Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas ambruk 2% pada Senin seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang mendorong penguatan dolar AS serta memperkuat kekhawatiran inflasi, sehingga menjaga ekspektasi suku bunga tetap tinggi.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Senin (4/5/2026) ditutup di US$ 4520,40 per troy ons. Harganya ambruk 2,02%. Dalam dua hari terakhir, harga emas selalu melemah dan jatuh 2,2%.
Harga penutupan kemarin menjadi yang terendah sejak 30 Maret 2026 atau lebih dari sebulan.
Harga emas belum membaik pada hari ini. Pada Selasa (5/5/2026) pukul 06.36 WIB, harga emas ada di posisi US$ 4519,30 per troy ons atau melandai 0,02%.
"Berita terbaru jelas tidak memberi keyakinan bahwa situasi akan baik-baik saja, dan kembali memunculkan kekhawatiran inflasi, disertai sinyal kebijakan suku bunga yang cukup hawkish ke pasar," kata Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global di TD Securities, dikutip dari Refinitiv.
Iran menyerang sejumlah kapal di Selat Hormuz dan membakar pelabuhan minyak di Uni Emirat Arab, setelah upaya Presiden Donald Trump menggunakan Angkatan Laut AS untuk membuka jalur pelayaran justru memicu eskalasi terbesar sejak gencatan senjata empat minggu lalu.
Dolar AS menguat dan harga minyak Brent melonjak lebih dari 5%. Penguatan dolar membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Di sisi lain, lonjakan harga energi memperbesar kekhawatiran inflasi, sehingga memperkuat spekulasi bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Barclays menjadi salah satu dari sejumlah lembaga yang memperkirakan tidak akan ada pelonggaran kebijakan dari Federal Reserve tahun ini.
Pekan lalu, The Fed mempertahankan suku bunga dalam keputusan yang paling terpecah sejak 1992, di tengah kekhawatiran meningkatnya dampak harga energi terhadap ekonomi.
Data penting yang akan dirilis pekan ini mencakup lowongan kerja AS, laporan ketenagakerjaan ADP, serta laporan payroll April.
Meski emas berfungsi sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik, daya tariknya menurun dalam lingkungan suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil.
"Saya melihat level support kuat di sekitar US$4.200 untuk emas. Namun ketidakpastian dan potensi kenaikan suku bunga bisa mendorong sebagian trader keluar dari posisi dalam jangka pendek," tambah Melek.
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469088/original/050162300_1768056820-photo-grid_-_2026-01-10T214641.503.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5470160/original/093473700_1768198487-Web_Photo_Editor__7_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468304/original/037132200_1767946563-SnapInsta.to_610749735_18549996940061415_8535549228643964214_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5471422/original/000633700_1768286512-IMG_3417_1_.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5470425/original/077219800_1768205094-IMG_3373_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5466588/original/088902800_1767849017-downloadgram.org_332402203_1591030664710492_5944447955525017518_n.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5486757/original/019141800_1769602655-collage-1769596211664.png)

