Bursa Asia Lesu Usai Yield Obligasi Jepang Sentuh Rekor Tertinggi

4 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar Asia-Pasifik bergerak lesu setelah imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang Jepang mencapai level tertinggi baru, dengan investor juga mempertimbangkan ancaman tarif AS yang diperbarui terkait Greenland.

Negara-negara Eropa dilaporkan sedang membahas tarif balasan dan langkah-langkah ekonomi hukuman yang lebih luas sebagai tanggapan terhadap ancaman tarif baru dari Presiden Donald Trump, yang semakin memperketat hubungan terkait Greenland.

Pada hari Sabtu, Trump mengumumkan bahwa tarif ekspor dari delapan negara Eropa akan dimulai pada 10% pada 1 Februari dan naik menjadi 25% pada 1 Juni jika pembicaraan gagal untuk mengamankan kendali AS atas Greenland, sebuah pulau semi-otonom yang kaya mineral di bawah kendali Denmark.

Indeks berjangka Hang Seng Hong Kong berada di 26.640, lebih tinggi dari penutupan terakhir HSI di 26.563,9. Bank sentral China mempertahankan suku bunga pinjaman utama 1 tahun dan 5 tahun masing-masing berada di angka 3% dan 3,5%, tidak berubah selama delapan bulan berturut-turut.

Investor mengamati dengan cermat perkembangan di pasar Jepang setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi mengatakan pada hari Senin bahwa ia berencana untuk membubarkan parlemen dan mengadakan pemilihan umum sela pada 8 Februari.

Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,7%, sementara Topix turun 0,52%. Indeks Kospi Korea Selatan turun 0,41%, sementara indeks Kosdaq untuk saham berkapitalisasi kecil tetap stabil.

Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang jangka 40 tahun naik menjadi 4% untuk pertama kalinya.

Koalisi yang berkuasa di Jepang memegang mayoritas satu kursi di Dewan Perwakilan Rakyat setelah pembentukannya pada bulan Oktober, ketika Takaichi menjadi perdana menteri setelah pendahulunya mengundurkan diri. Meskipun pemilihan umum sela akan meningkatkan ketidakpastian politik jangka pendek, hal itu dapat membawa kejelasan kebijakan yang lebih besar jika pemerintah muncul dengan mandat yang lebih kuat, kata Fitch Group dalam sebuah catatan.

Fitch memperkirakan utang pemerintah akan tetap tinggi dalam jangka menengah, tetapi akan secara bertahap menurun seiring dengan pertumbuhan PDB nominal yang lebih kuat mengimbangi defisit fiskal yang lebih besar dan biaya pinjaman yang lebih tinggi.

Utang pemerintah umum konsolidasi diproyeksikan akan turun ke kisaran pertengahan 190% dari PDB pada tahun fiskal 2029, dari perkiraan 199,5% pada tahun fiskal 2025 dan puncaknya sebesar 222% pada tahun fiskal 2020.

Indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,46%.

(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |