- Pasar keuangan Indonesia ambruk pekan lalu di tengah memanasnya perang dan harga minyak
- Wall Street jatuh pada pekan lalu imbas dari perang
- Perkembangan perang, defisit APBN hingga keputusan suku bunga akan menjadi penggerak pasar keuangan Indonesia pekan ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia babak belur pada perdagangan pekan lalu. Bursa saham hingga nilai tukar ambruk berjamaah.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan tertekan pada pekan ini di tengah pendeknya hari perdagangan yakni cuma dua hari. Selengkapnya mengenai sentimen pekan ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), nilai tukar hingga Surat Berharga Negara (SBN) pada pekan lalu tertekan hebat setelah perang Iran versus Israel- Amerika Serikat (AS) memanas dan melambungkan harga minyak.
Harga minyak menyentuh level US$ 100 atau tertinggi sejak 2022. Lonjakan ini memicu kekhawatiran tingginya inflasi, kenaikan dolar AS hingga melemehanya proyeksi pemangkasan suku bunga. Investor asing pun memilih untuk meninggalkan pasar keuangan Indonesia sehingga IHSG hingga rupiah mengalami tekanan.
IHSG pada perdagangan Jumat (13/3/2026) ditutup di posisi 7.137,21 atau ambruk 3,05%. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif IHSG dengan ambruk tiga hari beruntun. Pelemahan ini juga membawa IHSG ke level terendah sejak Juli 2025.
Selama satu pekan, IHSG jatuh 5,91% dan ada di zona merah sebanyak 4 dari lima hari perdagangan. Artinya, IHSG sudah ambruk selama tiga pekan beruntun.
Selama satu pekan IHSG juga mencatat net sell sebesar Rp 1,72 triliun.
Seiring pelemahan, kapitalisasi pasar turut menyusut 6,96% menjadi Rp 12.678 triliun, dari posisi pekan sebelumnya Rp 13.627 triliun.
Aktivitas perdagangan juga mengalami perlambatan cukup signifikan. Rata-rata volume transaksi harian turun 25,49% menjadi 31,55 miliar saham, dari sebelumnya 42,34 miliar saham.
Frekuensi transaksi harian merosot 31,54% menjadi 1,87 juta kali transaksi dan nilai transaksi harian juga turun 31,10% menjadi Rp 17,20 triliun, dibandingkan pekan sebelumnya Rp 24,97 triliun.
Sepanjang pekan, seluruh sektor saham berada di zona merah. Penurunan terbesar terjadi pada sektor infrastruktur, consumer, dan energi.
Saham-saham dengan pelemahan terbesar pekan lalu adalah.PT Hotel Fitra International Tbk (FITT) yang anjlok 48,61%, 2.PT Indospring Tbk (INDS) jeblok 45,15%, dan .PT Aracord Nusantara Group Tbk (RONY) yang ambles 43,27%.
Namun, ada beberapa saham yang justru melejit. Di antaranya PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA) yang melonjak 65,15% , PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) terbang 43,09%, dan PT Prasidha Aneka Niaga Tbk (PSDN) meelsat 36,27%.
Investor asing tercatat melakukan aksi jual besar-besaran di pasar saham Indonesia sepanjang pekan ini, dengan saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi sasaran utama.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), empat saham bank besar mengalami net sell asing signifikan. Di antaranya Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dengan net sell mencapai Rp971,99 miliar, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatat net sell Rp538,04 miliar, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang mencatat net sell Rp386,94 miliar.
Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah ditutup di posisi Rp 16.935 per dolar AS atau melemah 0,3% pada perdagangan Jumat. Dalam sepekan rupiah melemah 0,21%. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif pada pekan sebelumnya.
Penutupan rupiah pekan lalu adalah yang terendah sejak 26 Januari 2026. Rupiah tertekan hebat oleh lonjakan dolar AS di tengah memanasnya perang. Indeks dolar kembali menyentuh 100 pada perdagangan Jumat atau level tertingginya sejak Mei 2025.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik ke 6,8% atau posisi tertingginya sejak Juni 2025. Imbal hasil SBN yang melonjak menandai harga SBN yang jatuh karena investor menjualnya.
source on Google

















































