Efek Perang Dagang Trump: Malaysia dan Jepang Menang, China Kalah Dulu

21 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengundang polemik global. Kebijakan tersebut juga memicu kekhawatiran hingga membuat banyak mata uang dunia jatuh. Namun, ada beberapa mata uang yang justru perkasa di tengah gonjang ganjing kebijakan Trump.

Seperti diketahui, AS akan memberlakukan tarif bea impor dengantarif dasar 10% pada semua impor ke AS dan bea masuk yang lebih tinggi pada puluhan negara lain.

Tarif impor ke China akan diberlakukan 34%, 20% untuk Uni Eropa, 25% untuk Korea Selatan, 24% untuk Jepang, dan 32% untuk Taiwan.

Selain itu, pemerintahan Trump juga memberlakukan tarif timbal balik khusus negara terhadap negara-negara yang dituduh melakukan praktik perdagangan tidak adil. Di antaranya termasuk India, Vietnam, dan Uni Eropa. Tarif ini disesuaikan sekitar setengah dari tarif yang negara-negara tersebut kenakan terhadap barang AS.

Usai pengumuman tersebut, tampak indeks dolar AS (DXY) mengalami pelemahan pada Kamis (3/4/2025) sebesar 1,67% ke angka 102,07 meskipun pada Jumat (4/4/2025), DXY melonjak 0,93% ke angka 103,02 usai data non-farm payrolls (NFP) tercatat di atas konsensus.

Ekonomi AS menambahkan 228 ribu lapangan kerja pada Maret 2025, jauh di atas revisi turun 117 ribu pada Februari dan mengalahkan perkiraan sebesar 135 ribu. Ini merupakan angka terkuat dalam tiga bulan terakhir, dengan penambahan lapangan kerja terjadi di sektor kesehatan (54 ribu), bantuan sosial (24 ribu), serta transportasi dan pergudangan (23 ribu).

Dilansir dari Refinitiv, tampak performa mata uang Asia juga mengalami penguatan pada 3 April 2025 dan cenderung melemah pada 4 April 2025.

Usai pengumuman tarif dagang Trump, peso Filipina menjadi mata uang yang paling parah dengan penurunan sebesar 0,51% pada periode 2-4 April 2025. Kemudian disusul oleh baht Thailand yang terkoreksi sebesar 0,29% dan yuan China yang melemah sebesar 0,19%.

Namun berbeda halnya dengan yen Jepang yang justru dalam periode tersebut mengalami apresiasi yang sangat signifikan sebesar 1,57%, ringgit Malaysia naik 0,38%, dan won Korea Selatan menanjak 0,32%.

Sementara performa mata uang di belahan bumi lainnya tampak cukup bervariatif pada periode 2-4 April 2025.

Dolar Australia menjadi mata uang yang ambles paling signifikan yakni sebesar 4,24%, diikuti dengan rand Afrika Selatan yang melemah 1,17%, poundsterling Inggris yang turun 0,9%, dan krona Swedia yang terdepresiasi sebesar 0,85%.

Berbanding terbalik dengan franc Swiss yang melesat 2,37%, krona Denmark menguat 0,99%, dan euro yang mengalami apresiasi sebesar 0,91%.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(rev/rev)

Read Entire Article
Photo View |