WHO Warning Darurat Wabah Ebola Global: Cepat Menular-Mematikan

4 hours ago 8

Jakarta, CNBC Indonesia - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi menyuarakan kekhawatiran mendalam atas skala dan kecepatan penyebaran wabah virus Ebola yang mematikan di Republik Demokratik Kongo (DRC). Badan kesehatan di bawah naungan PBB tersebut memperingatkan bahwa penanganan krisis kesehatan ini berpotensi memakan waktu yang sangat lama.

Mengutip Channel News Asia, WHO melaporkan pada Selasa (19/05/2026) bahwa lonjakan kasus demam berdarah yang sangat menular ini telah ditetapkan sebagai darurat kesehatan internasional. Merespons situasi darurat tersebut, badan PBB ini langsung menyerukan pertemuan mendesak untuk membahas langkah-langkah penanggulangan krisis.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengungkapkan rasa was-was yang mendalam melihat perkembangan penyebaran virus yang berjalan sangat masif di lapangan. Karakteristik penularan kali ini dinilai jauh lebih agresif dibandingkan sebelumnya.

"Saya sangat prihatin dengan skala dan kecepatan epidemi ini," ujar Ghebreyesus dalam pidato resminya.

Kondisi di lapangan semakin mengkhawatirkan lantaran belum ada vaksin atau pengobatan terapeutik yang tersedia untuk strain Bundibugyo, jenis virus Ebola yang bertanggung jawab atas wabah yang dideklarasikan akhir pekan lalu. Sebagai catatan sejarah, virus Ebola sendiri telah merenggut lebih dari 15.000 jiwa di daratan Afrika dalam kurun waktu setengah abad terakhir.

Mengingat kasus-kasus terbaru sebagian besar terkonsentrasi di daerah terpencil yang sulit diakses dan dilanda konflik berkepanjangan, pengujian laboratorium baru bisa dilakukan pada sedikit sampel. Oleh karena itu, angka statistik yang dirilis sejauh ini sebagian besar masih didasarkan pada perhitungan kasus suspek.

Menteri Kesehatan Kongo, Samuel Roger Kamba, menjabarkan rincian angka fatalitas akibat wabah ini melalui siaran televisi nasional. Pemerintah setempat terus melakukan pelacakan aktif di tengah keterbatasan fasilitas medis.

"Kami telah mencatat sekitar 131 kematian secara total dan kami memiliki sekitar 513 kasus suspek," kata Kamba dalam keterangannya.

Kamba menambahkan bahwa data angka kematian yang dilaporkan mencakup seluruh jenazah yang diidentifikasi langsung di lingkungan komunitas masyarakat. Pihaknya menegaskan bahwa belum bisa dipastikan apakah seluruh angka kematian tersebut murni berkaitan dengan paparan virus Ebola atau ada faktor lain.

"Kematian yang kami laporkan adalah semua kematian yang kami identifikasi di dalam komunitas, tanpa harus mengatakan bahwa semuanya terkait dengan Ebola," tutur Kamba.

Berbicara langsung dari wilayah DRC, Perwakilan WHO, Anne Ancia, menyampaikan kepada para jurnalis di Jenewa bahwa salah satu kandidat vaksin bernama Ervebo saat ini tengah diteliti secara intensif. Kendati demikian, proses ketersediaan vaksin tersebut diprediksi membutuhkan waktu yang cukup lama.

"Kemungkinan akan memakan waktu setidaknya dua bulan agar vaksin tersebut tersedia di lapangan," ungkap Ancia.

Namun demikian, Ancia menilai pasokan vaksin tersebut nantinya akan tetap sangat berguna untuk menekan angka fatalitas. Dirinya memproeksikan bahwa perang melawan penyebaran wabah ini tidak akan bisa diselesaikan dalam waktu singkat.

"Saya tidak berpikir bahwa dalam dua bulan kita akan selesai dengan wabah ini," tambah Ancia.

Konflik Perparah Keadaan

Wabah Ebola paling mematikan di DRC sebelumnya terjadi antara tahun 2018 dan 2020, yang mengklaim hampir 2.300 korban jiwa dari total 3.500 kasus. Saat ini, titik episentrum dari kasus-kasus baru berada di provinsi Ituri bagian timur laut, wilayah yang berbatasan langsung dengan Uganda dan Sudan Selatan.

Sebagai pusat penambangan emas, wilayah ini mencatat mobilitas warga yang sangat tinggi yang secara teratur melintasi kawasan perbatasan. Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa Ituri telah dirundung bentrokan berdarah antar milisi lokal selama bertahun-tahun, sehingga menghambat penanganan medis.

Kini, virus dilaporkan telah menyebar luas ke provinsi-provinsi tetangga, bahkan telah menembus batas negara DRC hingga masuk ke wilayah Uganda. Kamba mengungkapkan bahwa keterlambatan deteksi awal dipicu oleh faktor sosiologis masyarakat setempat yang salah mengidentifikasi penyakit tersebut.

"Sayangnya, peringatan dini lambat beredar di dalam komunitas karena masyarakat mengira ini adalah penyakit mistis, dan akibatnya, orang yang sakit tidak dibawa ke rumah sakit," papar Kamba.

Saat ini, krisis Ebola tersebut menjadi wabah yang ke-17 kalinya melanda negara terluas di Afrika Tengah yang dihuni oleh lebih dari 100 juta jiwa tersebut. Kendala terbesar bagi tim medis adalah fakta bahwa vaksin yang ada saat ini hanya efektif untuk menangani strain Zaire, yang sebelumnya menyebabkan wabah terbesar dalam sejarah.

Sementara itu, strain Bundibugyo tercatat pernah memicu wabah di Uganda pada tahun 2007 dan di DRC pada tahun 2012, dengan tingkat kematian atau mortalitas berkisar antara 30% hingga 50%. Menanggapi situasi genting ini, Presiden Kongo, Felix Tshisekedi, mendesak seluruh warga negara untuk tidak panik menghadapi situasi.

Pihak kepresidenan melalui media sosial X menyatakan bahwa kepala negara telah menginstruksikan jajaran pemerintah untuk mempercepat dan memperkuat respons darurat di lapangan. Berdasarkan data terbaru, kasus suspek juga telah dilaporkan berada di pusat perdagangan Butembo, Provinsi Kivu Utara, yang berjarak sekitar 200 kilometer dari titik awal penyebaran wabah.

Satu kasus lainnya dikonfirmasi telah ditemukan di kota Goma, ibu kota Provinsi Kivu Utara, yang telah dikuasai oleh kelompok pemberontak M23 sejak Januari tahun lalu. Dokter asal Kongo sekaligus peraih Penghargaan Nobel Perdamaian 2018, Denis Mukwege, melayangkan seruan terbuka kepada kelompok yang didukung Rwanda tersebut untuk segera membuka kembali akses penerbangan.

Langkah ini dinilai sangat krusial mengingat bandara Goma telah ditutup total sejak milisi M23 merebut kendali kota. Garis depan pertempuran yang memisahkan kelompok anti-pemerintah dan pasukan militer Kongo saat ini membentang membelah wilayah Provinsi Kivu Utara dan Kivu Selatan.

Kepala Delegasi Komite Internasional Palang Merah (ICRC) di DRC, Francois Moreillon, menegaskan bahwa faktor stabilitas keamanan menjadi tantangan paling berat dalam menyalurkan bantuan kemanusiaan ke zona merah. Pihaknya meminta komitmen dari seluruh faksi bersenjata demi kelancaran misi penyelamatan darurat.

"Akses kemanusiaan dan koordinasi di antara berbagai pemangku kepentingan, khususnya pihak-pihak yang bertikai dalam konflik, bisa menjadi salah satu tantangan terbesar untuk respons penanganan ini," pungkas Moreillon pada Senin.

(tps/tps)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |