Perang Iran Terus Makan Korban, Bisnis Tetangga RI Terancam Bangkrut

1 hour ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Dampak perang Iran yang kian meluas. Hal ini memicu guncangan hebat di sektor industri makanan India.

Perang menyebabkan terganggunya rantai pasok gas minyak cair (Liquefied Petroleum Gas (LPG)) global. Jutaan restoran di seluruh penjuru India kini berada di ambang penutupan massal.

Sebagian besar LPG India, dipenuhi melalui impor. Terhambatnya jalur distribusi di Selat Hormuz membuat pasokan energi negara tersebut kritis, mengingat mayoritas pengiriman harus melewati titik nadi perdagangan dunia tersebut.

Belum lagi, Kementerian Perminyakan dan Gas Alam India secara resmi menginstruksikan kilang minyak untuk memprioritaskan pasokan LPG bagi 330 juta rumah tangga sebagai bahan bakar memasak utama, Selasa. Kebijakan ini mengorbankan lebih dari 3 juta pelaku usaha yang selama ini bergantung pada tabung LPG komersial.

Pemerintah India melalui unggahan di media sosial X menyatakan bahwa selain memprioritaskan rumah tangga, pihaknya akan mengalihkan penggunaan gas alam cair impor untuk sektor komersial esensial. Fasilitas publik seperti rumah sakit dan lembaga pendidikan akan mendapatkan akses lebih dulu dibandingkan industri hiburan dan makanan.

Mengutip CNBC International, Rabu (11/3/2026), Presiden Asosiasi Restoran Nasional India (NRAI), Sagar Daryani, menyatakan bahwa kebijakan prioritas tersebut menciptakan situasi krisis yang sangat mengkhawatirkan. Ia memperingatkan bahwa langkah ini akan memaksa banyak restoran untuk berhenti beroperasi dalam beberapa hari ke depan.

"Sebanyak 90% restoran di India sangat bergantung pada tabung LPG untuk menjalankan dapur mereka. Industri ini sudah menghadapi permintaan yang rendah dan biaya tinggi, jika masalah pasokan LPG terus berlanjut, hal itu akan menyebabkan penutupan bisnis dan kehilangan pekerjaan," ujar Sagar Daryani.

NRAI sendiri mewakili lebih dari 500.000 restoran di seluruh India. Industri ini merupakan pilar ekonomi penting dengan omzet tahunan mencapai lebih dari 5,7 triliun rupee (Rp1.077 triliun) dan menyerap tenaga kerja hingga lebih dari 8 juta orang.

Sagar Daryani menambahkan bahwa saat ini pihaknya tengah mendesak pemerintah agar mengambil langkah perlindungan bagi sektor kuliner. NRAI meminta pemerintah untuk segera mengklasifikasikan industri restoran sebagai layanan esensial agar mendapatkan kepastian pasokan energi.

India saat ini menyandang status sebagai importir LPG terbesar kedua di dunia dengan tingkat konsumsi mencapai 31,3 juta metrik ton pada tahun fiskal 2025. Laporan dari S&P Global menyebutkan bahwa kemampuan produksi domestik India hanya mampu memenuhi sekitar 41% dari total permintaan tersebut.

Senior Vice President pasar komoditas di Rystad Energy, Manish Sejwal, menjelaskan betapa rentannya posisi India dalam konflik ini. Ketergantungan pada jalur laut yang sedang bergejolak menjadi titik lemah utama bagi ketahanan energi negara tersebut.

"India mengimpor sekitar 67% dari kebutuhan LPG-nya, dengan sekitar 90% dari impor ini transit melalui Selat Hormuz," kata Manish Sejwal.

Di Ambang Kebangkrutan

Kondisi di lapangan semakin memburuk bagi para pelaku usaha kecil. Kelompok lobi hotel dan restoran yang berbasis di Mumbai, AHAR, telah melaporkan masalah kelangkaan ini kepada otoritas setempat dan memberikan peringatan keras bahwa banyak anggota mereka sudah berada di ambang kebangkrutan.

Di wilayah selatan, situasinya bahkan lebih mencekam bagi para pengusaha hotel. Presiden Asosiasi Hotel Chennai, M. Ravi, mengungkapkan bahwa pemutusan operasional secara masif tidak akan terelakkan dalam waktu dekat akibat ketiadaan bahan bakar.

"Hampir 10.000 tempat usaha akan tutup pada hari Rabu di seluruh negara bagian Tamil Nadu. Ini akan mencakup mayoritas restoran kecil dan menengah di sana," tutur M. Ravi.

Meskipun pemerintah tidak secara eksplisit menghentikan total pasokan ke hotel dan restoran pada awalnya, instruksi terbaru kepada perusahaan pemasaran minyak domestik telah memperketat aliran gas. Para distributor kini dilarang menyalurkan stok yang tersisa ke sektor komersial.

Presiden Federasi Distributor LPG Seluruh India, Chandra Prakash, mengonfirmasi bahwa arahan dari pusat sangat jelas. Distributor diminta untuk memutus pasokan ke sektor komersial demi menjaga ketahanan stok bagi masyarakat umum.

"Restoran harus mencari sumber bahan bakar alternatif seperti kayu atau minyak tanah atau beralih ke kompor listrik," pungkas Chandra Prakash, yang organisasinya mewakili hampir 25.000 distributor LPG di India.

Masalah Sensitif

Persoalan LPG merupakan isu politik yang sangat sensitif di India, terutama karena berkaitan dengan skema kesejahteraan sosial Perdana Menteri Narendra Modi yang mensubsidi LPG bagi rumah tangga miskin. Hingga November, pemerintah telah menyediakan 103 juta koneksi gas bersubsidi, dan harga gas diprediksi akan menjadi isu panas dalam pemilu di lima negara bagian India pada paruh pertama tahun 2026.

(tps/sef)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |