Melirik Arah Pasar Modal RI di 2026, Bakal Cerah?

5 hours ago 9

Jakarta, CNBC Indonesia - Memasuki fase baru dinamika pasar keuangan, para pelaku pasar dan investor dihadapkan berbagai tantangan. Di antaranya adalah ketidakpastian global, penyesuaian arah kebijakan domestik, serta transformasi struktur industri keuangan yang semakin kompleks.

Di samping itu, volatilitas eksternal, pergeseran arus modal, serta penguatan agenda reformasi di sektor keuangan menuntut pasar modal Indonesia untuk terus berbenah. Dalam konteks ini, penguatan integritas, transparansi, dan kredibilitas menjadi fondasi utama agar pasar mampu tumbuh secara sehat, inklusif, dan berkelanjutan.

Tak hanya itu, perubahan struktur pasar dan arah investasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), peluang di sektor-sektor emerging, hingga berkembangnya instrumen membuat strategi investasi yang semakin beragam. Hal ini pun menuntut pembacaan pasar yang lebih tajam, berbasis data, serta selaras dengan arah kebijakan dan prioritas ekonomi nasional.

Pada akhirnya, reformasi pasar modal tidak hanya berbicara tentang regulasi, melainkan juga tentang tata kelola, perlindungan investor, serta penguatan kepercayaan publik sebagai prasyarat pertumbuhan jangka panjang.

Belum cukup sampai di situ, investor juga perlu memahami arah pasar yang lebih tajam berbasis data, dan relevan dengan konteks kebijakan serta arah ekonomi nasional, terutama setelah melihat perubahan struktur pasar dan arah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun menyiapkan serangkaian program strategis pasar modal sepanjang 2026 guna memperkuat kepercayaan investor, meningkatkan kualitas emiten, serta memperdalam pasar keuangan nasional.

Program strategis pertama difokuskan pada peningkatan kualitas perusahaan tercatat, antara lain melalui penyempurnaan kebijakan peningkatan free float, termasuk penerapan continuous free float.

OJK juga mendorong penguatan kebijakan ultimate beneficial owner (UBO) serta exit policy yang lebih jelas. Program strategis OJK berikutnya adalah peningkatan basis investor, baik domestik maupun asing.

Pada saat yang sama, program perlindungan investor ritel tetap menjadi prioritas OJK, termasuk melalui penguatan market conduct dan pengawasan terhadap financial influencer (finfluencer) yang kian berperan dalam membentuk persepsi pasar.

Untuk memperdalam pembahasan tersebut, CNBC Indonesia akan menggelar Market Outlook 2026 dengan tema Capital Market Reform: Integrity and Credibility. Acara ini akan berlangsung pada Selasa, 3 Maret 2026, pukul 09.00-12.05 WIB di Main Hall Bursa Efek Indonesia.

Market Outlook CNBC Indonesia menjadi forum strategis untuk membaca arah pasar dan peluang pertumbuhan baru, dengan menghadirkan perspektif regulator, pengambil kebijakan, serta pelaku utama industri investasi.

Rencananya, acara ini akan dibuka dengan keynote speech oleh Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi. Selanjutnya, untuk panel sesi I akan diisi oleh Ketua Komisi XI DPR RI Misbakhun, PJS Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi, PJS Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik, dan Direktur Utama KSEI Samsul Hidayat.

Kemudian, panel sesi II diisi oleh Chief Investment Officer PT BRI Manajemen Investasi, Herman Tjahjadi, Ketua Umum DAI (Dewan Asuransi Indonesia) Yulius Bhayangkara serta perwakilan Asosiasi Perwakilan Efek Indonesia (APEI).

Melalui paparan dan diskusi mendalam, Market Outlook CNBC Indonesia akan memberikan panduan bagi investor dalam menyusun strategi 2026 sekaligus menjadi panggung kredibel bagi brand investasi untuk memperkuat positioning dan kepercayaan publik pada produk investasi yang bisa ditawarkan.

Pantau terus cnbcindonesia.com dan CNBC Indonesia TV untuk update informasi seputar ekonomi dan bisnis.

Acara ini didukung oleh Otoritas Jasa Keuangan , PT Bursa Efek Indonesia, Indonesia Financial Group dan PT Tugu Reasuransi Indonesia.

(dpu/dpu)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |