Harga CPO Melemah Setelah Terbang Tinggi, Kenapa?

4 hours ago 3

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia

04 March 2026 10:52

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) melandai setelah terbang tinggi.

Mengutip Refinitiv, harga CPO pada hari ini, Rabu (4/3/2026) pukul 10.45 WIB da di posisi MYR 4.159 per ton atau melemah 0,65%. Pelemahan ini memutus reli tiga hari beruntun sebelumnya dengan penguatan 4,5%.

Di pasar komoditas global, harga minyak nabati lain mencatat kenaikan.

Harga minyak sawit biasanya mengikuti pergerakan minyak nabati lain karena komoditas ini bersaing dalam pasar global minyak nabati, terutama dengan minyak kedelai dan minyak bunga matahari.

Impor India Melonjak, Ekspor Malaysia Tertekan

Dari sisi permintaan, impor minyak sawit India pada Februari naik 10,1% dibandingkan bulan sebelumnya, sekaligus menjadi level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Lonjakan ini dipicu oleh diskon harga minyak sawit yang mengalahkan minyak nabati pesaing. Di saat yang sama, impor minyak bunga matahari ikut tertekan.

Namun di tengah sentimen positif dari India, data ekspor Malaysia justru menurun. Berdasarkan laporan dari Intertek Testing Services dan AmSpec Agri Malaysia, ekspor produk minyak sawit Malaysia pada Februari tercatat turun antara 21,5% hingga 25,5%.

Sementara itu, Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia mencatat kinerja ekspor yang solid. Ekspor minyak sawit mentah dan olahan pada Januari mencapai 2,24 juta ton, melonjak 77,07% secara tahunan (year-on-year) dengan nilai pengiriman sebesar US$2,29 miliar.

Sawit Ditopang Lonjakan Harga Minyak

Dukungan tambahan bagi harga CPO datang dari pasar energi. Harga minyak mentah dunia naik untuk hari ketiga berturut-turut seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, serta ancaman terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz. Kondisi ini memicu kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan produsen utama Timur Tengah.

Kenaikan harga minyak mentah biasanya membuat minyak sawit lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel, karena secara ekonomi menjadi lebih kompetitif dibanding bahan baku lain. Hal ini berpotensi meningkatkan permintaan tambahan dari sektor energi.

Dari sisi teknikal, analis Reuters Wang Tao menyebut kontrak CPO berpotensi menguji level support di 4.121 ringgit per ton. Jika level tersebut ditembus, harga berisiko terkoreksi lebih dalam ke kisaran 4.078 hingga 4.098 ringgit per ton.

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |