Airlangga Gelar Rakortas Perppu Defisit APBN, Purbaya Cs Merapat

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Jajaran menteri ekonomi Kabinet Merah Putih mulai berdatangan ke kantor Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto siang ini, Senin (16/3/2026). Kedatangan mereka dalam rangka menghadiri rapat koordinasi terbatas (Rakortas).

Tampak Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Kepala Bappenas/ Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Rachmat Pambudy, serta Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Diana Kusumastuti.

Dari informasi yang diterima CNBC Indonesia, Rakortas yang akan digelar sekitar pukul 13.30 WIB itu menindaklanjuti pembicaraan dalam rapat kabinet paripurna di Istana Negara Jumat pekan lalu, 13 Maret 2026 bersama Presiden Prabowo Subianto.

Adapun, dari informasi tersebut, salah satu agendanya adalah persiapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu).

Sebelumnya, dalam Rapat Kabinet Paripurna, Airlangga mengusulkan adanya Perppu dalam rangka mengantisipasi lonjakan defisit APBN akibat kondisi geopolitik di Timur Tengah yang melambungkan harga minyak mentah.

Airlangga mengatakan, harga minyak dunia berisiko menekan fiskal pemerintah, dipicu kondisi ketidakpastian geopolitik dunia, khususnya konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Konflik itu membuat terganggunya pasokan minyak di pasar global.

"Dengan Perppu ini pemerintah punya fleksibilitas untuk perubahan," kata Airlangga saat rapat kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta.

Usulan Perppu itu Airlangga dasari dari berbagai skenario risiko yang telah dihitungnya. Skenario ini menghitung risiko efek konflik di Timur Tengah selama enam bulan hingga 10 bulan, dengan harga rata-rata minyak mentah dunia naik menjadi US$ 97 per barel dan US$ 115 per barel.

Selain harga minyak, skenario yang dihitung Airlangga turut mempertimbangkan nilai tukar (kurs) terhadap dolar AS, imbal hasil surat utang pemerintah, hingga pertumbuhan ekonomi yang bisa terganggu akibat konflik dan turut menekan defisit APBN 2026.

Berikut ini rincian skenarionya:

1. Harga minyak mentah Indonesia (ICP) US$ 86/barel, kurs Rp 17.000 per US$, sementara di APBN asumsi kursnya Rp 16.500 per US$, kemudian dengan growth dipertahankan di 5,3%, surat berharga negara angkanya lebih tinggi 6,8%, maka defisit APBN diperkirakan mencapai 3,18%.

2. Skenario moderat kedua dengan harga ICP US$ 97 per barel, kurs Rp 17.300, growth 5,2%, SBN lebih tinggi lagi di 7,2%, maka defisit mencapai 3,53%.

3. Skenario terburuk pesimis, dengan harga ICP US$ 115 per barel, kurs Rp 17.500, growth 5,2% SBN 7,2% defisitnya 4,06%.

"Artinya dengan berbagai skenario ini defisit 3% itu sulit kita pertahankan, kecuali memotong belanja, dan memotong pertumbuhan pak," kata Airlangga.

(haa/haa)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |