Harga Gas Melejit Gila-Gilaan, Eropa dan Asia Terancam Krisis Pasokan!

5 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang di Timur Tengah yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat (AS) bersama Israel turut berdampak pada harga gas dunia. Naiknya harga gas dipicu atas terganggunya pasokan dari Selat Hormuz yang ditutup Iran.

Melansir CNBC International, jalur pelayaran vital yang menghubungkan Oman dan Iran tersebut menangani sekitar seperlima perdagangan Liquefied Natural Gas (LNG) global, dan kini terancam lumpuh seiring meningkatnya konflik yang melibatkan Iran.

Hal ini dinilai para pakar berisiko merusak pertumbuhan ekonomi Eropa dan berdampak pada sejumlah negara Asia.

Lonjakan Harga Pasar

Kontrak berjangka Dutch Title Transfer Facility (TTF) sebagai patokan harga Eropa melonjak 35% pada hari Selasa (3/3/2026), menembus angka 60 euro (US$69,64) per megawatt-jam. Sepanjang minggu ini saja, harganya sudah naik sekitar 76%.

Kenaikan serupa terjadi di Asia. Tolok ukur LNG Asia Timur Laut, Japan-Korea Marker (JKM), yang mencakup pengiriman ke Jepang, Korea, Cina, dan Taiwan, menyentuh level tertinggi dalam satu tahun di kisaran 43 euro (US$49,83) per MWh. Harga gas alam di Inggris pun dilaporkan sangat tinggi.

Pemicu Utama: Produksi Terhenti dan Ancaman Blokade

Qatar, salah satu produsen LNG terbesar di dunia, menghentikan produksinya pada hari Senin pasca-serangan drone Iran di kawasan industri Ras Laffan dan Mesaieed. Goldman Sachs memperkirakan jeda produksi ini akan memangkas pasokan LNG global jangka pendek sekitar 19%.

Ketegangan makin memuncak setelah seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran mengklaim telah menutup Selat Hormuz dan mengancam akan menyerang kapal apa pun yang mencoba melintas. Namun, menurut laporan Fox News, pihak Amerika Serikat menyatakan rute tersebut masih terbuka.

Ancaman Krisis Pasokan

Eropa dan sebagian besar Asia diproyeksikan jauh lebih rentan terhadap guncangan harga gas dibandingkan AS yang diuntungkan oleh produksi shale gas dan LNG domestik.

Menurut analis minyak dan gas di Stifel Chris Wheaton, sekitar 25% total pasokan gas Eropa berasal dari LNG. Mengingat 20% produksi LNG dunia harus melewati Selat Hormuz, gangguan yang berkepanjangan dapat memicu krisis pasokan yang setara dengan guncangan tahun 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina.

"Kami jauh lebih khawatir dengan harga gas Eropa daripada harga minyak," ujar Wheaton.

Di sisi lain, situasi ini menguntungkan produsen alternatif. Saham raksasa energi Norwegia, Equinor naik lebih dari 2% pada hari Selasa dan mencapai rekor tertinggi dalam 52 minggu, melanjutkan kenaikan lebih dari 8% pada sesi sebelumnya.

Prediksi Goldman Sachs

Goldman Sachs memperingatkan bahwa jika aliran gas melalui Selat Hormuz terhenti selama satu bulan, harga gas Eropa (TTF) dan Asia (JKM) berisiko melonjak hingga 74 euro (US$85,80) per MWh. Angka ini dikhawatirkan memicu penurunan permintaan ekstrem seperti saat krisis energi Eropa tahun 2022.

Merespons situasi ini, Goldman pun merevisi proyeksi harga gas untuk bulan April naik signifikan dari 36 euro menjadi 55 euro (US$63,75) per MWh.

Asia Rentan

Pasar Asia dinilai akan menghadapi gangguan pasokan yang serius karena tingginya ketergantungan pada LNG Timur Tengah. Negara yang dimaksud seperti:

  • India: 58% impor LNG berasal dari Timur Tengah.
  • Singapura: 27% impor LNG dari wilayah tersebut.
  • Cina: Sekitar 26,6% pasokan LNG datang dari sana.

Negara yang Paling Berisiko Stagflasi

Menurut Elias Haddad dari BBH, konflik berkepanjangan yang mengganggu pengiriman energi meningkatkan risiko stagflasi (ekonomi macet disertai inflasi tinggi).

Paling Rentan seperti negara importir dengan ruang fiskal terbatas, termasuk Jepang, India, Turki, dan Malaysia. sedangkan, paling aman negara eksportir energi seperti Norwegia, Kanada, dan Meksiko.

(pgr/pgr)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |