Harga RAM di RI Sebulan Naik 4 Kali Lipat, Begini Dampaknya

3 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis chip global ternyata sudah berdampak ke Indonesia. Kenaikan harga RAM tak bisa terelakkan di Tanah Air. Bahkan, dalam satu bulan bisa naik empat kali lipat.

Pantauan CNBC Indonesia di beberapa toko di ITC Kuningan, harga DDR 4 dan DDR 5 mengalami kenaikan yang beragam sejak akhir tahun lalu. Kenaikannya juga bertahap, bahkan ada yang mencapai 4 kali lipat kenaikannya.

"Seminggu tuh bisa 3-4 kali naik. Nah udah terus naik. Sebulan naik Rp 400 ribu, Rp 600 ribu, akhirnya jadi 100% bisa Rp 1 jutaan," kata seorang penjual yang ditemui CNBC Indonesia, Hasan, Selasa (20/1/2026).

Dia mengatakan kenaikan tersebut terjadi sejak Oktober 2025 lalu. Kemungkinan harga akan terus mengalami kenaikan hingga 2027 mendatang.

Untuk harga DDR 5 RAM 32GB saat ini mencapai Rp 7-8 juta. Sementara RAM 16GB mencapai lebih dari Rp 2 juta, saat sebelumnya hanya Rp 1 jutaan.

Hasan mengatakan pembelinya tidak punya pilihan untuk mengganti RAM dengan harga baru itu. Sebab aktivitas menggunakan laptop masih harus dilakukan.

"Pokoknya kalau laptop masih bisa dipakai, pakai saja. Kalau mati ya mau enggak mau. Karena kerjaannya di laptop," jelasnya.

Seorang penjual lainnya, Nasrun juga mengatakan harga baru ini tak membuat pembelinya menurun. Namun ada beberapa orang yang akhirnya menunggu hingga harga turun.

"Kalau turun sih enggak, mau enggak mau lah," ucap Nasrun.

Sejumlah penjual yang CNBC Indonesia juga mengatakan harga DDR 5 mengalami kenaikan sekitar Rp 1 jutaan. Begitu juga DDR 4 yang naik Rp 400 ribu hingga Rp 1jutaan.

Mereka mengatakan stok RAM juga masih tersedia. Sejauh ini tidak ada kelangkaan stok.

"Kadang ada, kadang enggak (stoknya). Naik harganya suka berubah-ubah," kata Nasrun.

Penyebab Krisis Chip Global

Terpisah, firma riset IDC memperkirakan pada semester I 2026 kesenjangan supply-demand akan makin parah sehingga memicu kelangkaan dan harga yang lebih tinggi.

"Kondisi ini diperkirakan mulai mereda pada semester II, tetapi harga akan tetap tinggi setidaknya sampai awal 2027," jelas Vanessa.

Penyebabnya antara lain pembangunan data center AI dalam jumlah besar untuk jangka pendek-menengah, serta para pemain utama memori yang telah mengalihkan ekspansi kapasitas dan investasi ke segmen hyperscale atau AI.

Permintaan chip AI yang tinggi membuat produsen memprioritaskan chip yang berkaitan dengan AI, sehingga 'mengesampingkan' produksi chip konvensional untuk perangkat elektronik konsumen seperti HP, laptop, dan peralatan rumah tangga. Padahal, permintaan chip AI maupun chip konvensional terus-menerus meningkat.

"Secara khusus, pasokan/manufaktur memori kelas bawah seperti DDR4, yang banyak digunakan pada smartphone entry-level, terus dikurangi," jelas Vanessa.

"Sementara transisi ke DDR5 belum terjadi secara masif, dan sekalipun ada, pemasok lebih memprioritaskan untuk hyperscale/AI," imbuhnya.

Pada saat yang sama, permintaan dari sisi klien smartphone, PC, dan lainnya, serta otomotif khususnya EV, tumbuh kuat, sehingga turut mendorong permintaan memori dan storage.

Di sisi lain, imbas kenaikan harga juga bisa merembet ke pasar perangkat bekas. Untuk smartphone, kenaikan di pasar resmi dapat memicu peningkatan permintaan di pasar second, yang pada akhirnya mengerek harga.

Adapun di sektor PC dan komponen PC, dampaknya diperkirakan lebih terasa karena pasar second sudah lebih matang.

(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |