Dunia Siaga Energi, Harga Batu Bara Menguat Imbas Perang Timur Tengah

5 hours ago 4

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

15 March 2026 07:45

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar batu bara global memasuki pergerakan yang penuh gejolak. Harga bergerak naik di tengah ketidakpastian energi global yang dipicu konflik Timur Tengah. Ketegangan kawasan tersebut mengganggu pasokan energi utama dunia dan memicu pergeseran strategi pembangkit listrik di berbagai negara.

Harga batu bara berada di level US$137,30 per ton pada 13 Maret 2026. Angka ini turun tipis 1,05% dari hari sebelumnya. Dalam skala bulanan, harga justru naik tajam 18,11%. Secara tahunan, kenaikan mencapai 36,28%.

Kenaikan harga terjadi setelah kontrak batu bara acuan Asia sempat melonjak tajam pada awal pekan. Kontrak Newcastle sempat melonjak hingga 9,3% dan menyentuh US$150 per ton. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak November 2024.

Lonjakan harga energi bermula dari eskalasi konflik di Timur Tengah, serangan militer yang berlanjut di kawasan tersebut memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Ketegangan meningkat setelah Iran memperketat kontrol terhadap Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.

Ketegangan geopolitik ini berimbas langsung pada pasar minyak. Harga minyak Brent kembali menembus US$100 per barel setelah pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan komitmen untuk menjaga Selat Hormuz tetap tertutup secara efektif. Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menyatakan bahwa mencegah Iran memperoleh senjata nuklir lebih penting daripada dampak kenaikan harga minyak.

Gangguan pasokan energi semakin terasa setelah fasilitas ekspor gas alam cair milik Qatar terhenti. Serangan drone Iran memaksa penghentian operasi fasilitas LNG terbesar di dunia yang menyumbang sekitar 20% pasokan global.

Kondisi tersebut mengguncang pasar gas dunia. Reuters mencatat harga LNG di Asia melonjak tajam dan bahkan lebih dari dua kali lipat dalam sepekan. LNG untuk pengiriman Asia Utara melonjak 116% hingga mencapai US$22,50 per million British thermal units pada pekan yang berakhir 6 Maret.

Lonjakan harga gas membuka ruang pergeseran bahan bakar di sektor listrik. Reuters melaporkan pembangkit listrik di Jepang dan Korea Selatan mulai mempertimbangkan penggunaan batu bara sebagai pengganti gas yang semakin mahal. Kedua negara tersebut memiliki fleksibilitas untuk mengganti bahan bakar dalam pembangkit listrik mereka.

Pergerakan harga batu bara juga terlihat pada pasar regional. Batu bara termal berkualitas tinggi dengan nilai energi 6.000 kilokalori per kilogram di pelabuhan Newcastle naik menjadi US$129,62 per ton pada pekan yang berakhir 6 Maret. Harga tersebut merupakan level tertinggi dalam 14 bulan.

Kenaikan harga juga terjadi pada batu bara tujuan Eropa. batu bara termal dari pelabuhan Richards Bay di Afrika Selatan mencapai US$113 per ton pada awal pekan, naik dari US$98,90 pada akhir Februari.

Meski demikian, kenaikan batu bara masih lebih terbatas dibandingkan lonjakan gas. Pasokan batu bara global relatif stabil karena tidak ada gangguan produksi besar dari negara eksportir utama seperti Australia, Afrika Selatan, Indonesia, dan Kolombia.

Faktor kapasitas pembangkit listrik juga membatasi lonjakan permintaan.Banyak negara Eropa telah menutup pembangkit batu bara dalam dua dekade terakhir. Spanyol menutup 13,18 gigawatt kapasitas sejak tahun 2000 hingga 2025. Jerman menghentikan 33,57 gigawatt kapasitas pembangkit batu bara dalam periode yang sama.

Di Asia Timur, perubahan kebijakan energi juga mempengaruhi permintaan. Jepang menutup hampir 1.200 megawatt kapasitas pembangkit batu bara dalam tiga tahun terakhir. Korea Selatan tetap meningkatkan kapasitas pembangkit batu bara namun memiliki rencana menutup 40 dari 61 unit pembangkit hingga 2040.

Struktur konsumsi energi global ikut menentukan arah pasar.t China dan India sebagai dua importir batu bara terbesar dunia memiliki sistem kelistrikan yang didominasi batu bara domestik. Gas hanya menyumbang sekitar 3% produksi listrik di China dan sekitar 2,8% di India.

Kondisi ini membuat lonjakan harga gas tidak otomatis meningkatkan impor batu bara di kedua negara tersebut. Produksi domestik yang besar memungkinkan China dan India menahan kebutuhan impor.

Konflik Timur Tengah mendorong permintaan energi alternatif bagi pembangkit listrik. Sementara kapasitas pembangkit dan kebijakan energi jangka panjang membatasi kenaikan konsumsi. Dinamika tersebut menjaga harga batu bara tetap tinggi meski pasar energi global berada dalam fase yang sangat tidak stabil.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |