5,06 juta bare per hari. Sebagian kecil dikonsumsi di dalam negeri yakni 1,95 juta barel sementara sisanya sekitar 3,11 juta barel per hari.
Sanksi Barat Mengubah Peta Perdagangan
Akibat sanksi atas program nuklir Iran dan berbagai larangan berdagang dengan Iran yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat, banyak negara mitra dagang Teheran mulai mengurangi atau menghentikan hubungan ekonominya.
Akibatnya banyak negara menghentikan impor minyak dari negara tersebut, sehingga ekspor minyak Iran semakin terkonsentrasi pada sedikit pembeli yang bersedia mengambil risiko sanksi.
China menjadi pihak yang paling diuntungkan dari situasi ini. Banyak kilang independen di China membeli minyak Iran karena harganya lebih murah dibandingkan minyak Timur Tengah lainnya. Minyak mentah Iran biasanya diperdagangkan dengan diskon sekitar US$3-9 per barel dibandingkan harga acuan Brent.
Pemberian harga yang rendah ini dimungkinkan karena biaya produksi minyak Iran relatif murah, bahkan bisa mencapai sekitar US$10 per barel, jauh di bawah harga Brent yang berada di kisaran US$60 per barel.
Walau begitu, strategi diskon tersebut sebetulnya memberikan opportunity cost yang besar. Teheran diperkirakan kehilangan potensi pendapatan hingga miliaran dolar setiap tahunnya. Namun langkah ini terpaksa dijalankan oleh Iran untuk mempertahankan pasar ekspor yang kini semakin terbatas akibat sanksi internasional.
Ketergantungan Baru dalam Pasar Energi
Ketergantungan Iran pada China menciptakan hubungan yang sangat asimetris. Di satu sisi, Iran membutuhkan pasar China untuk mempertahankan pemasukan dari sektor minyak. Di sisi lain, China memperoleh pasokan energi dengan harga lebih murah sekaligus meningkatkan hegemoninya di Timur Tengah.
Di tengah sanksi internasional yang masih berlaku, Iran juga mengembangkan berbagai strategi untuk mempertahankan ekspor minyaknya. Beberapa di antaranya melalui penggunaan "shadow fleet" (kapal tanker yang berganti bendera atau identitas), ship-to-ship transfer di laut untuk menyamarkan asal minyak, dan mengubah dokumen kargo seolah-olah berasal dari negara lain.
(mae/mae)
Addsource on Google

















































