Jakarta, CNBC Indonesia- Tak semua komoditas datang dari ladang subur atau tambang kaya. Kadang, ia muncul dari sunyi hutan tropis, dari tubuh bersisik yang melata perlahan.
Bagi banyak orang, ular adalah ketakutan atau terkadang menggelikan, bisa juga jadi siimbol dari bahaya, kematian, atau kemalangan.
Tapi di belahan lain dunia terutama di China ular justru menjadi penyambung hidup, obat, dan sumber pangan. Di balik gerakannya yang nyaris tak bersuara, ular menyimpan cerita panjang tentang kepercayaan, sains, dan nilai ekonomi yang tak terduga.
Indonesia dengan hutan tropisnya yang luas, biodiversitasnya yang tinggi, telah menjadi salah satu pemasok utama ular ke negeri tirai bambu. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor ular RI ke Chinna mencapai US$2,78 juta sepanjang 2024, menjadikan negara tersebut sebagai tujuan utama ekspor reptil eksotis ini. Sebagai pembanding, Hong Kong tercatat hanya menyerap US$69 ribu, menjadikannya pasar sekunder yang kecil tapi tetap aktif.
Sejak era pengobatan kuno, masyarakat China telah percaya bahwa bagian tubuh ular terutama empedunya mengandung khasiat luar biasa. Cairan pekat berwarna kehijauan itu diyakini mampu mengatasi panas dalam, meredakan batuk, hingga mengobati keracunan makanan. Sementara di sisi yang lebih simbolik, ular diyakini membawa energi penyembuh, kehangatan dalam tubuh, bahkan memperkuat sistem imun.
Salah satu bentuk konsumsi yang paling populer adalah anggur ular, yakni larutan alkohol yang telah direndam dengan ular berbisa utuh selama berbulan-bulan. Rasanya tajam, aromanya menyengat, dan sering dikonsumsi sebagai tonik untuk memperbaiki fungsi ginjal, mengurangi nyeri otot, hingga mengatasi sakit kepala kronis. Minuman ini tidak sekadar tradisi, tapi juga jadi bagian dari industri kesehatan alternatif yang terus tumbuh di kota-kota besar China.
Namun, kepercayaan budaya bukan satu-satunya alasan ular jadi komoditas bernilai tinggi. Dalam beberapa tahun terakhir, riset dari Macquarie University di Australia menyebut bahwa ular bisa menjadi alternatif pangan masa depan.
Dibandingkan ayam atau sapi, ular relatif lebih mudah dibudidayakan. Mereka tidak membutuhkan banyak air, tidak memproduksi metana, dan tumbuh cepat dengan konsumsi pakan yang minimal. Dagingnya pun kaya protein dan rendah lemak jenuh, menjadikannya pilihan menarik bagi kalangan urban yang semakin sadar gizi dan lingkungan.
Di wilayah selatan China serta sebagian Asia Tenggara, ular sudah menjadi bagian dari tradisi kuliner. Sup ular, salah satu menu klasik dari Guangdong hingga Taipei, biasanya dibuat dari berbagai spesies seperti banded krait, Chinese cobra, hingga rat snake. Sementara ular piton yang banyak dibudidayakan di Indonesia lebih sering diproses untuk daging maupun kulitnya. Di balik tampilannya yang menyeramkan, ular telah menjadi bahan baku yang fleksibel: bisa dimasak, difermentasi, bahkan dijadikan aksesoris fesyen.
Namun di tengah geliat pasar yang menggoda, angka ekspor Indonesia justru menunjukkan tren menurun dalam dua tahun terakhir. Setelah sempat melonjak di 2022, volume ekspor menurun perlahan. Bukan karena permintaannya menghilang, tetapi karena semakin banyak tantangan yang muncul dari sisi regulasi, perubahan kebijakan internasional, hingga kekhawatiran akan keberlanjutan praktik penangkapan liar di alam.
Banyak negara kini mulai lebih ketat dalam mengawasi perdagangan satwa liar, termasuk reptil seperti ular. Regulasi CITES (Convention on International Trade in Endangered Species) menjadi payung hukum global yang mengatur kuota dan jenis spesies yang boleh diekspor. Di sisi lain, negara-negara pengimpor seperti China juga mulai memperketat pengawasan kualitas dan asal usul, menyusul kekhawatiran akan zoonosis dan keberlanjutan lingkungan.
Di satu sisi, ular adalah komoditas yang memiliki nilai tambah tinggi dan membuka peluang ekspor non-tradisional. Tapi di sisi lain, jika tidak dikelola secara hati-hati, praktik budidaya dan penangkapan liar bisa memicu konflik ekologis dari ketidakseimbangan rantai makanan, eksploitasi berlebihan, hingga potensi kepunahan spesies tertentu.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)