Amerika Bakar Rp17.000 Triliun untuk Militer, Siapa yang Menikmati?

4 hours ago 4

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

19 March 2026 09:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran kembali menegaskan betapa mahalnya ongkos sebuah konflik.

Dalam hitungan hari, biaya yang harus dikeluarkan Washington sudah mencapai miliaran dolar AS, mulai dari amunisi, operasi militer, logistik, hingga perawatan alat utama sistem senjata. Dalam enam hari pertama perang saja, biaya yang diperkirakan sudah dikeluarkan pemerintahan Donald Trump disebut mencapai lebih dari US$11,3 miliar

Di tengah situasi itu, anggaran pertahanan AS pun kembali menjadi sorotan. Trump bahkan telah menyatakan ingin mendorong anggaran militer AS untuk tahun fiskal 2027 menjadi sekitar US$1,5 triliun atau sekitar Rp 25.462,5 triliun (US$1=Rp 16.975), melonjak dari US$900an miliar atau sekitar Rp 16.329,9 triliun yang disetujui untuk 2026.

Rencana itu masih harus mendapat persetujuan Kongres, tetapi tetap memberi gambaran bahwa Washington ingin menjaga kapasitas militernya di level yang sangat tinggi di tengah situasi global yang makin panas.

Besarnya angka tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan menarik kemana saja sebenarnya aliran anggaran pertahanan AS selama ini?

Sebab, dana militer AS tidak hanya habis untuk perang atau membeli senjata baru. Uang itu juga mengalir ke biaya operasional harian, perawatan alat utama, gaji personel, riset teknologi, pembangunan fasilitas militer, hingga kontrak jumbo ke perusahaan-perusahaan mitra pemerintah.

Biaya Operasional dan Personel Masih Jadi Pos Terbesar

Berdasarkan data Department of Defense (DoD) AS tahun fiskal 2025, yang kini juga dikenal dengan nama Department of War, aliran anggaran pertahanan terbesar justru masuk ke pos operasional dan pemeliharaan, yakni sekitar US$337,92 miliar atau sekitar Rp 5.736,19 triliun.

Ini menjadi pos terbesar dibandingkan komponen belanja yang lain. Setelah itu, belanja untuk personel menempati urutan kedua dengan nilai sekitar US$181,88 miliar.

Besarnya anggaran operasional dan pemeliharaan menunjukkan bahwa menjaga kekuatan militer AS tetap siap tempur membutuhkan biaya yang sangat besar.

Pos ini umumnya mencakup perawatan kapal perang, pesawat tempur, kendaraan militer, pangkalan, latihan, bahan bakar, hingga berbagai kebutuhan pendukung lain agar seluruh sistem pertahanan tetap berjalan.

Sementara itu, belanja personel mencerminkan mahalnya biaya untuk menopang jutaan orang dalam sistem pertahanan AS, mulai dari gaji, tunjangan, fasilitas, hingga berbagai kebutuhan lain yang melekat pada kekuatan militer aktif.

Di luar dua pos terbesar itu, anggaran pertahanan AS pada 2025 juga mengalir untuk pengadaan sebesar US$167,55 miliar, lalu riset dan pengembangan sebesar US$143,16 miliar. Ada pula anggaran untuk konstruksi militer yang sebesar US$15,56 miliar dan pos lainnya sekitar US$1,98 miliar.

Perusahaan Mana Saja yang Dapat Kontrak Paling Besar?

Jika ditarik lebih jauh, anggaran pertahanan AS pada akhirnya juga mengalir ke perusahaan-perusahaan besar yang menjadi mitra utama pemerintah. Pada 2025, Lockheed Martin Corporation tercatat menjadi penerima kontrak terbesar dengan nilai sekitar US$70,85 miliar.

Setelah itu, RTX Corporation memperoleh kontrak sekitar US$31,34 miliar, disusul General Dynamics Corp sebesar US$26,92 miliar dan The Boeing Company sekitar US$23,76 miliar. Nama besar lain yang juga masuk daftar teratas adalah Northrop Grumman Corporation dengan nilai kontrak sekitar US$17,38 miliar.

Selain perusahaan pertahanan besar yang dikenal sebagai pembuat pesawat tempur, rudal, kapal perang, dan berbagai sistem senjata, ada juga sejumlah perusahaan lain yang ikut menerima kontrak bernilai jumbo.

Optum360, LLC menerima sekitar US$16,22 miliar, lalu Leidos Holdings, Inc sebesar US$10,81 miliar, Huntington Ingalls Industries, Inc sekitar US$10,29 miliar, dan McKesson Corporation sekitar US$10,25 miliar.

Daftar ini menunjukkan bahwa anggaran pertahanan AS tidak hanya mengalir ke produsen senjata. Tetapi juga masuk ke perusahaan teknologi, galangan kapal, jasa pendukung, hingga layanan kesehatan dan logistik.

Artinya, belanja pertahanan AS selama ini ikut menopang ekosistem industri yang sangat luas, bukan hanya kebutuhan tempur di medan perang.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |