Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah dunia masih bergerak sangat labil tetapi mulai melandai. Namun, tewasnya pejabat Iran Ali Larijani dikhawatirkan membuat gejolak baru dan kembali menyeret harga minyak.
Merujuk Refinitiv, pada perdagangan hari ini, Kamis (18/3/2026) pukul 08.38 WIB, harga minyak brent turun 0,82% ke US$ 102,57 per barel sementara harga WTI jatuh 1,32% ke US$ 94,94 per barel.
Jatuhnya harga minyak hari ini berbanding terbalik dengan kemarin.
Pada penutupan perdagangan Rabu kemarin (17/3/2026), harga minyak brent melesat 3,2% ke US$ 103,42 per barel sementara harga minyak WTI melonjak 2,9% ke US$ 96,21 per barel.
Meski melemah, harga minyak mentah tetap berada pada level tinggi dan masih bergerak di zona positif seiring konflik di Timur Tengah yang terus berlanjut.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dan tokoh penting dalam kepemimpinan masa perang Iran, telah tewas.
Konfirmasi Iran mengenai tewasnya tokoh penting keamanan nasional semakin memperbesar kekhawatiran pasar.
Kematian tersebut terjadi ketika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berupaya membuka kembali jalur perdagangan melalui Selat Hormuz.
Pemimpin AS itu sebelumnya meminta sekutu untuk mengerahkan kapal perang guna mengamankan jalur tersebut, yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Namun permintaan itu kemudian ditarik kembali setelah tidak memperoleh dukungan yang cukup.
"Pembunuhan Larijani sangat signifikan dan dapat meningkatkan tekad Iran untuk mengganggu pengiriman minyak," kata Aaron Stein, Presiden Foreign Policy Research Institute, dikutip dari Reuters.
"Jelas Trump berada di bawah tekanan untuk mengawal kapal tanker, sehingga kita mungkin akan menghadapi operasi AS yang lebih tegang, sesuatu yang kemungkinan besar ingin dihindari oleh Angkatan Laut AS."imbuhnya.
Harga minyak mentah AS telah melonjak lebih dari 60% sepanjang tahun ini, terutama setelah serangan awal terhadap Iran oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026.
Serangan balasan Teheran terhadap infrastruktur energi serta gangguan terhadap lalu lintas kapal tanker telah mendorong harga lebih tinggi dan memicu kekhawatiran inflasi.
Pekan ini Iran juga meningkatkan serangan di kawasan, termasuk serangan yang lebih berat ke Arab Saudi. Sebagian besar serangan terfokus di provinsi timur kerajaan tersebut, yang merupakan lokasi infrastruktur minyak penting.
Dengan Selat Hormuz masih ditutup, pemerintah Saudi mempercepat upaya menyalurkan minyak melalui pipa lintas negara menuju pelabuhan alternatif di Laut Merah.
Pasar minyak terus memantau perkembangan di Selat Hormuz yang masih terblokir.
Kondisi lalu lintas kapal saat ini dipengaruhi oleh pertimbangan politik, di mana Iran kemungkinan hanya mengizinkan sejumlah kapal tertentu melintas berdasarkan hubungan politik, sementara kapal lainnya dibatasi atau bahkan diblokir.
"Kami belum melihat tanda-tanda konflik akan berakhir. Dengan meningkatnya gangguan produksi dan Selat Hormuz yang masih tertutup, kami memperkirakan harga Brent akan bertahan di kisaran US$95-US$110 per barel," kata Robert Rennie, Kepala Riset Komoditas Westpac.
"Jika kilang besar terkena serangan atau ada konfirmasi tambahan mengenai ranjau di selat tersebut, kisaran harga bisa naik lagi US$10-US$20 per barel," tambahnya.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(mae/mae)
Addsource on Google
















































