Mata Uang Asia: Rupiah Keok-Ringgit Malaysia Kuat Lawan Dolar AS

8 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah sepanjang pekan ini, bahkan nyaris menyentuh Rp17.000/1US$. Tidak hanya rupiah, mayoritas mata uang Asia pun turut kebakaran sepanjang minggu. Pelemahan ini dipicu oleh meningkatnya ketidakstabilan ekonomi dunia akibat serangan Amerika Serikat ke Iran yang menyebabkan ketegangan geopolitik di daerah Timur Tengah meningkat.

Berdasarkan data Refinitiv pada penutupan perdagangan Jumat (13/3/2026) nilai tukar rupiah terhadap dolar As berada di posisi US$16.935/1US$ atau melemah 0,3% dibandingkan hari sebelumnya. Sementara secara mingguan, mata uang Garuda melemah 0,21%.

Sementara itu, Baht Thailand jadi mata uang Asia paling terpuruk dengan pelemahan nilai tukar terhadap dolar AS selama pekan kedua Maret berlangsung jatuh 2,08% menjadi baht 32,42/1US$. Posisi ini bahkan terendah sejak November 2025.

Mata uang Asia yang juga mengalami pelemahan terparah adalah Korea won yang ambruk 1,36% terhadap dolar AS sepanjang pekan ini ke won 1.501,41/1US$.

Sementara Yen Jepang juga turut tersandung dengan pelemahan nilai tukar terhadap dolar AS mencapai 1,22% ke yen 159,71/1US$. Posisi tersebut adalah yang terparah sejak Juni 2024.

Yen kehilangan nilai terhadap dolar karena harga minyak melonjak setelah Israel dan Amerika Serikat menyerang Iran.

"Memang benar bahwa volatilitas yang signifikan telah muncul di pasar keuangan, termasuk di pasar valuta asing, menyusul situasi di Timur Tengah," kata Menteri Keuangan Satsuki Katayama dikutip pada Sabtu (14/3/2026).

"Mengingat fluktuasi pasar yang besar ini - khususnya lonjakan harga minyak mentah - kami menyadari dampak pergerakan nilai tukar terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat dan tetap mengambil setiap langkah yang memungkinkan untuk memastikan kesiapan penuh setiap saat."

Rupiah Ambruk Apa Sebabnya?

Pada awal pekan ini, Senin (9/3/2026) rupiah ditutup di posisi lemah Rp16.935/1US$, takluk 0,21% dari dolar AS. Pelemahan ini sekaligus tercatat sebagai level penutupan terlemah rupiah dalam tujuh pekan atau sejak 20 Januari 2026, yang merupakan level tertinggi sejak krisis karena pandemi Covid-19 dan bahkan jauh lebih lemah dibanding saat krisis moneter 1998.

Pelemahan rupiah pada perdagangan Senin ini masih sangat dipengaruhi oleh penguatan dolar AS di pasar global.

Greenback menguat seiring meningkatnya permintaan investor terhadap aset safe haven, termasuk dolar AS, di tengah ketidakpastian global yang kembali memanas akibat konflik di Timur Tengah. Kondisi ini menunjukkan investor kembali mengalihkan dana mereka ke aset berdenominasi dolar. Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, kembali berada dalam tekanan.

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh langkah Iran yang menunjuk Mojtaba Khamenei, putra Ayatollah Ali Khamenei, sebagai penerus pemimpin tertinggi Iran. Perkembangan ini dinilai memberi sinyal bahwa kelompok garis keras masih memegang kendali kuat di Teheran, di tengah perang yang telah berlangsung selama sepekan.

Kekhawatiran ini semakin memperkuat arus dana masuk ke dolar AS, yang kembali diuntungkan oleh statusnya sebagai aset aman.

Dari dalam negeri, sentimen juga cenderung kurang mendukung pergerakan rupiah. Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Februari 2026 turun menjadi 125,2, lebih rendah dibandingkan posisi Januari 2026 yang sebesar 127. Penurunan ini terutama dipicu oleh merosotnya Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) dari 138,8 menjadi 134,4. Sementara itu, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) justru naik tipis dari 115,1 menjadi 115,9.

Turunnya keyakinan konsumen ini mengindikasikan bahwa masyarakat mulai lebih berhati-hati terhadap prospek ekonomi ke depan, termasuk terhadap peluang kerja dan tingkat pendapatan. Kondisi tersebut dapat menjadi sinyal bahwa daya tahan konsumsi domestik berpotensi menghadapi tekanan.

Bagi pasar keuangan, pelemahan ekspektasi konsumen ini menjadi sentimen negatif tambahan karena memperlihatkan adanya kehati-hatian di sisi domestik, di tengah tekanan eksternal yang masih besar.

Rupiah sempat menguat pada hari berikutnya, Selasa (10/3/2026). Saat itu mata uang Garuda ditutup menguat 0,47% atau terapresiasi ke level Rp16.855/US$.

Pelemahan dolar AS di pasar global menjadi faktor utama yang menopang rupiah. Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terkoreksi pada perdagangan hari ini, setelah sehari sebelumnya sempat melonjak tajam akibat kekhawatiran pasar terhadap eskalasi perang di Timur Tengah.

Tekanan terhadap dolar AS mulai mereda setelah Presiden AS Donald Trump dalam wawancara dengan media asing menyebut perang melawan Iran sudah "sangat tuntas".

Pernyataan ini sedikit meredakan kekhawatiran investor terhadap konflik berkepanjangan yang berpotensi mengganggu pasokan energi global dan menekan pertumbuhan ekonomi dunia.

Sebelumnya, perang AS-Israel melawan Iran sempat mengguncang pasar keuangan global dan memicu lonjakan harga minyak. Situasi tersebut sempat mendorong investor memburu aset aman, termasuk dolar AS.

Namun, penguatan tersebut tidak berlangsung lama karena rupiah kembali melemah terhadap dolar AS dipengaruhi dinamika dolar AS di pasar global, seiring ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi, terutama terkait konflik di Timur Tengah.

Di pasar global, dolar AS masih bertahan kuat dan berpeluang mencatat kenaikan mingguan untuk kedua kalinya sejak perang Iran memanas. Gejolak pasar membuat dolar AS kembali menjadi aset aman utama yang diburu investor. Indeks dolar AS kembali melonjak ke 100,36 pada akhir pekan ini.

Lonjakan harga minyak juga turut memperkuat sentimen hati-hati di pasar. Di saat yang sama, AS mengizinkan penjualan sebagian produk minyak Rusia yang sebelumnya dikenai sanksi terkait perang di Ukraina.

Sementara itu, Iran meningkatkan serangan terhadap fasilitas minyak dan transportasi di Timur Tengah, di tengah pernyataan pemimpin tertingginya yang menegaskan penutupan jalur pelayaran Selat Hormuz.

Kondisi yang masih penuh ketidakpastian ini membuat dolar AS tetap diminati pelaku pasar. Akibatnya, ruang penguatan mata uang negara lain, termasuk rupiah, menjadi lebih terbatas.

(ras/ras)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |