Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
11 March 2026 20:40
Jakarta, CNBC Indonesia - China selama ini dikenal sebagai salah satu kekuatan militer terbesar di dunia. Namun, di balik citra tersebut, ada satu hal yang cukup menarik. Impor senjata China jusru mengalami penurunan tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Data terbaru SIPRI dalam laporan Trends in International Arms Transfers 2025 yang dirilis pada Maret 2026 menunjukkan China tidak lagi masuk jajaran 10 besar importir senjata terbesar dunia. Pada periode 2021-2025, China hanya menempati posisi ke-21 sebagai penerima senjata utama terbesar di dunia.
Ini menjadi perubahan besar. Untuk pertama kalinya sejak periode 1991-1995, China keluar dari kelompok 10 besar negara importir senjata dunia. Pada saat yang sama, impor senjata China tercatat anjlok 72% dibandingkan periode 2016-2020.
Pangsa impor China pun menyusut tajam, dari 5,2% pada 2016-2020 menjadi hanya 1,3% pada 2021-2025.
Penurunan ini tentu menimbulkan pertanyaan. Mengapa negara sebesar China, yang belanja militernya terus menjadi perhatian dunia, justru membeli lebih sedikit senjata dari luar?
China Makin Mandiri di Industri Pertahanan
Turunnya impor senjata China bukan berarti kebutuhan militernya melemah. Justru sebaliknya, penurunan itu terjadi karena China semakin mampu memenuhi kebutuhannya sendiri.
SIPRI menjelaskan bahwa impor senjata China turun tajam karena negara Tirai Bambu itu terus memperluas produksi senjata di dalam negeri. Dengan kata lain, Beijing kini semakin sedikit bergantung pada pasokan senjata dari luar karena banyak alutsista yang sebelumnya harus dibeli dari negara lain kini sudah bisa diproduksi sendiri.
Artinya, penurunan impor ini lebih mencerminkan menguatnya industri pertahanan domestik China, bukan melemahnya ambisi militernya. China tetap memperkuat kapasitas tempurnya, tetapi sumbernya kini lebih banyak berasal dari pabrik dalam negeri.
Kekuatan industri pertahanan China juga terlihat dari besarnya perusahaan-perusahaan militer yang mereka miliki, antara lain:
- AVIC (Aviation Industry Corporation of China): fokus pada pesawat militer dan industri dirgantara pertahanan.
- NORINCO (China North Industries Corporation): kuat di sistem senjata darat, seperti tank, kendaraan tempur, dan amunisi.
- CETC (China Electronics Technology Group Corporation): bergerak di sektor elektronik pertahanan, radar, sensor, dan sistem komando.
- CSSC (China State Shipbuilding Corporation): merupakan raksasa galangan kapal perang China.
- CSGC (China South Industries Group Corporation): juga memiliki bisnis di sektor pertahanan.
Dalam beberapa dekade sebelumnya, China masih cukup bergantung pada impor, terutama dari Rusia, untuk memenuhi kebutuhan sistem senjata tertentu. Namun sekarang, ketergantungan itu makin menyusut. China terlihat semakin percaya diri mengembangkan sendiri mulai dari pesawat, kapal perang, rudal, hingga berbagai sistem persenjataan lainnya.
Rusia Masih Jadi Pemasok Utama, Tapi Skalanya Sudah Jauh Lebih Kecil
Meski impor China turun drastis, bukan berarti negara itu sama sekali berhenti membeli senjata dari luar. SIPRI mencatat bahwa pada periode 2021-2025, Rusia masih menjadi pemasok utama senjata ke China dengan porsi 66% dari total impor senjata China.
Setelah Rusia, pemasok terbesar berikutnya adalah Ukraina dengan porsi 15% dan Prancis 13%.
Namun, data ini juga menunjukkan bahwa skala impor China kini sudah jauh lebih kecil dibanding masa lalu. Jadi, meskipun Rusia masih menjadi pemasok utama, nilai ketergantungan China pada senjata impor secara keseluruhan sudah tidak sebesar sebelumnya.
China Kini Lebih Kuat Sebagai Penjual
Yang menarik, ketika impor senjatanya turun, posisi China sebagai eksportir justru tetap kuat. SIPRI mencatat China merupakan eksportir senjata terbesar kelima dunia pada periode 2021-2025 dengan pangsa 5,6% dari total ekspor global.
Bahkan, ekspor senjata China naik 11% dibanding periode 2016-2020. Ini menunjukkan bahwa industri pertahanan China bukan hanya makin mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga makin aktif menjual produknya ke pasar internasional.
Di titik ini, perubahan posisi China menjadi semakin jelas. China bukan lagi sekadar negara besar yang banyak membeli senjata, melainkan sudah menjadi kekuatan industri pertahanan yang bisa memproduksi sendiri sekaligus mengekspor ke negara lain.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

















































