Gara-gara Israel, Rezim Kepemimpin Arab Terancam Digulingkan?

6 hours ago 5

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

10 May 2026 12:45

Jakarta, CNBC Indonesia - Para penguasa di kawasan dunia Arab, mulai dari emir, raja, hingga presiden, saat ini berupaya keras untuk mengarahkan opini publik terkait konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Media pemerintah secara konsisten memublikasikan kecaman terhadap agresi Iran yang dinilai tidak beralasan. Masyarakat yang mengekspresikan simpati terhadap Iran menghadapi ancaman penangkapan yang nyata, bahkan dituduh melakukan pengkhianatan terhadap negara.

Pengendalian Narasi dan Kekhawatiran Keamanan

Para pemimpin di kawasan tersebut kembali mengangkat narasi lama mengenai ketidakpercayaan terhadap pengaruh Persia. Negara seperti Qatar dan Uni Emirat Arab dilaporkan telah menahan sejumlah individu yang merekam serangan Iran.

Di Bahrain, sejumlah warga negara telah dicabut status kewarganegaraannya dengan alasan memberikan dukungan kepada Iran. Pada 7 Mei lalu, parlemen setempat memberhentikan wakil ketua serta 2 anggota parlemen lainnya yang mempertanyakan kewenangan raja. Pemerintah secara ketat menolak adanya pihak yang mempertanyakan narasi resmi negara.

Meskipun mendapat tekanan, sikap kritis publik tetap bermunculan. Akibat krisis kepercayaan terhadap media pemerintah, sebagian masyarakat Arab mulai beralih mengonsumsi informasi dari stasiun televisi satelit asal Lebanon yang memiliki pandangan simpatik terhadap kebijakan Iran.

Dalam berbagai diskusi tertutup, sebagian masyarakat mempertanyakan apakah keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat justru lebih banyak mengundang serangan dari Iran. Seorang akademisi di Doha mengemukakan bahwa negara-negara Teluk berisiko berada di bawah pengaruh Iran, di mana mereka kemungkinan harus mengeluarkan dana besar berkedok investasi rekonstruksi yang hakikatnya adalah bentuk pampasan konflik.

Faktor Utama Pendorong Simpati Masyarakat

Simpati masyarakat Arab terhadap Iran secara umum didorong oleh 2 faktor esensial. Faktor pertama adalah eskalasi kemarahan publik terhadap Israel, terutama setelah terjadinya insiden di Gaza serta serangan yang menargetkan Lebanon dan Suriah.

Terdapat pandangan bahwa meskipun Iran memiliki sistem pemerintahan yang represif, negara tersebut berani memberikan perlawanan langsung terhadap dominasi negara Barat. Sebagian masyarakat juga merespons positif ketidaknyamanan yang dialami oleh negara Teluk yang belakangan ini menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel.

Faktor pendorong kedua dipengaruhi oleh afiliasi sektarian. Kelompok Muslim Syiah di kawasan Teluk memiliki ikatan historis dan keagamaan dengan Iran. Di desa-desa mayoritas Syiah di Bahrain, masyarakat mengadakan prosesi duka cita untuk mendiang pemimpin Iran, Ali Khamenei.

Kondisi serupa terlihat di Dubai yang menjadi tempat tinggal ratusan ribu warga negara Iran. Otoritas setempat merespons dengan menutup fasilitas publik milik komunitas Iran. Kebijakan Uni Emirat Arab yang mendeportasi ribuan pekerja Syiah asal Pakistan turut memperburuk ketegangan sektarian.

Polarisasi Pandangan dan Dampak Lanjutan

Di sisi lain, kelompok yang merasakan dampak buruk dari operasi proksi Iran di wilayah Irak, Lebanon, dan Suriah justru mendesak Amerika Serikat dan Israel untuk melanjutkan serangan militer.

Kelompok konservatif di Bahrain merasa khawatir akan kemunculan ancaman internal dan menolak keras simpati terhadap Iran. Kelompok Salafi di Mesir juga mengeskalasi permusuhan sektarian dengan memberikan peringatan publik agar tidak memperkuat pengaruh Syiah di kawasan tersebut.

Walau polarisasi sektarian eksis, isu tersebut mulai kehilangan daya tarik. Tren dominan saat ini adalah kesiapan masyarakat memprioritaskan dukungan ideologis meskipun harus mengorbankan stabilitas ekonomi.

Tercatat banyak pekerja migran Arab memilih kembali ke negara asalnya setelah kehilangan pekerjaan di kawasan Teluk, sehingga volume remitansi turun drastis. Indikator ekonomi makro lainnya menunjukkan tren negatif, di mana harga bahan bakar mengalami kenaikan terukur, bahkan di negara eksportir minyak.

Kondisi psikososial ini dinilai berpotensi memunculkan pergeseran persepsi geopolitik di masa mendatang. Berbagai elemen masyarakat Arab mulai membandingkan sikap para pemimpin mereka dengan komandan militer Iran yang dipandang lebih siap berkonfrontasi.

Tindakan balasan Iran dinilai berhasil memproyeksikan citra kapabilitas militer yang tangguh. Sebagai perbandingan, narasi kekuatan para pemimpin Arab dinilai semakin melemah di mata warganya sendiri. Pandangan kritis tersebut masih disuarakan secara tertutup, namun berpotensi membesar di kemudian hari.

-

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |