Awas! Guru Besar Ini Warning Efek Perang Dagang Trump ke Ekonomi RI

20 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengenakan tarif resiprokal kepada Indonesia sebesar 32% bisa berimbas langsung terhadap ekonomi Indonesia. Ekonom senior yang juga merupakan Guru Besar Fakultas Ekonomi & Manajemen IPB Bogor dan Universitas Paramadina, Didin S Damanhuri juga mengingatkan bahwa dampak kebijakan tarif Trump ini akan membuat tekanan terhadap kurs rupiah dan IHSG.

"Dampaknya yang segera adalah akan terjadi depresiasi Rupiah yang kini pun sampai dengan Rp 16.700/US$ dan tidak mustahil dalam beberapa hari ke depan akan melampaui Rp 17.000/US$ serta entah sampai berapa dalam lagi depresiasi rupiah tersebut akan terjadi," ungkap dia dalam keterangannya, Rabu (3/4/2025).

Sementara itu Ekonom senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menekankan, langkah Trump akan berakibat pada perlambatan ekonomi yang masif. Ia menganggap, bis dipastikan IMF, World Bank, OECD dan berbagai lembaga internasional lainnya akan segera melakukan revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia.

Ia pun menilai, risiko investasi global akan semakin tinggi, sehingga attitude "fly to quality" kembali terjadi. Kondisi itu membuat investor merelokasi investasi ke alternatif yang lebih aman, seperti emas, surat utang pemeritah, dan aset berdenominasi hard currency.

"Ekonomi banyak negara akan terdampak, baik melalui transmisi perdagangan dan/atau investasi. Harga saham dunia akan semakin volatile dengan trend menurun, nilai tukar mata uang banyak negara pun akan menunjukkan perilaku yang sama," tegasnya.

Bagi Indonesia, Wijayanto menilai, pertumbuhan ekonomi akan terpengaruh dimana impian untuk tumbuh 5% tahun ini semakin tidak realistis. IHSG akan semakin volatile dan cenderung melemah, terutama untuk beberapa sektor berorientasi ekspor.

Sejalan dengan itu, rupiah akan tertekan dan cenderung melemah. Upaya refinancing utang dan utang baru sebesar Rp 800 triliun dan Rp 700 triliun di tahun ini menurutnya juga tidak akan mudah, selain kebutuhan akan return yang lebih menarik, Indonesia juga menghadapi ketidakpastian pasar yang semakin berat.

"Mengingat ekspor kita ke AS didominasi oleh produk industri padat karya (sepatu, TPT, produk karet, alat Listrik dan elektronik), maka tekanan PHK akan semakin kuat," tegasnya.

Terkait apa yang harus dilakukan pemerintah, Wijayanto berbeda pendapat dengan Fadhil yang mendorong langkah negosiasi. Sebab, ia mengingatkan, sebelum pengumuman kebijakan reciprocal tariff dilakukan, berbagai negara telah mencoba melakukan negosiasi, termasuk India, Vietnam dan Korea Selatan (Korsel) yang mempunyai lobbyist kuat di Washington DC. Tetapi mereka gagal total.

"Dalam konteks ini, upaya negosiasi bukan pilihan yang mungkin dilakukan, termasuk oleh Indonesia, paling tidak dalam 1-2 tahun ke depan. AS sedang dalam survival mod, apalagi kemampuan lobby kita sangat terbatas," paparnya.

Ia berpendapat, yang perlu dilakukan Indonesia dalam waktu dekat ada tujuh langkah, sebagai berikut:

  1. Indonesia perlu memperkuat cadangan devisa untuk menghadapi rally "perang mata uang" yang panjang. Kebijakan DHE perlu segera diterapkan dengan tuntas.
  2. Pemerintah perlu melakukan rekalibrasi APBN, program boros anggaran perlu dikurangi untuk memprioritaskan program jangka pendek yang berdampak langsung pada daya beli dan penciptaan lapangan kerja. Demand dari dalam negeri perlu distimulus untuk menggantikan demand dari LN yang berpotensi menurun.
  3. Pengetatan impor legal dan penghentian impor illegal secara total. Selain menciderai produsen dalam negeri, ini juga membuat negara kehilangan potensi pendapatan.
  4. Penguatan industri jasa keuangan, terutama Perbankan dan Pasar Modal, untuk mampu berperan sebagai shock absorber bagi semakin tingginya ketidakpastian ekonomi dunia.
  5. Pemerintah perlu segera mengeluarkan kebijakan komprehensif yang kongkrit dan realistis serta dinarasikan dengan baik. Berbagai kalangan masih belum melihat dengan jelas ke mana ekonomi negeri ini akan dibawa oleh Pemerintahan Prabowo.
  6. Memperkuat kerjasama perdagangan dan investasi dengan berbagai negara dengan memanfaatkan sentimen "perasaan senasib", termasuk dengan EU, ASEAN, India, Timur Tengah, bahkan Afrika dan Amerika latin.
  7. Membentuk tim negosiasi yang disiapkan untuk bernegosiasi dengan AS saat kondisi sudah memungkinkan.

"Kehandalan kepemimpinan Pak Prabowo dan soliditas kabinet diuji bukan oleh kondisi nyaman, tetapi oleh kondisi penuh gejolak seperti saat ini. Rakyat menunggu langkah brilliant Pak Prabowo dalam melakukan tujuh langkah menuju langit ketujuh," tegasnya.


(wur)

Saksikan video di bawah ini:

Video: Partai Demokrat Ingatkan Bahaya Tarif Trump

Next Article Dunia Makin Kacau, China Respons Perang Dagang Jilid II Trump

Read Entire Article
Photo View |