Dunia Belum "Sembuh", Harga Perak Bergerak Ugal-ugalan

9 hours ago 5

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

03 May 2026 07:40

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan perak sepekan terakhir berjalan dalam dua babak yang kontras. Harga sempat jatuh dalam di awal pekan, lalu berbalik naik menjelang penutupan.

Melansir Refinitv, pada penutupan Jumat (30/4/2026), harga perak berada di level US$73,735 per ons. Posisi ini naik dibandingkan penutupan Rabu di US$71,482, yang sempat menjadi titik terendah dalam sebulan.

Namun jika ditarik ke awal pekan, perak masih lebih rendah dibandingkan Senin (27/4/2026) di US$75,495. Dalam hitungan mingguan, harga terkoreksi sekitar 2,3%.

Tekanan utama datang dari pasar energi. Ketegangan di Timur Tengah belum mereda, sementara jalur vital Selat Hormuz masih terganggu. Sekitar 20% aliran minyak global tersendat, ekspektasi inflasi naik.

Investor mulai menggeser posisi, mengantisipasi suku bunga yang bertahan tinggi lebih lama.

Ketika inflasi diperkirakan naik, bank sentral cenderung menahan atau bahkan menaikkan suku bunga. Instrumen tanpa imbal hasil seperti perak menjadi kurang menarik. Arus dana bergerak ke aset berbunga, menekan harga logam mulia.

Harga minyak sempat turun lebih dari 3% di akhir pekan setelah muncul sinyal proposal damai baru dari Iran. Pada saat yang sama, dolar AS melemah ke posisi terendah dalam dua bulan. Pelemahan dolar membuat harga perak relatif lebih murah bagi pembeli global, mendorong rebound jangka pendek.

Faktor tambahan datang dari sisi permintaan industri. Lonjakan belanja infrastruktur kecerdasan buatan di Amerika Serikat menjaga prospek konsumsi perak. Empat raksasa teknologi menggelontorkan belanja modal hingga US$715 miliar tahun ini, hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Perak tetap menjadi komponen penting dalam ekosistem elektronik dan semikonduktor.

Namun sejak konflik memanas, harga perak sudah turun sekitar 18%. Pasar membaca risiko inflasi lebih dominan dibandingkan dorongan safe haven. Obligasi kembali dilirik, imbal hasil sempat naik, lalu sedikit mereda saat harga minyak terkoreksi.

Selama pasokan minyak belum pulih dan bank sentral belum memberi sinyal pelonggaran, perak bergerak dalam tekanan. Rebound yang muncul sejauh ini bersifat teknikal, belum mengubah arah utama pasar.

CNBC Indonesia Research

(emb/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |