Hasil Kebun RI Ini Jauh Lebih Berharga dari Bitcoin dan Saham Nvidia

13 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia-  Harga kakao masih menjadi perhatian karena terus melesat. Lonjakan harga kakao membuat keuntungan di investasi kakao lebih besar dibandingkan dengan berinvestasi di saham Nvidia atau bitcoin.

Dalam sekejap, komoditas ini menyalip performa Bitcoin dan saham Nvidia. Melansir dari Refinitv penutupan Jumat (4/4/2025) menunjukkan harga kakao ditutup di level US$ 8.512 per ton, turun signifikan dari puncaknya di US$ 9.291 sehari sebelumnya. Penurunan lebih dari 8% ini menandai koreksi setelah pasar sempat euforia menyambut kekhawatiran defisit pasokan yang belum berakhir.

Meski turun, harga ini masih jauh lebih tinggi dibandingkan posisi awal tahun lalu yang hanya berada di kisaran US$ 4.000-an, menunjukan bahwa koreksi ini belum mengubah gambaran besar kakao masih menjadi komoditas dengan performa terbaik sejak awal 2024.

Business Insider Africa menyebutkan, sepanjang 2024, harga kakao sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa, US$ 11.900 per ton sebuah pencapaian yang membuat investor awalnya skeptis kini menyesal tak ikut menanam modal. Dalam hitungan bulan, investasi US$ 4.000 bisa berubah menjadi lebih dari tiga kali lipat nilainya.

Sebagai perbandingan harga bitcoin ada di US$ 42.152,09 per akhir 2023 dan per akhir 2024 ada di US$ 93 643,25. Artinya, harga bitcoin naik 2,22 kali lipat.

Saham Nvidia per akhir Desember 2023 ada di US$ 49,52 per lembar sementara per akhir Desember 2024 ada US$ 134,29 per saham. Artinya, saham Nvidia naik 2,7 kali lipat.

Data dari International Cocoa Organization (ICCO) menunjukkan defisit kakao global mencapai 462.000 ton pada musim panen 2023-2024, terburuk dalam 22 tahun terakhir. Dua negara produsen terbesar, Pantai Gading dan Ghana, mengalami gagal panen berturut-turut akibat cuaca ekstrem, penyebaran penyakit tanaman, dan menurunnya daya beli petani.

Ghana Cocoa Board menyebut lebih dari 590.000 hektare lahan terkena penyakit swollen shoot dan black pod. Kondisi diperburuk oleh curah hujan berlebih yang merusak struktur tanah, dan selang beberapa bulan kemudian, kekeringan menghantam masa pematangan buah. Hasilnya: pasokan jatuh bebas, sementara stok dari musim sebelumnya sudah menipis.

Pemerintah setempat mencoba bertahan dengan subsidi harga, tapi dengan depresiasi mata uang dan inflasi yang merangkak, banyak petani tetap tak mendapat insentif cukup untuk menanam ulang. Di beberapa wilayah, petani memilih meninggalkan kakao dan beralih ke tambang emas ilegal pilihan yang berisiko, tapi menjanjikan pemasukan lebih cepat.

Namun yang membuat harga melonjak bukan hanya permintaan riil, melainkan perburuan lindung nilai dan masuknya spekulan ke pasar komoditas kakao. Banyak fund mulai melihat kakao sebagai alternatif investasi, real asset yang kini punya volatilitas seperti saham teknologi.

Lantas, bagaimana nasib para petani? Ironisnya, di balik kenaikan harga global, petani kakao justru semakin tertinggal. Sistem harga tetap atau harga beli dari petani (farmgate pricing) di Ghana dan Pantai Gading membuat petani tidak bisa menikmati keuntungan dari harga internasional.

Mereka menjual dengan harga yang ditetapkan pemerintah sering kali jauh di bawah harga pasar. Dan ketika harga pupuk, pestisida, serta logistik naik, margin mereka makin tergerus.

Konsumen pun terkena imbas. Di Amerika Serikat (AS) dan Eropa, cokelat batangan mulai mengalami shrinkflation, di mana ukuran makin kecil, harga tetap. Beberapa produsen bahkan mulai menunda peluncuran produk baru atau meramu ulang formula demi menekan penggunaan kakao.

Koreksi harga pada Jumat lalu bukan sinyal pembalikan tren, melainkan tanda bahwa pasar tengah mencari pijakan baru. Pasar berjangka kakao sudah mengalami lonjakan secara tahunan, dan setiap pergerakan kecil kini dibaca sebagai sinyal besar oleh pelaku pasar yang gelisah.

Ke depan, volatilitas harga kakao diprediksi tetap tinggi. Climate change, kelangkaan tenaga kerja, dan isu keberlanjutan menjadi tantangan utama industri ini. Bagi investor, kakao kini bukan lagi sekadar bahan makanan, tapi komoditas strategis.

Kenaikan harga kakao atau coklat tentu akan berdampak pada produsen kakao termasuk Indonesia, yang dimana Indonesia masuk dalam urutan nomor tiga sebagai negara penghasil cokelat terbesar di dunia dengan total produksi sebesar 667.296 ton pada 2022.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Read Entire Article
Photo View |