Ke Mana Pemimpin Iran Mojtaba Khamenei, Kenapa Hilang Misterius?

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Publik Iran hingga kini masih dilingkupi tanda tanya besar mengenai keberadaan pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei. Sejak diumumkan sebagai pengganti ayah, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang di Teheran yang memulai perang Iran, sosok Mojtaba sama sekali belum pernah terlihat maupun terdengar suaranya secara langsung oleh rakyat Iran.

Mengutip laporan CNN International pada Rabu, (22/04/2026), ketidakhadiran Mojtaba menjadi sorotan tajam di tengah konflik yang mengancam eksistensi rezim. Alih-alih tampil fisik, pernyataan yang mengatasnamakan pria 56 tahun itu hanya dibacakan di televisi atau menggunakan video hasil kecerdasan buatan (AI) yang memicu spekulasi bahwa ia sedang tidak berdaya atau berada di luar negeri.

Kondisi ini sangat kontras dengan mendiang ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang selama puluhan tahun menjadi wajah vokal Iran. Pengamat menilai sistem yang ada saat ini sengaja menggunakan nama besar Mojtaba sebagai tameng politik untuk melindungi para pejabat yang sedang bernegosiasi dengan pihak Barat.

Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, Ali Vaez, memberikan analisisnya terkait situasi ini. Menurut Vaez, Mojtaba kemungkinan besar tidak dalam kondisi yang memungkinkan untuk mengambil keputusan strategis secara mandiri.

"Tampaknya Mojtaba tidak dalam keadaan di mana ia benar-benar dapat membuat keputusan kritis atau mengelola rincian pembicaraan secara mikro, tetapi sistem menggunakannya untuk mendapatkan persetujuan akhir bagi keputusan-keputusan besar yang bersifat luas dan bukan untuk taktik negosiasi," kata Vaez.

Vaez juga menambahkan bahwa langkah sengaja menonjolkan keterlibatan Mojtaba adalah taktik untuk meredam kritik dari internal pemerintahan sendiri. Dengan menyebut nama sang Pemimpin Agung, para negosiator merasa lebih aman dari serangan politik.

"Sistem ini sengaja menonjolkan keterlibatan Mojtaba karena hal itu memberikan perisai pelindung terhadap kritik internal, tidak seperti ayahnya yang rutin tampil dan berkomentar mengenai status negosiasi. Mojtaba saat ini hilang dari tindakan nyata, sehingga menghubungkan pandangan kepadanya adalah perlindungan yang baik bagi negosiator Iran untuk melindungi diri dari kritik," lanjutnya.


AS Pantau Ketat


Di sisi lain, perkembangan ini dipantau ketat oleh Amerika Serikat. Presiden Donald Trump mengklaim bahwa Iran telah mengalami perubahan rezim secara drastis sejak kematian Ali Khamenei dan kini berurusan dengan delegasi yang lebih kooperatif.

Trump mengungkapkan pandangannya terkait para negosiator Iran saat ini dalam sebuah pernyataan bulan lalu. Ia merasa optimis dengan perubahan karakter orang-orang di kursi kekuasaan Teheran.

"Kami berurusan dengan orang-orang yang berbeda dari siapa pun yang pernah dihadapi orang lain sebelumnya," ujar Trump.

Namun, ketidakpastian mengenai siapa pemegang kendali utama tetap menyulitkan negosiasi. Danny Citrinowicz, seorang pakar Iran di Institut Studi Keamanan Nasional Israel, menyoroti lewat unggahan di media sosial X bahwa sistem politik Iran kini menjadi jauh lebih rumit dan kaku.

"Jika negosiasi sulit sebelum konflik, sekarang jauh lebih kompleks. Iran menghadapi sistem yang makin terdesentralisasi, garis keras, dan kaku secara ideologis, sebuah sistem yang menafsirkan ketahanannya dalam konflik sebagai bentuk kemenangan ilahi," tulis Citrinowicz.

Situasi di lapangan menunjukkan para menteri Iran kini terjepit di antara tekanan domestik dan kebutuhan diplomasi luar negeri. Hamidreza Azizi yang merupakan peneliti tamu di German Institute for International and Security Affairs menilai para pejabat Iran saat ini sedang berada dalam posisi yang sangat dilematis untuk menjaga stabilitas.

"Mengelola hal ini sangat sulit, ini adalah tanda dilema yang nyata. Mereka perlu berjalan di atas tali dalam menyeimbangkan semua tekanan domestik dan eksternal tersebut," kata Azizi.

Sementara itu, Ali Vaez menegaskan kembali bahwa posisi Mojtaba yang tersembunyi justru sangat berguna bagi para politisi veteran Iran untuk melegitimasi tindakan mereka. Selama ia tidak muncul secara fisik, para pejabat bebas menggunakan namanya untuk kepentingan diplomasi.

"Menghubungkan pandangan kepadanya meskipun ia tidak selalu setuju adalah perlindungan yang baik bagi negosiator Iran untuk melindungi diri terhadap kritik. Tidak ada bantahan dari seorang pria yang hilang dari tindakan nyata," tutup Vaez.

(tps/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |