Bukan PHK, Ini Taktik Perusahaan Bikin Karyawan Resign Tanpa Pesangon

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia kerja kembali dihadapkan pada tren baru yang diam-diam merugikan karyawan. Praktik ini dikenal sebagai quiet cutting, strategi perusahaan untuk mendorong karyawan resign tanpa harus membayar pesangon.

Menurut laporan CBS News yang mengutip The Independent Singapore, quiet cutting kian populer sebagai alat restrukturisasi perusahaan. Sejumlah korporasi besar seperti Adidas, Adobe, IBM, hingga Salesforce dilaporkan telah melakukan perombakan tenaga kerja dengan pendekatan ini sepanjang tahun lalu.

Laporan Fortune bahkan mencatat, sekitar 77% karyawan mengaku pernah melihat praktik quiet cutting terjadi di tempat mereka bekerja. Alih-alih pemutusan hubungan kerja secara terbuka, perusahaan menggunakan tekanan psikologis dan perubahan peran secara perlahan agar karyawan memilih resign atas kehendak sendiri.

Dikucilkan dari Tim

Salah satu pola paling umum dari quiet cutting adalah memisahkan karyawan dari timnya. Rekan kerja sering kali menjadi sumber dukungan emosional, motivasi, sekaligus rasa stabil dalam dunia profesional. Perusahaan memahami hal ini dan menjadikannya sebagai titik tekan.

Dalam sebuah memo internal perusahaan teknologi yang bocor, strategi ini disebut sebagai "managing out the median" atau mengelola keluarnya orang-orang yang biasa-biasa saja. Pendekatannya mirip dengan pengucilan sosial, menggunakan eksklusi profesional untuk memicu respons stres dan keinginan kabur.

Seorang pengguna Reddit di forum r/SGHenry bercerita, motivasinya runtuh setelah seluruh timnya dibubarkan. Ia kemudian dipindahkan ke bawah atasan baru yang gaya dan visinya tidak sejalan. Tak lama, ia mulai merencanakan resign dan hidup dari pendapatan pasif. Strategi perusahaan pun berhasil.

Dibuat Merasa Tidak Kompeten

Cara lain yang kerap digunakan adalah membuat karyawan meragukan kemampuan dirinya sendiri. Mereka bisa dipindahkan ke divisi baru dengan atasan yang dikenal keras atau destruktif secara psikologis.

Setiap ide dipertanyakan, keputusan kecil dipermasalahkan, dan kesalahan sepele dibesar-besarkan. Dalam kasus lain, atasan lama tiba-tiba berubah sikap dan mulai mengawasi pekerjaan secara berlebihan, bahkan terkesan personal.

Tekanan semacam ini perlahan menggerus kepercayaan diri hingga karyawan terus mempertanyakan kapabilitasnya sendiri.

Turun Jabatan Secara Diam-Diam

Beberapa perusahaan memilih cara yang lebih kasat mata, yakni demosi halus. Karyawan bisa dipindahkan ke posisi dengan jabatan lebih rendah, gaji berkurang, atau peran tanpa beban kerja yang jelas.

Bagi sebagian orang, minimnya tanggung jawab mungkin terdengar nyaman. Namun bagi profesional yang terbiasa produktif, kondisi ini justru menimbulkan stres, kehilangan arah, dan rasa tidak berguna.

Perusahaan secara tidak langsung mengandalkan ketidaknyamanan ini agar karyawan memilih keluar dengan sendirinya. CBS News melaporkan, karyawan yang mengalami demosi terselubung semacam ini kerap menghadapi tekanan serius terhadap kesehatan mental.

Jurnalis karier The Wall Street Journal, Ray Smith, yang pertama kali menyoroti tren quiet cutting menjelaskan, banyak orang mengaitkan identitas diri dengan jabatan dan pekerjaan mereka. Ketika peran itu tiba-tiba berubah dan terasa sebagai penurunan, karyawan mulai mempertanyakan posisi dan nilai mereka di mata perusahaan.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan?

Pakar karier menyarankan agar karyawan tidak panik ketika menyadari sedang "didorong keluar". Waktu yang ada justru perlu dimanfaatkan sebaik mungkin.

Gunakan kesempatan tersebut untuk menyusun langkah berikutnya, melamar pekerjaan baru, dan menghadiri wawancara di luar jam kerja. Pastikan ada rencana cadangan sebelum benar-benar mengajukan pengunduran diri.

(hsy/hsy)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |