Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas bangkit ditopang melemahnya dolar Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Kedua faktor ini mendorong permintaan aset aman terhadap logam mulia tersebut.
Merujuk Refinitiv, harga emas ditutup di posisi US$ 5135,42 per troy ons pada perdagangan Rabu (4/3/2026) atau naik 0,96%. Kenaikan ini menjadi kabar baik setelah harga emas anjlok 4,5% pada Selasa ke level US$ 5.000.
Harga emas masih menguat pada hari ini. Pada Kamis (5/3/2026) pukul 06.18 WIB, harga emas ada di posisi US$ 5.147,59 per troy ons atau naik 0,24%.
Kenaikan harga emas ditopang oleh melemahnya dolar AS. Indeks dolar melandai ke 98,76 dari 99 pada hari sebelumnya. Pembelian emas global dikonversi ke dolar sehingga pelemahan dolar berimbas positif ke emas.
"Setelah beberapa hari terakhir terjadi pelepasan posisi dan penguatan dolar, pasar kini kembali ke kondisi risk-off makro yang lebih normal, dengan perak juga ikut naik. Jeda dalam kenaikan dolar dan imbal hasil obligasi Treasury membantu menurunkan biaya peluang untuk memegang logam mulia," kata Jamie Dutta, analis pasar di Nemo.money, kepada Reuters.
"Karakteristik emas dan perak sebagai aset safe haven dapat kembali bersinar," imbuhnya.
Sebelumnya, harga emas turun lebih dari 4% pada Selasa, karena investor beralih ke dolar AS dan kekhawatiran inflasi mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga, yang biasanya menurunkan biaya peluang memegang emas.
Dari Timur Tengah dilaporkan, pasukan Amerika Serikat melanjutkan serangan terhadap Iran sepanjang waktu, sementara Israel melancarkan gelombang serangan besar pada Rabu yang menargetkan lokasi rudal dan sistem pertahanan udara Iran.
Saham-saham di Asia merosot karena investor melepas posisi besar di saham produsen chip, di tengah kekhawatiran bahwa meluasnya perang di Timur Tengah dapat memicu guncangan harga minyak, yang pada akhirnya meningkatkan inflasi dan menunda pemangkasan suku bunga.
Investor secara luas memperkirakan The Federal Reserve AS akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kebijakan berikutnya yang berlangsung selama dua hari dan berakhir pada 18 Maret.
"Jika kampanye militer berlangsung lebih lama atau meluas ke kawasan lain, permintaan safe haven kemungkinan akan terus menopang harga emas di atas US$5.000 per ons dan berpotensi membuka peluang untuk menguji kembali level tertinggi baru-baru ini," kata Linh Tran, analis pasar senior di XS.com.
Addsource on Google

















































