Purbaya Jamin Subsidi BBM Tak Jebol di 2026 Meski Ada Perang Iran

15 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Prabowo Subianto bersama dengan mantan presiden & wakil presiden RI hingga ketua umum partai politik membicarakan kapasitas fiskal Indonesia dalam menghadapi potensi tekanan harga minyak dunia, imbas perang AS-Israel dengan Iran, di Istana Negara, Jakarta, dalam agenda

Hal ini diungkapkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang turut hadir dalam pertemuan itu Selasa malam (3/3/2026). Pertemuan itu digelar Prabowo dalam rangka silaturahmi dan diskusi setelah buka bersama puasa Ramadan.

"Ada bahas antara lain kalo krisis seperti ini berkepanjangan, tahan enggak anggarannya, anggarannya seperti apa," kata Purbaya dikutip Rabu (4/3/2026).

Purbaya mengatakan, dari hasil simulasi yang telah Kementerian Keuangan buat, potensi krisis berkepanjangan yang disebabkan konflik lintas negara di kawasan Timur Tengah itu tak akan membuat kondisi APBN mengalami tekanan defisit alias jebol, terutama untuk menanggung beban subsidi BBM efek harga minyak naik.

Sebagaimana diketahui, negara-negara kawasan Timur Tengah merupakan produsen utama minyak mentah dunia. Konflik yang mulai meluas di kawasan itu pun telah membuat harga minyak dunia naik sejak awal pekan ini.

Berdasarkan Refinitiv per pukul 12.55 WIB, kontrak Brent crude berada di US$80,32 per barel, melonjak 3,24% dibandingkan penutupan Senin (2/3/2026) di US$73,2. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) tercatat di US$72,41 per barel, naik 2,60% dari posisi sebelumnya di US$71,23.

Purbaya mengatakan, ketahanan APBN ini disebabkan kemampuan pemerintah dalam mengumpulkan penerimaan negara sudah semakin baik. Per Januari 2026, setoran pajak sudah mampu mencapai Rp116,2 triliun atau tumbuh 30,7% (year on year (yoy).

"Kalau analisa kita yang ada sekarang sih masih cukup baik, jadi nggak ada masalah, karena tax collection kita juga membaik, Januari-Februari kan tumbuhnya 30%. Itu angka yang signifikan sekali, artinya ada perbaikan yang signifikan di ekonomi dan perilaku orang-orang pajak dan bea cukai," tegas Purbaya.

Ia pun memastikan, dari hasil simulasi yang dilakukan untuk sepanjang tahun ini, beban subsidi BBM tidak akan mengalami pembengkakan yang membuat APBN terguncang efek perang Iran vs Israel-AS itu.

Sebagaimana diketahui, dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 118 Tahun 2025 tentang Rincian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2026, anggaran belanja subsidi bahan bakar dan energi yang telah disiapkan dalam Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara (BA BUN) sebesar Rp 210,06 triliun. Nilai itu lebih tinggi dibanding yang disiapkan pada 2025 sebesar Rp 203,41 triliun.

"Pokoknya kita hitung simulasi harga minyak level tertentu ya setahun, untuk anggaran setahun ini. Jadi masih bisa di absorb kalo harga minyak naik. Kalau terlalu tinggi, kalau ekstrem sekali akan kita hitung ulang," kata Purbaya.

(arj/haa)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |