Wall Street Ambruk di Akhir Tahun, Saham Google Sudah Terbang 65%

11 hours ago 12

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street ditutup ambruk berjamaah pada hari terakhir di 2025, Rabu (31/12/2025). Kendati demikian, secara keseluruhan tahun, Wall Street masih positif.

Indeks S&P 500 turun 0,74% dan ditutup di level 6.845,50, sementara Nasdaq Composite melemah 0,76% dan berakhir di 23.241,99. Dow Jones Industrial Average kehilangan 303,77 poin atau 0,63% dan ditutup di 48.063,29.

Sepanjang tahun, S&P 500 tetap membukukan kenaikan 16,39%, menandai tahun ketiga berturut-turut dengan pertumbuhan dua digit.

Nasdaq Composite terdongkrak antusiasme terhadap kecerdasan buatan (AI) dan melesat 20,36%. Dow Jones melonjak 12,97% sepanjang 2025, meski sedikit tertahan karena minimnya eksposur terhadap saham teknologi.

Bila dilihat sepanjang Desember, Dow Jones menutup Desember dengan kenaikan 0,7% dan mencatatkan delapan bulan berturut-turut dengan kinerja positif, hasil rentetan terpanjang sejak 2018.

S&P 500 menutup Desember dengan penurunan kurang dari 0,1%, sementara Nasdaq melemah 0,5% sepanjang periode tersebut.

Capaian ini mencerminkan pemulihan yang mengesankan dari kejatuhan pasar dibandingkan awal April. Saat itu pasar ambruk menyusul pengumuman tarif besar-besaran oleh Presiden AS Donald Trump pada 3 April 2025.

Pada April, S&P 500 nyaris ditutup di wilayah bear market, turun hampir 19% dari puncak Februari dan menembus ke bawah level 5.000 untuk pertama kalinya sejak April 2024.

"Pemerintahan belajar bahwa tarif yang lebih cerdas, lebih sempit, dan diterapkan secara bertahap adalah jenis kebijakan yang masih bisa diserap pasar," kata Keith Buchanan, manajer portofolio senior di Globalt Investments, kepada CNBC.

Dia menambahkan pasar kini, berkat pengalaman 2025 dan mampu melihat melampaui potensi perubahan tarif pada 2026. Ini dengan asumsi pemerintah mengingat pelajaran 2025 dan korporasi Amerika mampu beradaptasi cepat sambil tetap menjaga margin.

Tak Ada Santa Rally?

Penurunan Wall Steret kemarin cukup mengkhawatirkan. Pasalnya pelemahan ini terjadi di tengah periode Santa Claus rally yang biasanya memberi dorongan terakhir bagi saham menjelang akhir tahun.

Aksi ambil untung belakangan juga bisa menjadi sinyal awal volatilitas ke depan.

Menurut Stock Trader's Almanac, pasar saham cenderung naik pada lima hari perdagangan terakhir tahun berjalan dan dua hari pertama tahun baru.

Para analis yang disurvei CNBC memperkirakan S&P 500 masih berpeluang mencatatkan kenaikan dua digit pada 2026, namun banyak yang khawatir saham akan bergerak dalam rentang terbatas sepanjang tahun, seiring pertumbuhan laba perusahaan berusaha mengejar valuasi yang sudah tinggi.

AI Jadi Bintang 2025

Kecerdasan buatan atau AI telah menjadi kekuatan utama yang mendorong pasar selama tiga tahun terakhir.

Pada 2023, S&P 500 melonjak 24% setelah kemunculan ChatGPT pada tahun sebelumnya memicu euforia terhadap perusahaan-perusahaan yang diperkirakan paling diuntungkan dari revolusi teknologi. Pada 2024, indeks S&P kembali reli sekitar 23%.

Narasi AI mulai sedikit terfragmentasi pada tahun ini, seiring reli yang meluas ke sektor-sektor lain, bahkan kinerja saham-saham "Magnificent Seven" juga terbelah.

Alphabet- induk Google- menjadi pemenang besar di antara saham mega-kapitalisasi, naik 65,4% sepanjang 2025 seiring taruhan investor bahwa raksasa mesin pencari ini dapat mengungguli OpenAI. Amazon menjadi yang tertinggal, hanya naik 5,2%.

Saham Nvidia melesat 38,9% sepanjang 2025, saham Apple melonjak 8,6%, dan Meta melesat 12,7%.

Lebih jauh, banyak kelas aset di luar saham mega-kap justru mulai mengungguli. Komoditas mencatatkan tahun yang sangat baik, dengan emas naik lebih dari 64% dan perak melesat lebih dari 141%.

"Kami melihat perubahan internal pasar yang mengindikasikan bahwa 2026 bisa terlihat sangat berbeda dibanding 2025 bahkan lebih berbeda dibanding 2023 dan 2024," ujar Buchanan.

"Pasar akan lebih digerakkan oleh fundamental yang tidak terlalu bergantung pada kebijakan moneter dan pembangunan infrastruktur AI." Imbuhnya.

Dari bursa Eropa, indeks Stoxx 600 pan-Eropa ditutup melemah 0,1% pada sesi perdagangan yang dipersingkat hari Rabu, dengan mayoritas indeks sektoral berada di zona negatif.

Indeks FTSE 100 Inggris mengakhiri perdagangan turun 0,2%, namun tetap mencatatkan kenaikan tahunan sebesar 21,5% yang menjadi kinerja tahunan terkuat sejak 2009.

Sementara itu, indeks CAC 40 Prancis menutup malam Tahun Baru turun 0,2%, sedangkan DAX Jerman naik 0,6%. Indeks FTSE MIB Italia melonjak 1,1%, sehingga kenaikan tahunannya mencapai 31,5%, kinerja terbaik sejak 1998.

Pasar hanya dibuka setengah hari pada Rabu, dan akan tutup pada Kamis untuk libur Tahun Baru sebelum kembali dibuka pada Jumat.

Saham-saham sektor pertahanan menguat untuk hari kedua berturut-turut, dengan Saab, Renk, dan Rheinmetall ditutup naik antara 2% hingga 3%. Kenaikan tersebut membawa lonjakan tahunan saham-saham ini ke kisaran 130% hingga 193%.

(mae/mae)

Read Entire Article
Photo View |