Dihajar 3 Badai, Harga Minyak Kolaps: Jatuh 14% ke Level US$ 66

7 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak anjlok dihajar tiga badai sekaligus yakni tarif Presiden Amerika serikat (AS) Donald Trump, tarif balasan dari China, dan keputusan OPEC.

Merujuk Refinitiv, pada perdagangan kemarin, Jumat (4/4/2025) harga patokan global minyak brent ditutup di $65,58 per barel atau jatuh 6,5%. Harga tersebut adalah yang terendah sejak 20 Agustus 2021 atau tiga tahun lebih.

Harga minyak jenis WTI (West Texas Intermediate) jatuh 7,4% dan berakhir di $61,99. Harga tersebut adalah yang terendah sejak 26 April 2021 atau hampir empat tahun lalu saat dunia diguncang pandemi.

Tekanan hebat terjadi pada harga minyak dunia. Dalam dua hari, harga minyak brent ambruk 12,5% dan WTI jatuh 13,6% atau hampir 14%.

Sepanjang pekan ini, brent turun 10,9%, penurunan mingguan terbesar dalam satu setengah tahun terakhir. Minyak WTI mencatat penurunan terbesar dalam dua tahun sebesar 10,6%.


Dampak Trump, China, dan OPEC

Harga minyak ambruk setelah China meningkatkan tarif terhadap barang-barang AS, memperburuk perang dagang yang menyebabkan investor memperkirakan peluang resesi global yang lebih tinggi.

China, importir minyak terbesar di dunia, mengumumkan akan memberlakukan tarif tambahan sebesar 34% pada semua barang dari AS mulai 10 April.

Negara-negara di seluruh dunia pun bersiap untuk melakukan pembalasan setelah Presiden Donald Trump menaikkan tarif ke level tertinggi dalam lebih dari satu abad.

Sementara itu, komoditas seperti gas alam, kedelai, dan emas juga ikut anjlok, dan pasar saham global pun terguncang. Bank investasi JPMorgan kini memperkirakan peluang resesi global mencapai 60% pada akhir tahun, naik dari sebelumnya 40%.

Secara mingguan, Brent turun 10,9%, penurunan mingguan terbesar dalam satu setengah tahun terakhir, sedangkan WTI mencatat penurunan terbesar dalam dua tahun sebesar 10,6%.

"Menurut saya, ini mungkin sudah mendekati nilai wajar untuk minyak mentah sampai ada kejelasan mengenai seberapa besar permintaan yang benar-benar berkurang," kata Scott Shelton, Spesialis Energi dari United ICAP, dikutip dari Reuters.

Dia menambahkan kemungkinan besar harga WTI bisa turun ke kisaran pertengahan hingga atas $50-an dalam waktu dekat. Dia juga memperingatkan bahwa permintaan akan terpukul dalam kondisi pasar saat ini.

Chairman bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell menyatakan bahwa tarif baru dari Trump lebih besar dari yang diperkirakan

Hal ini akan berdampak besar terhadap ekonomi termasuk inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang melambat kemungkinan juga akan signifikan. Hal ini menunjukkan betapa sulitnya keputusan yang harus diambil oleh bank sentral AS ke depan.

Harga minyak juga mendapat tekanan dari keputusan OPEC+ (Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya) yang memutuskan untuk menaikkan produksi lebih cepat dari rencana semula. Mereka kini berencana menambah 411.000 barel per hari (bpd) ke pasar pada Mei, jauh lebih besar dari rencana awal yang hanya 135.000 bpd.

Faktor lainnya adalah putusan pengadilan Rusia yang menyatakan fasilitas ekspor terminal Laut Hitam milik Konsorsium Pipa Kaspia (CPC) tidak perlu ditangguhkan. Keputusan itu bisa mencegah penurunan produksi dan pasokan minyak Kazakhstan.

Minyak, gas, dan produk olahan tetap bebas dari tarif baru Trump, tetapi kebijakan ini tetap bisa memicu inflasi, memperlambat pertumbuhan ekonomi, dan memperburuk sengketa dagang, yang semuanya bisa membebani harga minyak.

Goldman Sachs pun memangkas proyeksi harga minyak untuk Desember 2025, masing-masing sebesar $5 menjadi $66 untuk brent dan $62 untuk WTI.

"Risiko terhadap proyeksi harga minyak kami yang telah dikurangi masih mengarah ke bawah, terutama untuk tahun 2026, mengingat meningkatnya risiko resesi dan pasokan OPEC+ yang lebih tinggi," kata Daan Struyven, Kepala Riset Minyak Goldman Sachs, dalam sebuah catatan kepada Reuters.

HSBC juga menurunkan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak global untuk tahun 2025, dari 1 juta bpd menjadi 0,9 juta bpd, dengan alasan tarif dan keputusan OPEC+.

Sementara itu, para manajer investasi meningkatkan posisi beli bersih (net long) pada kontrak berjangka dan opsi minyak mentah AS dalam sepekan hingga 1 April, menurut data dari Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS (CFTC) pada Jumat.

Lalu, berapa lama ini akan berlangsung? Jika tarif tetap diberlakukan dan memperlambat ekonomi global, bisa jadi kita akan kembali ke era harga minyak rendah berkepanjangan, situasi yang belum dihadapi industri sejak masa lockdown Covid-19.

Namun, tidak semuanya suram. Beberapa analis percaya tarif ini lebih banyak gertakan daripada tindakan nyata dan hanya strategi awal untuk memaksa mitra dagang memberikan konsesi. Jika benar begitu, harga minyak bisa pulih dengan cepat.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(mae/mae)

Read Entire Article
Photo View |