Badai Sentimen Datang, IHSG dan Rupiah Terancam Tersungkur Terus?

2 hours ago 5
  • Pasar keuangan Indonesia ambruk berjamaah pada akhir pekan lalu, rupiah dan IHSG jatuh dalam
  • Wall Street berakhir beragam tetapi secara bulanan menguat
  • Data ekonomi dalam dan luar negeri serta perkembangan perang masih akan menjadi penggerak pasar pekan ini

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri kompak ditutup melemah pada akhir perdagangan pekan lalu.  Rupiah dan pasar saham sama-sama ambruk di tengah masih tingginya ketidakpastian global.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih menghadapi tekanan pada hari ini dan sepanjang ke depan. Selengkapnya mengenai sentimen proyeksi pasar hari ini dan sepanjang ke depan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan cukup dalam pada perdagangan terakhir pekan lalu, Kamis (30/4/2026). IHSG ditutup di 6.956,80, turun 144 poin (-2,03%) dan menjadi titik terendah IHSG sepanjang tahun 2026. Bahkan, sejak awal tahun IHSG tercatat telah terkoreksi nyaris 20%.

Hanya 133 saham menguat, 576 saham melemah, dan 105 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp 21,88 triliun dengan volume perdagangan sekitar 48,20 miliar saham dalam lebih dari 2,66 juta kali transaksi.

Asing mencatat net sell sebesar Rp 1,49 triliun sehingga dalam sepekan total dana asing keluar menembus Rp 8,56 triliun.

Seluruh sektor perdagangan melemah, dengan koreksi paling dalam dicatatkan oleh infrastruktur, barang baku dan energi.

Bergeser ke pasar valas, nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (30/4/2026). Seiring respons pasar global terhadap keputusan bank sentral AS (The Fed) yang kembali menahan suku bunga.

Melansir Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan di level Rp17.305/US$ atau terdepresiasi 0,17%. Posisi ini sekaligus menjadi level penutupan terlemah baru rupiah sepanjang masa.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah sentimen dolar AS yang masih kuat di pasar global.

Dolar AS sempat naik ke level tertinggi dalam lebih dari dua pekan setelah The Fed memberi sinyal yang lebih hawkish dan harga minyak melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun.

Harga minyak Brent naik ke level tertingginya sejak Maret 2022. Kenaikan ini dipicu kekhawatiran gangguan pasokan setelah muncul laporan bahwa AS tengah mempertimbangkan aksi militer terhadap Iran untuk memecah kebuntuan dalam negosiasi gencatan senjata.

Sentimen tersebut datang bersamaan dengan keputusan The Fed yang mempertahankan suku bunga. Ketua The Fed Jerome Powell menutup delapan tahun masa kepemimpinannya dengan mempertahankan suku bunga di tengah kekhawatiran inflasi yang kembali meningkat.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melemah ke 6,829% pada Kamis pekan lalu, dari 6,95% pada hari sebelumnya. Melandainya imbal hasil menandai harga SBN yang tengah naik karena diburu investor.

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |