Penyebab IHSG Anjlok 2,5% Lebih, Saham Konglo Berguguran

13 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka melemah pada perdagangan pagi ini, Rabu (4/3/2026). Pelemahan pagi ini melanjutkan koreksi signifikan pada perdagangan kemarin di mana IHSG turun 0,96% dan dua hari sebelumnya ambruk 2,65%.

Kurang dari 30 menit pasar dibuka IHSG kehilangan 202 poin atau anjlok 2,55% ke level 7.736,92.

Sebanyak 561 saham turun, 105 naik, dan 168 tidak bergerak. Kondisi ini memperlihatkan tekanan aksi jual yang masih tinggi di saham-saham yang melantai di Bursa Efek Indonesia. Nilai transaksi pagi ini mencapai Rp 5,97 triliun, melibatkan 11,07 miliar saham dalam 693.762 kali transaksi.

Saham ENRG, BUMI dan MEDC tercatat paling ramai ditransaksikan pagi ini.

Emiten tambang emas tercatat kompak melemah dan menjadi pemberat kinerja IHSG pagi ini. Senada saham-saham milik konglomerasi juga kompak berguguran dan membebani kinerja indeks.

Seluruh sektor perdagangan berada di zona merah, dengan koreksi paling dalam dicatatkan oleh sektor infrastruktur dan barang baku. Sedangkan sektor kesehatan dan energi menjadi yang paling tahan banting dengan koreksi paling kecil.

Secara spesifik saham blue chip dan emiten milik konglo menjadi pemberat utama kinerja IHSG hari ini. Seluruh saham milik Prajogo Pangestu kompak melemah hari ini, begitu pula saham-saham milik konglomerat lainnya seperti Hapsoro, Aguan, Bakrie, Hary Tanoe hingga Garibaldi 'Boy' Thohir.

Berikut adalah 10 saham yang menjadi penekan kinerja IHSG hari ini

  1. Barito Renewables Energy (BREN) -15,73 poin
  2. Amman Mineral Internasional (AMMN) -10,62 poin
  3. Telkom Indonesia (TLKM) -10,52 poin
  4. Bank Mandiri (BMRI) -10,09 poin
  5. Bumi Resources Minerals (BRMS) -9,70 poin
  6. Chandra Asri Pacific (TPIA) -8,29 poin
  7. Bank Central Asia (BBCA) -7,10 poin
  8. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) -6,29 poin
  9. Merdeka Gold Resources (MDKA) -5,96 poin
  10. VKTR Teknologi Mobilitas (VKTR) -5,61 poin

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tekanan, baik itu dari dalam maupun luar negeri. Dari dalam negeri Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan perkembangan penting terbaru dalam upaya pemenuhan tuntutan dari penyedia indeks global MSCI.

OJK mengungkapkan regulator dan SRO telah melakukan pemutakhiran terkait pengungkapan data pemegang saham dengan kepemilikan lebih dari 1% yang wajib disetorkan sebagai keterbukaan informasi publik. Untuk pertama kalinya KSEI mengungkapkan kepemilikan saham investor dengan porsi di atas 1% per 27 Februari 2026 yang disampaikan Selasa (3/3/2026) kemarin.

Kemudian, OJK menyampaikan terkait reklasifikasi pemegang saham dari 9 tipe investor menjadi 27 tipe investor sedang dikejar oleh KSEI dan Anggota Bursa (AB) dan saat ini progresnya telah mencapai 94%.

Selanjutnya terkait kenaikan free float minimum dari 7,5% ke 15%, OJK menyampaikan saat ini prosesnya masih dilaksanakan di internal BEI dan selanjutnya akan disetujui oleh OJK sehingga dapat segera diberlakukan.

Terakhir OJK juga menyampaikan akan menghadirkan shareholder concentration list, dimana ini akan mempermudah investor mempertimbangkan risiko konsentrasi dan kesulitan mendapatkan saham yang dimaksud di pasar.

Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan turun 7,24% pada hari Rabu (4/3/2026), melanjutkan aksi jual tajam dari hari sebelumnya ketika indeks tersebut mencatat penurunan terburuk dalam 19 bulan, di tengah meningkatnya perang di Timur Tengah.
Investor di Asia-Pasifik juga akan memperhatikan pertemuan parlemen tahunan para pembuat kebijakan Tiongkok yang akan dimulai pada hari itu.

Pertemuan tersebut, yang disebut "Dua Sesi," terdiri dari kongres konsultatif yang akan dimulai pada hari ini, dan Kongres Rakyat Nasional yang akan dibuka pada hari Kamis. Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang akan mengumumkan serangkaian target ekonomi di Kongres Rakyat Nasional, yang sebagian besar telah diputuskan pada pertemuan Desember lalu.

Indeks S&P/ASX 200 Australia memulai hari dengan penurunan 1,81%. Indeks Nikkei 225 Jepang kehilangan 1,59%, sementara Topix turun 1,61%.

Kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di 25.448, lebih rendah dari penutupan terakhir indeks acuan di 25.768,08.

Harga minyak melanjutkan kenaikannya dengan harga minyak mentah berjangka AS naik 0,87% menjadi $75,21, sementara Brent naik 5,43% menjadi $81,96 per barel di tengah konflik yang meluas, dengan Iran berupaya menutup Selat Hormuz.

Seorang komandan senior dari Garda Revolusi Iran mengatakan pada hari Senin bahwa jalur penting tersebut telah ditutup dan memperingatkan bahwa setiap kapal yang mencoba melintasi jalur air tersebut akan menjadi sasaran, menurut media Iran.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Selasa sore bahwa Angkatan Laut AS akan mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz, jika perlu.

"Apa pun yang terjadi, Amerika Serikat akan memastikan ALIRAN ENERGI BEBAS ke DUNIA," katanya dalam sebuah unggahan Truth Social. "KEKUATAN EKONOMI dan MILITER Amerika Serikat adalah YANG TERBESAR DI BUMI - Tindakan lebih lanjut akan menyusul."

Semalam di AS, pasar saham mengalami sesi yang bergejolak lagi karena kekhawatiran seputar konflik AS-Iran yang berkepanjangan mengguncang pasar.

Indeks Dow Jones Industrial Average kehilangan 403,51 poin, atau 0,83%, dan berakhir di 48.501,27. Indeks S&P 500 turun 0,94% menjadi 6.816,63, sementara Nasdaq Composite turun 1,02% menjadi 22.516,69. Pada titik terendah hari itu, S&P 500 kehilangan 2,5%, dan Nasdaq turun sekitar 2,7%. Dow Jones yang terdiri dari 30 saham turun lebih dari 1.200 poin, atau sekitar 2,6%, pada titik terendahnya.

(fsd/fsd)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |