Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah percaya diri pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bisa melaju hingga 6% pada tahun ini, meskipun dunia tengah dihantui krisis seiring mulai bermunculnya darurat energi di berbagai negara.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pemerintah telah memiliki sejumlah strategi untuk menjaga pertumbuhan bisa makin cepat di atas 5%, meskipun perang di Timur Tengah antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS) telah mengganggu harga dan pasokan energi dunia.
Strategi itu di antaranya ialah memfokuskan kebijakan fiskal dan moneter secara sekaligus untuk menggerakkan aktivitas usaha. Artinya, belanja pemerintah akan gencar dan suku bunga acuan BI Rate akan akomodatif.
"Tumbuh 6% harusnya tidak terlalu sulit. Di atas buku ya, tapi di lapangan kan kita perlu dorongan-dorongan seperti yang lain-lain supaya lebih cepat lagi. Tapi yang jelas, mesin-mesin itu sudah kita hidupkan," kata Purbaya di kantornya, Jakarta, Jumat (27/3/2026).
"Jadi hampir pasti kita tidak menuju resahasi apalagi krisis," tegas Purbaya.
Oleh sebab itu, Purbaya memastikan, di tengah periode tekanan ekonomi global seperti saat ini, pemerintah akan fokus menggelontorkan belanja negara tepat waktu, sebagai faktor pendorong aktivitas ekonomi domestik. Sambil terus memperbaiki iklim usaha dan likuiditas perekonomian terjaga.
"Saya pastikan likuiditas sistem perekonomian cukup. Saya pastikan belanja pemerintahnya tepat waktu. Saya usahakan perbaikan iklim usaha seoptimal mungkin," paparnya.
Dari berbagai indikator utama ekonomi, seperti indeks keyakinan konsumen, Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur, hingga data penjualan motor dan mobil, Purbaya menilai, kondisi ekonomi Indonesia hingga kini pun terjaga arahannya menuju pertumbuhan.
"Menurut saya di atas 5,5% pun sudah bagus dalam keadaan sekarang ya. Nanti kalau lebih tinggi dari 5,5% ya kita makan-makan seperti saya janjikan kemarin. Jadi bukan saya optimis, saya melihat data," tutur Purbaya.
"Dan saya tahu apa yang saya masukkan ke sistem perekonomian supaya ekonominya bergerak. Data-data itu adalah dampak dari kebijakan di belakang yang anda nggak ngerti," tegasnya.
(arj/haa)
Addsource on Google

















































