Trump Bodo Amat dengan Ekonomi AS, yang Penting Iran Tak Punya Nuklir

4 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa kesulitan finansial yang dihadapi warga Amerika tidak menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusannya terkait negosiasi perang dengan Iran. Trump menyatakan bahwa prioritas utamanya saat ini adalah mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir, tanpa mempedulikan dampak ekonomi yang dirasakan rakyatnya.

Mengutip Reuters, pernyataan keras tersebut disampaikan Trump pada hari Selasa, (12/05/2026), saat ditanya oleh wartawan mengenai sejauh mana situasi keuangan warga AS memotivasi dirinya untuk mencapai kesepakatan damai. Trump secara blak-blakan menjawab bahwa hal tersebut sama sekali tidak mempengaruhinya.

"Satu-satunya hal yang penting, ketika saya berbicara tentang Iran, mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir. Saya tidak memikirkan situasi keuangan warga Amerika. Saya tidak memikirkan siapapun. Saya memikirkan satu hal: Kita tidak bisa membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Itu saja. Itulah satu-satunya hal yang memotivasi saya," kata Trump sebelum bertolak dari Gedung Putih menuju China.

Pernyataan ini muncul di tengah tekanan besar dari rekan-rekan Partai Republik yang khawatir bahwa beban ekonomi akibat perang dapat memicu reaksi negatif dari pemilih. Kekhawatiran ini kian nyata mengingat kenaikan biaya energi akibat konflik Iran telah mendongkrak harga bensin dan memicu inflasi, di mana data inflasi konsumen AS pada bulan April mencatat kenaikan terbesar dalam tiga tahun terakhir.

Direktur Komunikasi Gedung Putih Steven Cheung memberikan penjelasan tambahan mengenai komentar sang presiden dengan menekankan aspek keamanan nasional. Ia menegaskan bahwa tanggung jawab utama presiden adalah menjamin keselamatan seluruh warga Amerika dari ancaman nuklir Iran.

"Tanggung jawab utama presiden adalah keselamatan dan keamanan warga Amerika. Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, dan jika tindakan tidak diambil, mereka akan memilikinya, yang mana akan mengancam seluruh warga Amerika," kata Cheung.

Meskipun Trump membingkai langkahnya sebagai masalah keamanan global, laporan intelijen AS memberikan sudut pandang berbeda.

Menurut tiga sumber yang mengetahui masalah tersebut, penilaian intelijen menunjukkan bahwa waktu yang dibutuhkan Iran untuk membangun senjata nuklir tetap tidak berubah sejak musim panas lalu, yakni sekitar sembilan bulan hingga satu tahun, meskipun perang telah berlangsung selama dua bulan.

Pemerintah Iran sendiri secara konsisten membantah tuduhan bahwa mereka sedang mengembangkan senjata nuklir dan menyatakan bahwa program tersebut murni untuk tujuan damai. Namun, pihak Barat tetap menaruh kecurigaan besar bahwa Teheran sedang membangun kemampuan untuk memproduksi bom nuklir.

(tps/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |