Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
19 January 2026 07:03
Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam strategi investasi jangka panjang, dividen tunai merupakan salah satu indikator penting kesehatan finansial sebuah perusahaan. Konsistensi pembagian dividen seringkali menjadi pertimbangan utama bagi investor yang mengutamakan arus kas pasif dibandingkan sekadar fluktuasi harga saham jangka pendek.
Berdasarkan data historis Bursa Efek Indonesia (BEI) yang ditarik hingga awal tahun 1990-an, terdapat perbedaan pola pembagian dividen pada sejumlah emiten berkapitalisasi besar (big cap).
Dua emiten tercatat memiliki rekam jejak pembagian dividen yang tidak terputus sejak tahun 1992, sementara beberapa perusahaan besar lainnya sempat menghentikan distribusi laba akibat dampak Krisis Moneter 1998.
Data menunjukkan bahwa PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) merupakan dua emiten yang konsisten membagikan dividen tunai setiap tahunnya selama lebih dari tiga dekade terakhir, termasuk melewati periode krisis ekonomi 1997-1998 serta melintasi jaman dari Era Soeharto, BJ Habibie, Megawati, Gus Dur, Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo hingga Prabowo Subianto.
PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR)
Sebagai pemimpin pasar di industri semen nasional, SMGR (dahulu Semen Gresik) mempertahankan kebijakan pembagian dividen yang disiplin sejak tahun 1992. Ketahanan arus kas perusahaan ini teruji saat krisis 1998, di mana perusahaan tetap mampu membagikan keuntungan kepada pemegang saham.
Apabila disesuaikan dengan aksi korporasi pemecahan nilai saham (stock split) rasio 1:10 pada tahun 2007, data menunjukkan tingkat imbal hasil (yield) dividen SMGR cukup bervariasi mengikuti siklus komoditas dan konstruksi, namun tetap terjaga rutinitasnya.
Di era terbaru Indonesia yakni di era Prabowo, Semen Indonesia membagikan dividen tunai Rp96,2152 per saham yang dibayar pada Juni 2025.
PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR)
Di sektor consumer goods, UNVR tercatat sebagai salah satu emiten dengan dividend payout ratio tertinggi. Sejak tahun 1992, perusahaan secara rutin membagikan sebagian besar laba bersihnya kepada pemegang saham.
Dalam perjalanannya, UNVR telah melakukan beberapa kali stock split (2003 dan 2020) untuk menjaga likuiditas saham. Tabel berikut menyajikan data historis dividen yang telah disesuaikan dengan nilai stock split tersebut.
Di era Prabowo, Unilever Indonesia membagikan dividen tunai Rp47 per saham yang dibayar pada Juli 2025. Unilever bahkan sudah membagikan dividen dua kali pada 2025 yakni dividen interim sebesar Rp 87 per saham. Dividen sudah dibayar pada 16 Desember 2025.
Tidak hanya SMGR dan UNVR, pasar modal Indonesia juga memiliki jajaran emiten legendaris lainnya yang patut diperhitungkan. Meskipun rekam jejak dividen mereka sempat terhenti sejenak akibat hantaman badai Krisis Moneter 1998, ketangguhan fundamental perusahaan-perusahaan ini terbukti mampu membalikkan keadaan. Pasca-krisis, mereka kembali bangkit dan menjelma menjadi penyumbang dividen jumbo yang konsisten bagi para investor hingga hari ini.
Berikut adalah informasi mengenai tiga emiten lainnya yang memiliki rekam jejak panjang sejak era Orde Baru, namun sempat menghentikan pembagian dividen akibat dampak krisis ekonomi 1998.
Astra International (ASII)
PT Astra International Tbk (ASII) sering dianggap sebagai barometer perekonomian Indonesia karena diversifikasi bisnisnya yang luas, mulai dari otomotif, alat berat, hingga jasa keuangan.
Perusahaan ini memiliki kebijakan dividen yang sangat royal kepada pemegang saham, dengan rutinitas pembagian dua kali setahun, yaitu dividen interim dan final.
Meskipun demikian, rekam jejak dividen Astra sempat terhenti saat Krisis Moneter 1998. Pada masa itu, nilai tukar Rupiah yang anjlok drastis menyebabkan beban utang perusahaan dalam mata uang asing membengkak secara signifikan.
Manajemen memutuskan untuk melakukan restrukturisasi utang besar-besaran dan meniadakan dividen demi menjaga kelangsungan usaha. Pasca pemulihan ekonomi, Astra kembali menjadi perusahaan yang rutin membagikan keuntungan dengan rasio pembayaran yang sehat.
H.M. Sampoerna (HMSP)
Di sektor barang konsumen, khususnya industri rokok, PT H.M. Sampoerna Tbk (HMSP) dikenal sebagai perusahaan dengan arus kas yang kuat dan defensif. Sejak melantai di bursa pada tahun 1990, HMSP menjadi salah satu favorit investor karena konsistensinya membagikan laba.
Namun, data historis mencatat bahwa stabilitas distribusi dividen perusahaan ini juga sempat terganggu saat puncak krisis ekonomi di akhir tahun 1990-an.
Setelah melewati masa sulit tersebut, terutama pasca akuisisi oleh Philip Morris International pada tahun 2005, kebijakan dividen HMSP berubah menjadi sangat agresif.
Perusahaan ini kerap mencatatkan dividend payout ratio yang tinggi, bahkan terkadang melebihi 100% dari laba bersih tahun berjalan dengan mengambil dari saldo laba ditahan. Hingga kini, HMSP tetap menjadi salah satu penyumbang dividen terbesar di pasar modal Indonesia.
Selamat Sempurna (SMSM)
PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM), produsen komponen otomotif dengan merek utama Sakura, dikenal sebagai emiten yang sangat disiplin dan berorientasi ekspor.
Bagi investor jangka panjang, SMSM memiliki daya tarik unik karena frekuensi pembagian dividennya yang di atas rata-rata emiten lain, yakni bisa mencapai empat kali dalam satu tahun buku (kuartalan).
Kendati memiliki rekam jejak pertumbuhan dividen yang solid, manajemen SMSM yang dikenal sangat berhati-hati (prudent) juga pernah mengambil langkah untuk menahan laba saat krisis 1998 demi mengamankan modal kerja.
Keputusan tersebut terbukti tepat karena perusahaan berhasil bertahan dan kemudian mencatatkan pertumbuhan dividen yang konsisten naik dari tahun ke tahun seiring dengan ekspansi pasar ekspornya.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)


































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5356029/original/097935000_1758419943-IMG_7773.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5355955/original/021459800_1758388393-photo-grid__98_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364914/original/063859900_1759130580-VERSACE-SS26-VOGUE-Look-46.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5362059/original/092579700_1758811905-SnapInsta.to_553663603_18536090935026372_905938934458990618_n.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5359671/original/082284100_1758685809-photo-grid_-_2025-09-24T103429.395.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376485/original/009100400_1760005395-IMG_8656_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5373084/original/079052200_1759811895-Screen_Shot_2025-10-07_at_11.01.27.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376259/original/088782800_1759997793-WhatsApp_Image_2025-10-09_at_13.39.14.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5361448/original/038613700_1758785499-IMG_8010.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5369001/original/085236400_1759406467-SnapInsta.to_555481163_18532398187013272_6664089544305469244_n.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5370734/original/022662200_1759567872-photo-grid_-_2025-10-04T154007.080.jpeg)

