Harga Batu Bara Masih Kokoh, Tanda-Tanda Siap Melesat?

8 hours ago 5

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

03 May 2026 08:45

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara bergerak stabil dengan kecenderungan naik tipis sepanjang pekan terakhir. Kenaikan terjadi sejak awal pekan, lalu tertahan menjelang penutupan.

Melansir Refinitiv, pada Jumat (1/5/2026), harga batu bara berada di US$137,6 per ton. Posisi ini hampir tidak berubah dari Kamis di US$137,75 dan Rabu di US$137,8. Jika ditarik ke awal pekan, harga naik dari US$134,1 pada Senin (27/4). Dalam sepekan, kenaikan berada di kisaran 2,5%.

Pergerakan ini mengikuti perubahan di pasar energi global. Risiko pasokan minyak dan LNG masih tinggi seiring konflik di Timur Tengah. Jalur pengiriman utama belum sepenuhnya pulih. Premi risiko energi tetap terjaga, menjaga harga batu bara di level tinggi.

Di sisi permintaan, Asia menjadi penopang utama. Jepang meningkatkan penggunaan pembangkit listrik berbasis batubara setelah gangguan pasokan LNG. Impor batubara termal Jepang pada Maret mencapai 9,95 juta ton, naik 5% dibandingkan tahun lalu. Pemerintah mendorong pembangkit batu bara untuk menjaga pasokan listrik.

Korea Selatan mengambil langkah serupa. Pembatasan penggunaan batu bara dilonggarkan untuk menjaga stabilitas energi. China bergerak dari sisi produksi, meningkatkan output domestik dan mempercepat proyek konversi batu bara ke gas untuk mengurangi ketergantungan impor.

Permintaan yang bertahan ini menjaga harga tetap di atas US$130 per ton, meski masih di bawah puncak Maret di US$146,5. Sejak konflik dimulai pada awal Maret, harga batu bara tercatat naik sekitar 9%.

Namun tekanan mulai terlihat dari sisi industri. Produsen baja China mulai menahan ekspansi. Baosteel mengevaluasi ulang investasi di Arab Saudi setelah biaya logistik meningkat dan ketidakpastian kawasan bertambah. Perusahaan juga mencatat penurunan laba kuartalan akibat kenaikan biaya bahan baku.

Di sisi pasokan, produksi global belum sepenuhnya stabil. Sejumlah tambang di Australia mencatat penurunan output akibat cuaca dan gangguan operasional. Produksi grup Coronado turun lebih dari 20% secara kuartalan, sementara Anglo American juga mencatat penurunan produksi tahunan.

Ke depan, arah harga masih bergantung pada kondisi energi global. Jika aliran minyak dan LNG kembali normal, tekanan pada batu bara berpotensi muncul. Dalam jangka lebih panjang, peningkatan kapasitas energi terbarukan mulai mengurangi kebutuhan tambahan batu bara di sejumlah negara.

CNBC Indonesia Research

(emb/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |