Survei Terbaru: Raja Lebih Dicintai, Politisi Eropa Kalah Pamor

7 hours ago 6

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

03 May 2026 09:45

Jakarta, CNBC Indonesia - Para raja yang tak membuat kebijakan justru mengungguli politisi yang memegang kendali pemerintahan.

Warga Eropa nampaknya lebih mempercayai mahkota dari pada yang memang berwenang membuat kebijakan, dengan selisih mendekati 30 poin.

Riset Morning Consult yang diolah oleh Visual Capitalist memperlihatkan pola yang konsisten di delapan negara.

Dari Inggris hingga Luksemburg, kepala negara simbolik selalu mencatat tingkat persetujuan lebih tinggi dibanding pemimpin nasional. Tidak ada pengecualian dalam sampel ini.

Raja berdiri di luar arena konflik kebijakan. Mereka tidak terlibat dalam keputusan sehari-hari terkait inflasi, imigrasi, atau layanan publik.

Sementara itu, pemimpin terpilih berada di garis depan, menghadapi tekanan dari setiap kebijakan yang diambil. Risiko politik melekat pada setiap keputusan, dan angka popularitas ikut menanggung beban itu.

Di Inggris, Raja Charles III mencatat tingkat persetujuan 53%, sementara Perdana Menteri Keir Starmer berada di 27%. Selisihnya mencapai 26 poin. Pola serupa muncul di Belanda, ketika Raja Willem-Alexander berada di 63%, sementara Rob Jetten hanya 28%.

Norwegia memperlihatkan angka yang relatif sejalan. Raja Harald V di 61%, Jonas Gahr Støre di 31%. Belgia mencatat jarak lebih lebar, dengan Raja Philippe di 66% dan Bart de Wever di 35%. Di Swedia, Raja Carl XVI Gustaf berada di 55%, sementara Ulf Kristersson di 38%.

Spanyol menjadi kasus paling ekstrem. Raja Felipe VI mencatat 76%, sedangkan Perdana Menteri Pedro Sánchez di 38%. Selisih hampir 40 poin. Angka ini memberi gambaran tekanan besar yang dihadapi kepemimpinan politik di negara tersebut.

Denmark juga menunjukkan jurang yang dalam. Raja Frederik X berada di 80%, sementara Mette Frederiksen di 43%. Luksemburg menjadi yang paling sempit, namun tetap signifikan. Grand Duke Henri di 69%, Luc Frieden di 49%.

Figur simbolik menjaga jarak dari konflik kebijakan, sehingga tidak terseret sentimen negatif. Pemimpin terpilih bergerak dalam ruang keputusan yang penuh risiko. Setiap kebijakan menciptakan pemenang dan pihak yang kecewa.

Di Eropa modern, popularitas tidak selalu berbanding lurus dengan kekuasaan. Sosok yang paling terlihat justru bukan yang paling menentukan arah kebijakan.


CNBC Indonesia Research

(emb/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |