Dihantui Deindustrialisasi Prematur, Manufaktur RI Kasih Pertanda Baik

1 day ago 7

Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia usaha menilai tantangan sektor manufaktur Indonesia harus menjadi perhatian serius. Tekanan yang dialami industri dinilai mencerminkan gejala deindustrialisasi dini atau premature deindustrialization, yakni ketika kontribusi industri melemah sebelum mencapai titik optimalnya.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani mengungkapkan, fenomena ini terlihat dari tren kinerja manufaktur dalam beberapa tahun terakhir. Ia menilai pelemahan industri bukan kejadian sesaat, melainkan akumulasi persoalan yang berlangsung cukup lama.

"Kalau ditarik sedikit ke belakang, tantangan terhadap sektor manufaktur bersifat struktural, bukan hanya siklus tahunan. Pada 2024, manufaktur nonmigas sempat mencatat kontraksi sekitar -0,86 poin persentase dan dalam satu dekade terakhir 9 dari 15 subsektor manufaktur mengalami penyusutan kontribusi. Ini yang sering kami sebut sebagai gejala premature deindustrialization yakni kontribusi industri terhadap PDB melemah sebelum sempat mencapai puncak," ujar Shinta kepada CNBC Indonesia, Rabu (7/1/2025).

Meski demikian, pemerintah tetap memasang target pertumbuhan manufaktur sebesar 5,51% pada 2026. Menurut Shinta, target tersebut memiliki landasan yang rasional, namun tetap perlu dicermati dengan melihat kondisi industri sepanjang 2025 yang penuh tekanan.

"Kami melihat target ini memiliki basis pertimbangan yang masuk akal, tetapi dengan beberapa catatan penting, terutama jika berkaca pada kinerja industri sepanjang 2025," katanya.

Sepanjang 2025, sektor manufaktur memang menghadapi dinamika yang tidak ringan.

Pada paruh pertama tahun, aktivitas industri tertekan cukup dalam, tercermin dari PMI Manufaktur yang bertahan di zona kontraksi selama beberapa bulan dan menyentuh level terendah dalam hampir empat tahun. Kondisi tersebut menggambarkan melemahnya permintaan, baik dari pasar domestik maupun ekspor.

Namun, situasi mulai membaik memasuki paruh kedua tahun. Indikator aktivitas industri kembali menguat, seiring PMI yang beranjak ke zona ekspansi sejak Agustus hingga menjelang akhir tahun. Perbaikan ini juga tercermin dari data pertumbuhan ekonomi sektoral yang mulai melampaui pertumbuhan nasional.

"Kita masuk 2026 dari posisi yang memang belum ideal, tetapi ada sinyal membaik yang tidak bisa diabaikan," tutur Shinta.

Ia menambahkan, penguatan tersebut didorong oleh performa sejumlah subsektor manufaktur yang mencatat pertumbuhan tinggi, khususnya sektor-sektor berbasis hilirisasi, kebutuhan domestik, dan industri pendukung. Beberapa subsektor bahkan tumbuh dua digit, menunjukkan bahwa kapasitas industri nasional masih memiliki ruang ekspansi.

"Secara data, kinerja subsektor manufaktur pada Kuartal III/2025 memang menunjukkan sinyal yang kuat. Industri logam dasar, makanan dan minuman, kimia dan farmasi, hingga mesin dan perlengkapan mencatat pertumbuhan yang solid. Bahkan jasa reparasi dan pemasangan mesin tumbuh sangat tinggi," jelasnya.

Meski demikian, Shinta mengingatkan, tren positif tersebut tidak serta-merta menjamin pertumbuhan yang merata di seluruh subsektor pada 2026. Keberlanjutan kinerja industri sangat bergantung pada konsistensi kebijakan dan faktor pendukung di luar sektor itu sendiri.

"Target pertumbuhan sektoral itu bukan tanpa dasar, tetapi keberlanjutannya mensyaratkan banyak hal harus dijaga, mulai dari kepastian pasokan energi, stabilitas harga, kelancaran logistik, sampai konsistensi kebijakan perdagangan dan industri," tegasnya.

Tanpa dukungan kebijakan yang berkesinambungan, risiko perlambatan masih membayangi, terutama bagi subsektor yang sensitif terhadap kenaikan biaya produksi dan pelemahan permintaan global.

"Kami melihat sektor-sektor tersebut berpotensi tumbuh, tetapi pertumbuhannya tidak akan otomatis merata. Tanpa dukungan kebijakan yang konsisten, risiko perlambatan di beberapa sektor masih tetap terbuka," pungkas Shinta.

(dce)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |