Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah media Inggris menyebut Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, sebenarnya dalam keadaan koma, dan kehilangan kaki. Seorang sumber mengklaim telah berkomunikasi dengan tim rumah sakit di mana Mojtaba dirawat.
"Pemimpin Tertinggi baru Iran dalam keadaan koma, menurut laporan-laporan," tulis Mirror dikutip Jumat (13/3/2026).
"Mojtaba Khamenei telah kehilangan satu kaki dan juga menderita luka serius pada perut atau liver, menurut klaim tersebut," tambah laman itu.
Hal yang sama juga dimuat The Sun. Tabloid itu menyebut Mojtaba sedang di ruang intensif di Rumah Sakit Universitas Sina.
"Pasukan keamanan dilaporkan telah menutup sebagian bangunan tersebut," tambahnya.
Sumber internal dikatakan terkait dengan seorang pembelot yang berbasis di London. Ia mendapatkan informasi dengan staf rumah sakit mengatakan kepadanya bahwa Mojtaba berada dalam kondisi "sangat serius" di bawah perawatan Mohammad Reza Zafargjani.
Zafargjani adalah Menteri Kesehatan, Pengobatan, dan Pendidikan Kedokteran Iran. Namun, ia juga seorang salah satu ahli bedah trauma terkemuka di negara itu.
"Satu atau dua kakinya telah terputus. Hati atau perutnya juga pecah. Ia tampaknya juga dalam keadaan koma," ujar sumber.
Tidak diketahui apakah cedera Mojtaba Khamenei diderita dalam serangan yang sama yang menewaskan ayahnya, Pemimpin Tertinggi Iran sebelumnya Ayatollah Ali Khamenei, yang berusia 86 tahun pada awal konflik. Selain ayahnya, ibu, istri serta anaknya juga dilaporkan tewas.
Sementara itu, Kamis waktu setempat, Press TV menyampaikan pesan Mojtaba untuk pertama kalinya di publik. Namun ia tidak muncul secara langsung dalam siaran itu.
Dalam pesan itu, Mojtaba menyerukan persatuan nasional Iran sekaligus menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup sebagai bentuk tekanan terhadap musuh-musuh Teheran. Ia juga mengeluarkan ancaman langsung terhadap kehadiran militer AS di kawasan, mengatakan seluruh pangkalan militer AS di wilayah tersebut harus segera ditutup, atau berisiko menjadi target serangan.
"Semua pangkalan AS di kawasan harus segera ditutup atau akan diserang," kata Khamenei dalam pernyataannya, dilansir Al Jazeera.
Mojtaba juga menyebut kelompok bersenjata di kawasan akan ikut terlibat dalam upaya melawan tekanan terhadap Iran. Menurutnya, kelompok bersenjata di Yaman akan memainkan peran penting dalam konflik tersebut sementara kelompok-kelompok bersenjata di Irak juga siap membantu.
Dalam pernyataannya, Mojtaba juga menyampaikan apresiasi terhadap militer Iran yang menurutnya berhasil menjaga negara tetap utuh di tengah serangan yang datang dari luar. Ia mengatakan militer Iran telah mencegah negara itu didominasi atau terpecah saat menghadapi tekanan militer.
"Saya ingin berterima kasih kepada para pejuang pemberani yang melakukan pekerjaan besar pada saat negara kita berada di bawah tekanan dan diserang," kata Mojtaba.
(sef/sef)
Addsource on Google
















































