Jakarta, CNBC Indonesia - Ekspor mobil China terus menunjukkan lonjakan signifikan. Hal ini terjadi meski pengiriman sempat terganggu akibat krisis di Timur Tengah, yang merupakan salah satu pasar utama industri otomotif Negeri Tirai Bambu.
Berdasarkan data Asosiasi Mobil Penumpang China, ekspor mobil pada Maret 2026 tumbuh 73,7% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi hampir 700.000 unit. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 54,1% pada dua bulan pertama tahun ini.
"Ekspor mobil telah memasuki tahap pertumbuhan super tinggi, melampaui ekspektasi kami," ujar Sekretaris Jenderal asosiasi tersebut, Cui Dongshu, seperti dikutip Reuters, Kamis (9/4/2026).
Di sisi lain, pasar domestik justru mengalami tekanan. Penjualan mobil di dalam negeri turun 15,2% yoy menjadi 1,67 juta unit pada Maret, menandai penurunan selama enam bulan berturut-turut.
Penurunan ini dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar yang menekan permintaan kendaraan berbahan bakar konvensional. Sementara itu, penjualan kendaraan listrik (EV) juga terdampak berkurangnya insentif pemerintah di tengah pemulihan ekonomi yang masih tersendat.
Penjualan mobil bermesin pembakaran internal tercatat turun 15,7%, lebih dalam dibandingkan penurunan 13,4% pada Januari-Februari. Kondisi ini terjadi meskipun pemerintah China telah menahan kenaikan harga bahan bakar domestik untuk meredam dampak lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah.
Tekanan juga dirasakan di tingkat dealer. Persediaan kendaraan yang belum terjual meningkat, seiring melemahnya minat konsumen terhadap pembelian EV baru setelah sejumlah insentif, termasuk pembebasan pajak pembelian, dihentikan.
Di tengah ketatnya persaingan domestik, penjualan kendaraan listrik (EV) dan plug-in hybrid (PHEV) tercatat turun 14,4% secara tahunan (yoy). Kondisi ini turut menekan kinerja produsen kendaraan listrik raksasa China, BYD, yang mencatat penurunan penjualan bulanan selama tujuh bulan berturut-turut hingga Maret.
Meski demikian, kinerja di pasar luar negeri tetap menjanjikan. Permintaan EV di Eropa meningkat, didorong kenaikan harga bahan bakar, yang turut mengerek ekspor produsen China.
Manajemen BYD optimistis penjualan global akan tetap kuat. Perusahaan menargetkan penjualan lebih dari 1,5 juta unit kendaraan di pasar luar negeri sepanjang tahun ini.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452570/original/017450600_1766406793-IMG_2730_1_.jpeg)