Jakarta, CNBC Indonesia - Kedutaan Besar AS di Baghdad mendesak semua warga negara Amerika untuk segera meninggalkan Irak pada hari Sabtu setelah kantor kedutaan diserang untuk kedua kalinya sejak perang dengan Iran dimulai.
Peringatan tersebut menyatakan bahwa milisi yang bersekutu dengan Iran telah melakukan banyak serangan terhadap target yang terkait dengan Amerika Serikat, termasuk fasilitas diplomatik, perusahaan Amerika, dan hotel yang sering dikunjungi oleh warga asing. Peringatan tersebut merekomendasikan warga Amerika untuk melakukan perjalanan darat ke negara-negara tetangga karena penerbangan komersial tidak beroperasi dan memperingatkan mereka untuk tidak datang ke kedutaan atau konsulat AS di kota Erbil di utara.
Kataib Hezbollah, salah satu dari beberapa milisi yang didukung Iran di Irak, mengklaim bertanggung jawab atas serangan pada hari Sabtu, dengan mengatakan bahwa mereka telah menembaki kedutaan pada malam sebelumnya. Sebuah video yang diverifikasi oleh The New York Times menunjukkan sebuah bangunan di atap kedutaan terbakar.
Mengutip laporan NYT, dua pejabat keamanan Irak yang tidak berwenang untuk berbicara di depan umum mengkonfirmasi serangan tersebut tetapi tidak dapat memberikan detail tambahan.
Semalam, serangan udara AS menghantam target militer di Pulau Kharg, tempat terminal ekspor minyak utama Iran berada. Presiden Trump mengancam akan membom infrastruktur minyak Iran di pulau itu jika Teheran tidak mengizinkan kapal-kapal melewati Selat Hormuz, jalur sempit menuju Teluk Persia yang harus dilalui seperlima minyak dunia.
Namun, Korps Garda Revolusi Islam Iran menentang ancaman Trump, menegaskan dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu bahwa jalur air penting itu berada di bawah kendali penuh mereka dan bahwa "setiap upaya untuk bergerak atau melintas akan menjadi sasaran."
Trump juga menyerukan negara-negara lain, termasuk Inggris, Prancis, dan Tiongkok, untuk mengirim kapal perang ke Iran untuk mencoba memastikan kapal tanker minyak dapat melewati selat tersebut, dan berjanji bahwa Amerika Serikat akan berkoordinasi dengan mereka. Harga minyak telah naik tajam sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang udara mereka terhadap Iran dua minggu lalu, mengguncang pasar dunia.
(fsd/fsd)
Addsource on Google
















































