Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
08 April 2026 20:10
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran yang terjadi di akhir Februari hingga Awal April 2026 ini bukan hanya mengguncang harga energi global, tetapi juga menambah beban bagi banyak bank sentral dunia tak terkecuali Asia.
Meningkatnya ketegangan geopolitik membuat dolar AS kembali diburu pelaku pasar sebagai safe haven aset yang pada gilirannya membuat ruang pelemahan bagi mata uang negara lain termasuk di Asia meningkat terhadap greenback.
Di tengah situasi tersebut, bank sentral di berbagai negara Asia terlihat bekerja lebih keras untuk tetap menjaga stabilitas nilai tukarnya. Upaya stabilisasi tersebut berujung pada sebuah konsekuensi yang tidak murah, yakni tergerusnya cadangan devisa.
Melansir dari laporan bank sentral beberapa negara Asia yang sudah melaporkan kondisi terkini cadangan devisnya khususnya di bulan Maret 2026, tercatat adanya kemiripan yakni penurunan cadev yang terjadi.
China Terpukul Paling Besar
Diantara negara-negara Asia, China menjadi salah satu negara yang penurunan cadev nya paling besar di Maret 2026. Cadev yang dilaporkan oleh People's Bank of China turun sekitar US$86 miliar dalam kurun waktu sebulan.
Dari US$3.423 miliar pada Februari menjadi US$3.342 miliar pada Maret lalu. Penurunan ini juga menjadi penurunan paling tajam cadev China dalam satu dekade terakhir.
Tekanan tersebut sejalan dengan menguatnya dolar AS selama perang di Timur Tengah berlangsung. Ketika dolar melonjak, valuasi aset cadangan dalam bentuk surat berharga pemerintah AS, emas, dan aset valas lainnya ikut terpengaruh dalam perhitungan dolar AS.
Menariknya, stok emas China justru tetap bertambah dalam periode sebulan perang tersebut. Namun, kenaikan volume emas itu tidak cukup menahan turunnya nilai cadangan devisa secara keseluruhan.
India Turun Lebih dari US$10 Miliar
India juga mencatat penurunan yang cukup besar. Cadangan devisanya turun dari US$698,35 miliar menjadi US$688,06 miliar, atau menyusut sekitar US$10,29 miliar.
Bagi India, penurunan ini terjadi setelah sebelumnya sempat mencatat level tertinggi baru pada Februari 2026. Artinya, perang AS-Iran dan gejolak pasar global langsung memotong sebagian bantalan eksternal yang sempat menguat di awal tahun.
Cadev Jepang Ikut Terkikis
Selain China dan India, turunnya cadangan devisa juga terjadi pada Negeri Sakura. Cadev Jepang tercatat berkurang US$36 miliar menjadi US$1.374,7 miliar pada Maret 2026 dari sebelumnya sebesar US$1.410,7 miliar.
Penurunan ini muncul di tengah meningkatnya perhatian otoritas Jepang terhadap pelemahan yen. Pemerintah dan otoritas moneter Jepang pada periode itu juga memberi sinyal siap bertindak jika gejolak nilai tukar dinilai terlalu berlebihan.
Korea Selatan Turut Terpakai untuk Stabilitas Pasar
Cadangan devisa Korea Selatan juga turun dari US$427,62 miliar pada Februari menjadi US$423,66 miliar pada Maret. Artinya, ada penyusutan sekitar US$3,96 miliar dalam sebulan.
Bank of Korea menjelaskan bahwa penurunan tersebut dipengaruhi oleh turunnya nilai aset dalam mata uang selain dolar AS, serta langkah-langkah stabilisasi pasar. Salah satu yang disorot adalah penggunaan skema swap valas dengan National Pension Fund.
Ini menunjukkan bahwa bukan hanya intervensi langsung di pasar spot yang menjadi alat bank sentral. Dalam situasi penuh gejolak, otoritas juga bisa menggunakan instrumen lain untuk menjaga likuiditas dan mengurangi tekanan pada nilai tukar.
Cadev Filipina hingga Malaysia Juga Terkuras
Filipina menjadi salah satu negara Asia yang juga mencatat penurunan besar. Cadangan devisanya turun dari US$113,3 miliar pada Februari menjadi US$107,5 miliar pada Maret, atau berkurang US$5,8 miliar.
Penurunan ini cukup menarik karena terjadi tepat setelah Filipina mencatat rekor tertinggi cadangan devisa pada Februari 2026. Jadi, tekanan eksternal pada Maret bisa dibilang langsung menghapus sebagian capaian kuat bulan sebelumnya.
Malaysia pun mengalami penurunan cadangan devisa, meski skalanya lebih terbatas dibanding beberapa negara lain. Posisi cadangan turun dari US$128,3 miliar menjadi US$126,6 miliar, atau berkurang sekitar US$1,7 miliar.
Singapura Jadi Pengecualian
Di tengah tren penurunan yang terjadi di banyak negara Asia, Singapura justru menjadi pengecualian. Cadangan devisanya naik dari SGD526,249 miliar pada Februari menjadi SGD540,853 miliar pada Maret, atau bertambah sekitar SGD14,604 miliar.
Kenaikan ini membuat posisi cadangan devisa Singapura menjadi yang tertinggi sejak Februari 2022. Kenaikan terjadi di hampir semua komponen, mulai dari emas dan valuta asing hingga posisi cadangan di IMF dan special drawing rights.
Namun, ada satu hal penting yang perlu dicatat. Data Singapura dilaporkan dalam dolar Singapura, bukan dolar AS seperti mayoritas negara lain
Bagaimana dengan RI?
Indonesia juga tidak luput dari tekanan tersebut. Cadangan devisa RI turun dari US$151,9 miliar pada Februari menjadi US$148,2 miliar pada Maret 2026. Artinya, ada penurunan sekitar US$3,7 miliar dalam sebulan.
Posisi ini menjadi yang terendah sejak Juli 2024. Penurunan terutama dipicu oleh langkah Bank Indonesia untuk menstabilkan rupiah di tengah tingginya volatilitas pasar global.
Meski menurun, posisi cadangan devisa Indonesia masih tergolong kuat. Besarannya setara pembiayaan 6,0 bulan impor, atau 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini masih jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Artinya, meskipun perang AS-Iran menekan pasar keuangan dan mendorong BI untuk aktif menjaga rupiah, bantalan eksternal Indonesia masih cukup tebal. Tantangannya sekarang adalah apakah tekanan global ini benar-benar mereda setelah konflik memasuki fase gencatan senjata, atau justru kembali memanas dan memaksa bank sentral menguras cadangan devisa lebih dalam lagi.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452570/original/017450600_1766406793-IMG_2730_1_.jpeg)